Koleksi

Flag Counter

Minggu, 03 Juni 2012

...Karena Pacaran Diajarkan


Apa yang ada dalam pikiran Sobat Muda  ketika membaca judul ini? Hmm.. mungkin ada yang memahami: “bahwa pacaran memang diajarkan, sehingga ya wajar banyak yang pacaran.” Sebagian yang lain berpikir, “Ooh.. pacaran itu diajarkan, jadi boleh-boleh saja melakukannya.” Selain itu ada lagi nggak? Opsi lainnya ini kayaknya nih: “karena pacaran diajarkan, maka memang itulah realitanya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, nggak perlu merasa khawatir dipermasalahkan. Toh, udah biasa dong ya.” BTW, kamu pilih jawaban yang mana dari ketiga pilihan tadi? Atau mungkin kamu punya jawaban sendiri ya. Baiklah. Kita langsung saja geber membahas masalah ini.
Bro en Sis, gaulislam edisi pekan ke 163 ini sengaja membahas tentang PACARAN. Tentu ada alasannya. Ketika saya ikut nyebarin gaulislam edisi cetak ke sekolah-sekolah. Eh, diralat, bukan ikut nyebarin, tapi nyebarin langsung. Kalo ikut kan berarti bareng teman-teman yang lain hehehe.. Iya, soalnya pekan kemarin kru distribusi pada nggak bisa semua. Ada yang kerja, ada yang lagi nyari kerjaan. Jadinya, editornya langsung deh yang turun tangan. Tapi, ada hikmahnya. Jadi seru obrolan bersama para guru di beberapa sekolah lho. Gini ceritanya.
Salah satunya ngobrol bareng Pak Solihin (lha ini emang namanya sama dengan saya, cuma emang beda ruh dan jasadnya, hehehe). Beliau adalah pengajar di SMKN 1 Bogor. Seru banget ngobrol sama beliau (bukan karena namanya sama dengan saya lho, tapi emang nyambung aja gitu). Nah, satu obrolan dengan beliau yang kemudian menjadi inspirasi saya dalam menulis artikel gaulislam edisi pekan ini adalah tentang pacaran.
Beliau menyayangkan dan juga mengeluhkan dengan banyaknya sikap remaja yang sudah menganggap BIASA dalam pergaulannya dengan lawan jenisnya. Sederhananya, pacaran atau gaul bebas sudah dianggap sebagai budaya tersendiri karena banyak yang melakukannya. Pacaran diajarkan dalam film, di sinetron, dalam iklan, dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah ada yang pacaran, di jalan-jalan raya banyak pelajar cowok-cewek yang gandengan tangan. Pulang sekolah jalan berdua nggak punya tujuan. Persis kayak truk gandengan nggak bawa muatan. Runtang-runtung nggak jelas juntrungan. Apalagi kalo pada bokek semua. Jadinya cuma jalan-jalan doang nggak pake acara jajan (backsound: jadi inget lagunya Iwan Fals yang 22 Januari itu, lho. Tapi diplesetkan dikit: “Jalan bergandengan tak pernah jajan-jajan”. Wakakakak…)
Obrolan kami santai dan cair. Karena sudah saling mengenal. Selain sering ketemu pas anter gaulislam untuk jatah SMKN 1 Bogor, juga saya beberapa kali mengisi acara talkshow remaja di sana. Seru lah pokoknya. Dari sini saya tambah yakin, bahwa mengemban amanah dakwah ini memang berat. Nggak semua orang mau dan sanggup melakukannya. Dakwah, bukan saja amar ma’ruf alias menyeru kepada kebaikan, tapi harus dilengkapi dengan nahi munkar (mencegah kemungkaran). Idealnya begitu. Tapi, biasanya kalo udah nahi munkar, kita kadang berani kadang tidak. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan.
Para guru di sekolah tidaklah cuek. Mereka juga tetap menjalankan amanahnya dalam mendidik dan membina murid-muridnya. Tapi, memang tugasnya perlu dibantu pihak lain. Mudah-mudahan keberadaan gaulislam bisa menjadi tandem dakwah yang keren di sekolah-sekolah. Ibarat dalam sepakbola, harus kompak antar pemain di semua lini. Kiper, bek, pemain sayap, dan striker. Kalo nggak kompak, main bola nggak seru. Permain sebagus apapun nggak bisa menjebol gawang lawan tanpa kerjasama. Tapi kalo udah kerjasamanya bagus, buktinya Irfan Bachdim dkk bisa membawa Indonesia menghabisi Malaysia dalam laga AFF Suzuki Cup 2010 pekan kemarin, dengan skor telak 5-1. Laos juga diterkam Firman Utina dkk dengan 6-0. Gooool! Gooool! (lho, kok jadi ngomongin sepakbola sih? Hehehe)
Ok. Sekarang balik lagi ke topik tentang pacaran. Saat ini, pacaran udah dianggap sebagai jalan suci menjalin kasih di antara para remaja. Tak sedikit pasangan yang sudah mengikat janji setia di antara mereka. Sepertinya, setelah mendapatkan status sebagai pacarnya si anu, seorang remaja berhak memamerkannya kepada teman lainnya dan ada kewajiban menjaga pasangannya. Minimal ngajak jalan-jalan dan ada waktu khusus ketemuan. Malah ada yang dikunjungi secara rutin (idih, WC kaleee).
Pacaran sehat, tetap maksiat
