Koleksi

Flag Counter

Selasa, 14 Januari 2014

Senin, 12 Rabi’ul Awwal (Bagian Kedua)



Oleh Umar Abdullah
SENIN 12 RABI’UL AWWAL TAHUN 1 H RASULULLAH SAW SECARA DE FACTO MENJADI KEPALA NEGARA
Setelah secara de Yure Rasulullah saw menerima kepemimpinan Madinah sebagai Kepala Negara Islam pertama melalui Bai’atul Aqabah kedua, maka langkah selanjutnya yang akan dilakukan Rasulullah adalah menyiapkan masyarakat Islam di Madinah yang akan membangun peradaban Islam.
Kaum muslimin dari suku Aus dan Khazraj di Madinah adalah kelompok masyarakat Islam yang siap menerapkan Islam di Madinah dan menjaga Rasulullah saw. Inilah yang disebut kaum Anshar (kaum penolong).
Kelompok kedua yang disiapkan untuk menerapkan Islam dan menjaga Rasulullah saw adalah kaum muslimin dari Makkah yang sudah diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk berhijrah ke Madinah. Kelompok inilah yag dinamakan kaum Muhajirin (kaum yang berhijrah).
Tinggal Rasulullah saw dan Abu Bakar dan sedikit kaum muslimin Makah yang belum berhijrah. Posisi Rasulullah saw sebagai kepala negara Islam tentu saja menjadi ancaman besar bagi Kafir Quraisy. Karena itu mereka berusaha membunuh Rasulullah. Rasulullah pun menyadari hal itu.
Rasulullah begitu kuat menyimpan rahasia kapan Rasulullah berhijrah. Lewat jalur mana rute beliau ke Madinah, berhenti di mana saja dan dengan siapa beliau akan melakukan perjalanan berbahaya tersebut.
Nabi Berhijrah
Rasulullah saw pun memulai manuvernya. Malam itu rumah beliau sudah dikepung para pemuda Quraisy yang akan membunuh beliau.
Beliau membisikkan kepada Ali b. Abi Talib supaya memakai mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di tempat tidurnya untuk mengelabui para pemuda itu yang mengintip ke tempat tidur Nabi dari sebuah celah.
Menjelang larut malam, Rasulullah saw keluar dari rumah beliau dan menaburkan pasir ke kepala para pemuda tsb sambil membacakan
Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
(TQS. Yasin [36]: 9)
Rasulullah pun lolos dari penglihatan para pemuda tsb dan menuju ke rumah Abu Bakr.
Kedua orang tersebut kemudian menempuh jalur yang diluar dugaan, yaitu ke selatan terlebih dahulu, yakni ke Gua Tsur dan menginap di dalamnya selama tiga hari.
Tiada seorang pun yang mengetahui tempat persembunyian mereka dalam gua itu selain Abdullah, Asma, dan Aisyah ketiganya putra dan putri Abu Bakar, serta pembantu mereka ‘Amir b. Fuhaira. Tugas Abdullah hari-hari berada di tengah-tengah Quraisy sambil mendengar-dengarkan permufakatan mereka terhadap Muhammad, yang pada malam harinya kemudian disampaikannya kepada Nabi dan kepada ayahnya. Sedang ‘Amir tugasnya menggembalakan kambing Abu Bakr’ sorenya diistirahatkan, kemudian mereka memerah susu dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah b. Abi Bakr keluar kembali dari tempat mereka, datang ‘Amir mengikutinya dengan kambingnya guna menghapus jejaknya.
Hampir saja Rasulullah saw dan Abu bakar ash-Shddiq ditemukan, ketika kafir Quraisy menuju gua tersebut.
Setelah terasa oleh Abu Bakr bahwa mereka yang mencari itu sudah mendekat ia berkata dengan berbisik: “Kalau mereka ada yang menengok ke bawah pasti akan melihat kita.”
“Abu Bakr, kalau kau menduga bahwa kita hanya berdua, ketiganya adalah Allah,” kata Rasulullah.
Rasulullah makin sungguh-sungguh berdoa dan Abu Bakr juga makin ketakutan. Ia merapatkan diri kepada kawannya itu dan Muhammad berbisik di telinganya:
Laa tahzan Allaahu ma’anaa
(“Jangan bersedih hati. Allah bersama kita.”)
Allah pun memberikan pertolongan-Nya. Allah memerintahkan laba-laba menganyam sarang di lubang gua. Memerintahkan dua ekor burung dara hutan membuat sarang dan bertelur di lubang gua itu. Memerintahkan pohon tumbuh dan menjuntaikan cabangnya menutupi jalan ke lubang gua.
Kepercayaan dan iman Abu Bakr bertambah besar kepada Allah dan Rasul-Nya.
“Alhamdulillah, Allahuakbar!” kata Rasulullah kemudian.
Tentang hal ini Allah SWT berfirman:
“Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy) itu berkomplot membuat rencana terhadap kau, hendak menangkap kau, atau membunuh kau, atau mengusir kau. Mereka membuat rencana dan Allah membuat rencana pula. Allah adalah Perencana terbaik.” (TQS. 8: 30)
Juga firman Allah:
“Kalau kamu tak dapat menolongnya, maka Allah juga Yang telah menolongnya tatkala dia diusir oleh orang-orang kafir (Quraisy). Dia salah seorang dari dua orang itu, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu itu ia berkata kepada temannya itu: ‘Jangan bersedih hati, Tuhan bersama kita!’ Maka Tuhan lalu memberikan ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya dengan pasukan yang tidak kamu lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu juga yang rendah dan kalam Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Kuasa dan Bijaksana.” (TQS. 9: 40)
Demikianlah, jika kita menolong agama Allah, Allah pun akan menolong kita. Yakin itu!
Berangkat Ke Yathrib
Pada hari ketiga, Rasulullah saw, Abu Bakar, dan Abdullah bin ‘Uraiqit, seorang yang disewa sebagai penunjuk jalan, mulai menempuh perjalanan ke Yatsrib (nama kota sebelum berubah menjadi Madinah). Mereka bertiga menaiki unta.
Rute yang ditempuh di luar dugaan, yaitu rute yang tidak biasa ditempuh orang. Mereka ke arah selatan di bawahan Mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai Laut Merah.
Pengejaran Suraqa bin Ju’syum
Sebenarnya ada juga Kafir Quraisy yang berhasil menyusul Rasulullah saw dan Abu bakar. Namanya Suraqah b. Ju’syum. Tiga kali kudanya tersungkur. Sehingga ia ketakutan sendiri jika meneruskan rencana menangkap Rasulullah dan Abu Bakar.
Rasulullah dan Abu Bakar dan penunjuk jalannya kini berangkat lagi melalui pedalaman Tihama dalam panas terik yang dibakar oleh pasir sahara. Mereka melintasi batu-batu karang dan lembah-lembah curam. Dan sering pula mereka tidak mendapatkan sesuatu yang akan menaungi diri mereka dari letupan panas tengah hari dan berlindung dari kekerasan alam yang ada di sekitarnya, Tak ada keamanan, selain dari ketabahan hati dan iman yang begitu mendalam kepada Allah.
Selama tujuh hari terus-menerus mereka dalam keadaan serupa itu. Mengaso di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan padang pasir.
Sampai di Banu Sahm
Ketika kedua orang itu sudah memasuki daerah kabilah Banu Sahm dan datang pula Buraida kepala kabilah itu menyambut mereka, barulah perasaan khawatir dalam hatinya mulai hilang. Yakin sekali mereka pertolongan Tuhan itu ada. Jarak mereka dengan Madinah kini sudah dekat sekali.
Muslimin Medinah Menantikan Kedatangan Rasul
Kaum Muslimin di Madinah menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh rindu. Ingin melihat dan mendengarkan tutur kata beliau. Banyak di antara mereka itu yang belum pernah melihat beliau, meskipun sudah mendengar tentang keadaan dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali ingin bertemu.
Betapa memuncaknya kerinduan penduduk kota itu ingin menyambut kedatangan Rasulullah, setelah mereka mengetahui beliau sudah hijrah dari Mekah. Setiap hari selesai shalat Subuh mereka pergi ke luar kota menanti-nantikan kedatangannya sampai pada waktu matahari terbenam dalam hari-hari musim panas.
Pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 13 Kenabian atau tahun 1 H bertepatan dengan 23 September 622 M  Rasulullah dan Abu Bakar sudah tiba di Quba’ - dua farsakh jauhnya dari Medinah. Di Quba` Rasulullah disambut oleh kaum muslimin di sana. Rasulullah saw datang sebagai kepala negara islam pertama secara de facto.
Empat hari beliau tinggal di tempat itu, ditemani oleh Abu Bakr. Selama masa empat hari itu mesjid Quba’ dibangunnya.
Kemudian datang pula Ali b. Abi-Talib ke Quba setelah mengembalikan barang-barang amanat – yang dititipkan kepada RAsulullah – kepada pemilik-pemiliknya di Mekah.
Rasulullah Memasuki Medinah
Pada hari Jum’at tanggal 16 Rabi’ul Awwal tahun 1 H bertepatan dengan 27 September 622 M, Rasulullah saw dan rombongan tiba di Madinah dan shalat jumat di mesjid yang terletak di perut Wadi Ranuna. Kaum Muslimin masing-masing berusaha ingin melihat serta mendekati beliau. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini belum pernah mereka lihat, hati yang penuh cinta, rangkuman iman akan risalahnya, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali shalat.
Seluruh penduduk Yathrib, baik kaum muslimin, Yahudi maupun orang-orang pagan, menyaksikan adanya hidup baru yang bersemarak dalam kota mereka itu, menyaksikan kehadiran seorang pendatang baru, orang besar yang telah mempersatukan Aus dan Khazraj, yang selama itu saling bermusuhan, saling berperang.
Inilah transisi sejarah yang akan mengubah sejarah dunia. Rasulullah kemudian memulai sejarah peradaban Islam dengan mendirikan masjid yang dikenal dengan nama Masjid Nabawi.
Demikianlah hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 1 H adalah awal Rasulullah secara de facto menjadi kepala negara Islam pertama.