Obrolan dengan Pak Solihin masih berlanjut. Beliau mencontohkan bahwa ada anak sekolah yang ketika ditanya kenapa pacaran, jawabannya: “kami kan pacarannya sehat, Pak”. Weleh-weleh… udah bisa berdalil rupanya teman kita ini. Sehat menurut siapa? Lagian standar sehat dan nggak sehatnya apa sih? Kok kayaknya gampang banget mengklaim bahwa yang dilakukannya adalah pacaran sehat?
Mungkin, yang dimaksud pacaran sehat menurut para remaja yang mengklaimnya adalah: tanpa seks. Okelah, seks bebas atau berzina memang berbahaya dan dosa. Itu nggak sehat menurut syariat. Tapi, apa ada jaminan kalo orang yang pacarannya nggak sampe ngeseks bisa terus bertahan? Nggak juga kok. Sebab, kalo dilakukan PNDK alias Penelusuran Nafsu Dan Kekuatan, banyak remaja yang nggak tahan menahan nafsu. Justru karena nafsu makin kuat kalo udah ada kesempatan. Betul? Jadinya, yang tadinya “baik-baik” pun, berubah jadi “biadab” dan berperilaku bak hewan. Dasar bajigur! Naudzubillah min dzalik.
Maklum, soal nafsu dan kekuatan emang bisa mengalahkan akal sehat dan juga keimanan. Sebab, ketika keimanan yang cuma nyangkut di KTP itu, setan pun getol bergerilya dan menaburkan jerat-jerat dan mengobarkan hawa nafsu kepada mereka yang imannya kendor. Kalo udah gitu, setan tinggal jejingkrakan sambil diriingi irama kesesatan karena udah berhasil menjerumuskan manusia ke jurang nista karena akal sehat dan imannya terkubur hawa nafsu.
Benar adanya firman Allah Swt. (yang artinya): “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan-nya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jaatsiyah [45]: 23)
Dalam ayat yang lain, Allah Swt. menegaskan bahayanya zina. Seperti dalam firmanNya (yang artinya): “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Israa [17]: 32)
Bukti lain bahwa pacaran ini bisa menjerumuskan pelakunya kepada kemaksiatan yang lebih jauh lagi, yakni berzina, bisa dilihat dari maraknya pemberitaan di media massa. Banyak remaja putri yang dihamili pacarnya. Ada sih cowoknya yang kemudian menikahinya tapi nggak sedikit yang kabur sambil menghilangkan jejak. Bahkan pernah ada juga yang kirim SMS ke redaksi gaulislam untuk curhat soal itu dimana dirinya menurut pengakuannya via SMS udah nggak perawan lagi. Itu terjadi gara-gara pacaran yang memang akan berujung jadi kebablasan itu. Duh, pokoknya kasihan deh. Jadi, jangan coba-coba pacaran ya. Nggak sehat dan emang melanggar syariat.
Nikmat sesaat, sengsara selamanya
Rugi! Ya, rugi banget dan rugi berat kalo kita cuma ngejar kenikmatan sesaat tapi sengsara selamanya. Mereka yang terkategori gawat darurat dalam urusan parahnya mengendalikan hawa nafsu sering berbuat nekat. Hubungan seks yang cuma legal dilakukan sepasang suami-istri ternyata mereka berani melakukannya juga dengan pacarnya. Waduh, ini kan sangat berbahaya. Kalo nafsu udah di ubun-ubun, mereka suka lupa dengan norma apalagi dosa.
Ah, ini namanya nafsu kenceng, keimanan blong. Ya, susah ngeremnya. Duh, kondisi ini terasa kian berat bagi kita. Sebab, setiap tarikan napas kita sudah bercampur debu kemaksiatan. Mau nonton televisi, tayangan yang banyak muncul justru yang “gersang” alias “seger” merangsang. Mau baca tabloid, majalah, koran, juga kita rasanya pengen muntah karena disuguhi menu yang “itu-itu” aja. Utamanya di tabloid dan majalah “esek-esek”. Nyaris nggak ada pilihan bagi kita. Menurut Walter Lippman, bisa diistilahkan sebagai “pictures in our head”. Sebab, semua gambaran informasi itu ada di manapun dan diberikan dengan penguatan pesan seolah-olah itu benar dan harus diikuti. Informasi itu terbentuk di kepala setiap orang karena disampaikan secara gencar dan rutin di  berbagai media massa. Gawat! Jadi, karena semuanya begitu, maka jangan salahkan pem­baca dan pemirsa 100 persen, bila kemudian mereka berperilaku bejat. Para pengelola acara televisi, radio, internet dan pengelola bisnis majalah, koran, dan juga tabloid kudu bertanggung jawab juga (eh, negara juga dong).
Oke deh, hati-hati dengan pacaran ini. Lebih enak dan benar emang menikah. Kenapa? Karena dalam ikatan pernikahan yang sah kamu boleh sesukanya bermesraan dengan pasanganmu tanpa kudu merasa risih. Asmara yang mekar juga sudah jelas sasarannya. Rindunya bukanlah rindu yang terlarang. Bahkan cintanya adalah cinta yang suci-bersih dan tentunya semua yang dilakukan, asal sesuai dengan tuntunan syariat, so pasti halal. Ya, halal. Jadi, kalo pacaran adalah nikmat yang membawa mudharat, sementara menikah adalah nikmat dan sesuai syariat. Pilih mana? Orang cerdas pilih taat syariat. Betul?
Mungkin di antara kamu ada yang komentar: “Lha, kita masih remaja, kan belum dibolehkan nikah?” Gini aja, jadikan info ini sebagai bekal pemahaman, dan sekarang fokus belajar dan raih cita-citamu. Setuju? Akuur…!

Sabtu, 02 Juni 2012

ANGRY BIRD LAND SARKANNIEMI

Sobatmuda pasti sudah tau, bahwa di Cina ada sebuah wahana yang menyerupai game angry bird.
Namun sayang, karna ga ada ijin dari pihak Rovio...

Namun, kini para penggemar Angry Bird akan berbahagia. Karna Rovio bekerjasama dengan Sarkanniemi membuat wahana full tema Angry Bird yang bernama Angry Birds Land di Srknniemi Theme Park  Finlandia dibuka 8 Juni 2012.

Taman Bermain Angry Birds menempati area setengah hektare di dalam Taman Bermain Särkänniemi. Taman Bermain Angry Birds akan membuka 12 wahana dan atraksi petualangan, toko, dan stan makanan serta camilan, dan lainnya. Permainan yang pertama kali dibuka adalah Angry Birds Carousel yang bisa dinaiki anak-anak dan orang dewasa.

Untuk dapat merasakan permainan tersebut, biaya yang dikenakan sebesar 19 sampai 35 Euro (sekira Rp240 ribu hingga Rp425 ribu). Biaya tersebut sudah termasuk tiket masuk ke Särkänniemi dan masuk ke Taman Bermain Angry Birds.

"Area ini tentu saja harus didatangi para pencinta Angry Birds, tapi juga sangat menarik bagi orang-orang yang belum terlalu familiar dengan permainan ini," kata Miikka Seppala, Kepala Taman Sarkanniemi, seperti dikutip CNNGo, Jumat (4/5/2012).
