Senin, 13 Januari 2014

Senin, 12 Rabi’ul Awwal (Bagian Pertama)


Oleh Umar Abdullah

Bukanlah sebuah kebetulan jika hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal menjadi hari dan tanggal yang bersejarah bagi umat Islam. Pada hari dan tanggal ini terjadi tiga peristiwa penting: Rasulullah saw lahir ke dunia, Rasulullah saw menjadi kepala negara, dan Rasulullah saw meninggal dunia. Tulisan kali ini sekedar untuk mengingatkan kita semua bahwa tanggal 12 Rabi’ul Awwal tidak sekedar tanggal lahirnya Rasulullah saw, tetapi ada dua peristiwa yang juga sangat penting untuk diperingati, yaitu Rasulullah saw menjadi kepala negara yang menandai awal dibangunnya peradaban Islam, dan meninggalnya Rasulullah saw yang menandai era pemerintahan Islam sepeninggal beliau. Selamat mengikut tiga bagiannya.
SENIN, 12 RABI’UL AWWAL TAHUN GAJAH RASULULLAH LAHIR KE DUNIA
Nasab dan Masa Kecil Muhammad saw
Muhammad saw memiliki Nasab yang terhormat. Beliau putra Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Mu’ad bin ‘Adnan bin Ismail bin Ibrahim al-Khalil as.
Dari jalur ibu, Muhammad saw adalah putra Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr.
Demikianlah, dari jalur ayah dan ibu, Muhammad saw adalah keturunan Adam as yang paling mulia nasabnya.  Bagaimana pun hal ini berpengaruh pada seruan terhadap Islam. Mayoritas masyarakat Arab tidak menemukan cacat pada nasab Rasulullah saw. Bagaimanapun, hal ini membantu menciptakan kepercayaan masyarakat kepada beliau.
Muhammad saw adalah keturunan dari dua orang yang disembelih. Dua orang itu adalah Ismail bin Ibrahim dan Abdullah bin Abdul Muththalib.
Ismail adalah putra Ibrahim as. Allah SWT memerintahkan Ibrahim as agar menyembelih Ismail putranya. Ketika Ibrahim as melaksanakan perintah-Nya maka Allah SWT menggantinya dengan sembelihan yang besar. Dari Ismail inilah lahir nasab Rasulullah saw.
Adapun Abdullah adalah putra Abdul Muthalib. Ketika Abdul Muthalib kakek Rasululah saw hendak membuka Zamzam, Abdul Muthablib bernadzar, kalau dia dikaruniai sepuluh orang anak dan semuanya hidup, maka dia akan menyembelih salah satu dari mereka untuk Allah di sisi Ka’bah. Ketika dia benar-benar dikaruniai sepuluh orang anak, dia beritahukan kepada mereka tentang nadzarnya dan ia mengajak mereka agar menepati nadzarnya tsb. Mereka pun menaatinya.
Maka diundilah sepuluh anak itu dengan dadu yang telah ditulisi nama masing-masing anak. Setelah dikocok, keluarlah dadu atas nama Abdullah. Abdul Muthalib pun menggandeng tangan Abdullah dan mengambil parang, kemudian membawa Abdullah ke Patung Isaf dan Nailah untuk disembelih. Namun orang-orang Quraisy mencegahnya. Mereka menyarankan agar Abdullah ditebus dengan harta. Mereka menyarankan agar Abdul Muthalib pergi ke dukun wanita di Hijaz meminta pemecahan persoalannya. Oleh dukun tsb Abdullah disarankan untuk mengganti Abdullah dengan 10 ekor unta jika nanti yang keluar dadu atas nama Abdullah dan menambahnya 10 ekor unta lagi jika masih keluar dadu nama Abdullah. Dan seterusnya hingga keluar dadu atas nama unta.