Jumat, 01 Juni 2012

“Eek Goreng” Kopi Luwak


"Kopi Luwak" yang baru keluar dari dubur Luwak


Dulu pernah ada tebak-tebakan di sebuah acara radio di Magelang.
Penyiar A: “Hayo, kenapa Bebek Goreng itu kok enak?”
Penyiar B: “Sebab dagingnya empuk. Kulitnya gurih!”
Penyiar A: “Bener, ning kurang pas.”
Penyiar B: “Lha terus apa?”
Penyiar A: “Bebek Goreng itu enak sebab ada ‘b’nya.”
Penyiar B: “Lha kok?”
Penyiar A: “Coba kalau nggak ada ‘b’nya, jadinya Eek Goreng, ya tho. Enak ora?”
Penyiar B: “Gundulmu!”
Itu dulu. Sekarang Eek Goreng banyak yang nyari. Harganya mungkin tambah mahal sejak difatwa halal oleh MUI! Eek goreng yang mana? Itu lho, biji kopi luwak yang ada di eeknya luwak. Setelah dibersihkan, dijemur, digoreng (sangrai), ditumbuk, dipisahkan kulitnya, diseduh dengan air panas, terus diminum. Uenak tenan! Kata yang pernah nyicipin eek goreng model ini.
Sebenarnya saya ogah komentar soal eek goreng model ini. Dikomentari atau tidak, toh yang menikmati eek goreng ini hanya segelintir orang yang duitnya tebel. Tapi, karena khawatir fatwa ini menjadi preseden peng-halal-an eek-eek yang lain, maka mau tidak mau saya kudu komentar membantah kekeliruan-kekeliruan yang berujung pada kesimpulan kopi luwak itu jadi halal.
Pengibaratan mutanajis yang salah
Komisi Fatwa MUI berusaha membuat opini bahwa biji kopi yang dimakan luwak tidak terpengaruh apapun dalam perjalanannya dari mulut, pencernaan hingga keluar dari dubur luwak. Kekerasan kulit biji kopi diibaratkan dengan kekerasan cincin emas atau berlian. Lalu dimunculkan pertanyaan yang pasti sudah diketahui masyarakat jawabannya. ”Jika cincin emas tertelan oleh manusia, lalu keluar melalui dubur. Apakah cincin emas itu jadi najis atau mutanajis (hanya terkena najis)?” Tentu orang awam pun akan menjawab cincin itu mutanajis. Masalahnya adalah pengibaratan yang dipakai itu salah.
Pertama, cincin emas, berlian adalah benda-benda dengan kekerasan sangat tinggi yang tidak terpengaruh sedikitpun oleh proses pencernaan manusia. Masuk emas keluar emas. Hanya dengan panas yang sangat tinggi emas apalagi berlian bisa terpengaruh dan leleh. Suhu tubuh manusia tidak akan mempengaruhi emas dan berlian. Sehingga ketika masuk pencernaan dan terkena kotoran manusia, emas dan berlian terkategori mutanajis.
Kedua, cincin emas dan berlian bukanlah benda-benda yang menjadi makanan luwak. Silakan taruh cincin emas atau berlian di depan luwak. Apakah ia akan memakannya? Tapi coba taruh anak ayam di depan luwak. Langsung dia santap! Nah, tulang-tulang ayam yang keluar dari dubur luwak (jika ada) bisa dijadikan pengibaratan dengan biji kopi yang tidak tercerna. Menurut anda, tulang ayam itu najis atau mutanajis?
Rasa dan aroma kopi Luwak berubah
Saya tidak pernah mencicipi kopi luwak. Tapi menurut orang-orang yang pernah mencicipinya, rasa kopi luwak uenak tenan! Rasanya beda dengan kopi biasa. Aromanya juga lebih harum. Apakah karena kopinya hanya dari kopi yang masak yang kulit buahnya berwarna merah? Tentu tidak. Kopi luwak jadi beda rasanya karena mengalami proses fermentasi dalam perut luwak. Walaupun tidak tercerna dan melewati perut luwak hanya sebentar, biji kopi sebelum masuk ke mulut dan pencernaan luwak berbeda rasanya dengan biji kopi yang keluar dari dubur luwak. Biji kopi yang keluar dari dubur luwak ini aromanya lebih harum (seperti harum daun pandan), rasanya lebih pahit dan lebih asam. Begitu kata yang pernah nyicipin kopi luwak. Kira-kira Komisi Fatwa MUI ikut nyicipi kopi luwak nggak ya? Nah, menurut anda, jika rasa dan aroma biji kopi telah berubah, apakah hanya mutanajis atau sudah najis? Tentu saja sudah menjadi feces alias eek alias tahi yang terkategori najis.
Biji yang tumbuh dari eek binatang
Opini lain yang dikembangkan oleh Komisi Fatwa MUI adalah ”jika biji yang keluar dari perut binatang itu bisa tumbuh, maka biji itu tidak najis”. Wow!
Opini ini tentu akan jadi bahan tertawaan orang-orang pertanian. Bocah angon (anak gembala) sekalipun akan geli mendengarnya. Kenapa? Karena banyak sekali biji-biji tumbuhan yang dimakan oleh burung atau mamalia, kemudian dikeluarkan melalui dubur binatang-binatang itu, justru lebih mudah tumbuh. Kenapa lebih mudah tumbuh? Karena pencernaan binatang-binatang itu memang diciptakan Allah sang Maha Pencipta untuk memecah dormansi biji-biji sehingga menjadi benih-benih yang siap tumbuh ketika keluar dari dubur binatang. Itulah sebabnya burung-burung dan mamalia (termasuk luwak) banyak menjadi penyebar alami bagi tumbuhan. Sekali-kali jika anda jalan-jalan ke desa dan bertemu dengan eek sapi (dalam bahasa Jawa disebut tlethong), cobalah perhatikan, dalam lima hari adakah di antara eek-eek itu tumbuh biji rerumputan? Sayangnya biji-biji di tlethong itu harganya murah. Coba kalau sangat mahal, mungkin akan difatwa halal (oleh kapitalis dan antek-anteknya).
Luwak alias musang
Di masyarakat Surabaya luwak alias musang ini memiliki image yang kurang baik. Kalau ada orang yang meledek temennya, dia memakai ungkapan: “Ooo… raimu kaya luwak!” (wajahmu seperti musang). Secara umum di masyarakat Indonesia pun, luwak atau musang sering dianggap sebagai hewan pencuri. Kalau ada ayam hilang, biasanya hewan yang lincah dan aktif di malam hari ini langsung jadi tertuduh. Sebutan “musang berbulu domba” dipakai untuk penjahat yang pura-pura baik pada kita.
Kehalalan mamalia liar pemakan aneka buah dan hewan kecil ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian menghukuminya halal berdasar hadits: Dari Ibnu Abi Ammar berkata: ”Aku pernah bertanya kepada Jabir tentang musang, apakah ia termasuk hewan buruan?” Jawabnya: ”Ya”. Lalu aku bertanya: ”Apakah boleh dimakan?” Beliau menjawab: ”Ya”. Aku bertanya lagi: ”Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah saw?” Jawabnya: ”Ya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan an-Nasa’i). Sebagian lagi menghukuminya haram dikonsumsi berdasarkan hadits: Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: ”Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan.” (HR. Muslim dan Tirmidzi). Wallaahu a’lamu.
Haram menjual kopi Luwak
Asy-Syaikh Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, seorang mujtahid yang tinggal di Indonesia,  menegaskan bahwa biji kopi yang keluar dari dubur luwak adalah najis sebagaimana najisnya biji-biji yang tidak tercerna yang keluar dari dubur manusia.
Sekedar mengingatkan, bahwa kotoran binatang alias eek hewan adalah najis sebagaimana kotoran manusia.
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Nabi saw pergi ke tempat buang air besar, lalu beliau memerintahkanku agar membawa tiga buah batu. Aku temukan dua buah batu, dan aku mencari yang ketiga, tetapi aku tidak menemukannya. Kemudian aku mengambil tahi kering, lalu aku berikan kepada beliau. Beliau mengambil dua buah batu dan membuang tahi tersebut, dan beliau bersabda: ”Sesungguhnya ini adalah najis.” (HR. Ahmad, Bukhari, Tirmidzi, dan Nasa’i)
Dari pemahaman saya terhadap biji kopi, proses fermentasi dalam pencernaan luwak, adanya lendir harum di sekitar dubur luwak, perubahan rasa dan aroma biji kopi yang keluar dari dubur luwak, maka saya menyimpulkan bahwa kopi luwak termasuk kotoran luwak, sehingga terkategori najis dan bukan mutanajis.  Oleh karena itu haram juga penjualannya.
Rasulullah saw bersabda: “Dan sesungguhnya Allah apabila mengharamkan suatu kaum untuk memakan sesuatu, maka haram pula bagi mereka hasil penjualannya.” (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud)
Jadi juallah kopi yang tidak keluar dari binatang. Insya Allah tetap enak, barakah, dan pasti halal. Halal kopinya, halal duitnya.
Biarlah untuk  makanan jin
Tak ada yang sia-sia apa yang diciptakan Allah. Kotoran Luwak, termasuk di dalamnya biji-biji kopi luwak, akan menjadi makanan bagi makhluq Allah yang lain, yaitu Jin.
Dari Abu Hurairah, bahwa ia pernah membawakan bejana Nabi saw untuk wudhu` dan bersuci. Tetapi tiba-tiba waktu ia mengikuti Nabi saw tersebut, Nabi saw bertanya: ”Siapa ini?” Abu Hurairah menjawab: ”Aku Abu Hurairah.” Lalu Nabi saw bersabda: ”Carikan aku batu-batu untuk aku pakai bercebok, tetapi jangan engkau membawakan tulang dan kotoran untukku.” Lalu aku memberikan kepada Nabi saw batu-batu yang aku membawanya dengan ujung bajuku, sehigga kuletakkan di samping beliau. Kemudian kutinggal pergi. Ketika beliau selesai (buang air) aku datang kepada beliau. Kemudian aku bertanya: ”Mengapa tulang dan kotoran itu tidak boleh?” Nabi saw menjawab: ”Keduanya adalah makanan jin. Dan sungguh utusan jin datang kepadaku yang berpangkat – mereka itu adalah sebaik-baik jin – lalu mereka minta bekal kepadaku, kemudian aku memohon kepada Allah untuk mereka kiranya mereka tidak melewati tulang-tulang dan kotoran melainkan mesti mereka mendapatkan makanan pada kedua benda tersebut.” (HR Bukhari)
Penutup
Kekeliruan Komisi Fatwa MUI terletak pada pemahamannya tentang objek hukum, dalam hal ini biji kopi yang keluar dari dubur luwak, yang berujung pada kekeliruan menghukumi objek tersebut. Semoga tulisan ini ikut membuka cakrawala pengetahuan kita tentang biji-bijian yang tidak tercerna oleh binatang tapi mengalami perubahan, baik rasa, aroma, maupun pecahnya dormansi pembenihannya.
Dari media massa saya peroleh berita, fatwa halal-tidaknya kopi luwak ini diminta oleh sebuah perusahaan perkebunan di Jawa Timur dan Jawa Barat. Mudah-mudahan Komisi Fatwa MUI atau anggota-anggotanya tidak menerima uang sepeser pun dari siapa saja yang mendapat keuntungan dengan dihalalkannya kopi luwak ini.
Mudah-mudahan masih ada ulama yang jujur, berhati-hati dalam berfatwa, dan tidak menipu masyarakat dengan argumentasi-argumentasi yang dibuat-buat. Semoga Allah SWT menampakkan kepada kita mana yang benar dan mana keliru, karena hanya Dialah yang tahu hakekat segala sesuatu. Amin.

Sumber: http//:mediaislamnet.com