Demikianlah saran dari dukun itu dijalankan. Hingga sepuluh kali dadu dikocok tetap keluar dadu atas nama Abdullah, hingga unta yang menjadi tebusan berjumlah 100 unta. Pada kocokan ke-11 keluarlah dadu atas nama unta. Orang-orang Quraisy yang hadir di tempat itu berkata: ”Cukup! Tuhanmu telah ridha wahai Abdul Muthalib.” Namun Abdul Muthalib berkata, ”Tidak, demi Allah, aku tidak akan berhenti sehingga aku memukul kotak dadu ini tiga kali.” Maka dipukullah kotak dadu tadi dua kali lagi, Namun yang keluar tetap dadu atas nama unta. Maka seratus unta itu pun disembelih, dan manusia dibiarkan bebas mengambilnya.
Demikianlah cara orang-orang Quraisy menjaga Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Muhammad saw. Allah menyelamatkannya dari penyembelihan. Kelak, orang-orang Quraisy merasakan nikmat kehadiran Muhammad putra Abdullah.
Abdullah yang selamat dari penyembelihan tumbuh menjadi remaja. Abdullah adalah pemuda yang tampan. Banyak gadis-gadis Qurasiy yang ingin menawarkan diri menjadi istrinya, namun Abdullah menolaknya. Abdul Muthalib kemudian melamar Aminah binti Wahab untuk menjadi istri Abdullah. Abdul Muthalib pergi bersama Abdullah ke rumah Wahab bin Abdu Manaf. Saat itu Aminah merupakan gadis termulia di Bani Zuhrah. Wahab din Abdu Manaf adalah orang yang paling baik nasabnya dan paling terhormat. Ia menikahkan Abdullah dengan Aminah putrinya. Saat menikah umur Abdullah delapan belas tahun.
Tak berapa lama menikah, Aminah mengandung. Orang-orang berkata – dan hanya Allah yang mengetahui- bahwa Aminah binti Wahab ibunda Rasulullah saw berbicara tentang dirinya, ketika ia mengandung Rasulullah saw ia bermimpi didatangi seseorang. Kemudian orang tersebut  berkata kepadanya, ”Sesungguhnya engkau mengandung pemimpin umat ini. Jika engkau melahirkannya, ucapkanlah, ’Aku meminta perlindungan kepada Allah yang Maha Esa dari keburukan semua pendengki, dan berilah nama ia Muhammad.”
Ketika Aminah mengandung Rasulullah dia melihat cahaya keluar dari perutnya dan dengan sinar tersebut ia bisa melihat istana-istana Busra di Syam.
Abdullah pergi bersama rombongan pedagang Quraisy ke negeri Syam. Ketika dalam perjalanan pulang ke Makkah, Abdullah wafat di Madinah dan dimakamkan di sana di samping makam paman-pamannya dari Bani ’Adi bin Najjar. Ketika Abdullah wafat, Muhammad dalam kandungan Aminah baru berumur dua bulan.
Muhammad saw lahir pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah. Dalam perhitungan kalender masehi tahun gajah bertepatan degnan tahun 570 M. Tahun tersebut dikenal sebagai Tahun Gajah (‘aamul fiil), karena pada tahun tersebut Ka’bah diserang tentara gajah Abrahah, seorang Gubernur Byzantium dari Yaman,  yang ingin menghancurkan Ka’bah. Namun Allah Swt, pemilik Ka’bah, menjaganya. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam al-Qur`an surat al-Fiil
A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim. Bismillaahir rahmaanir rahiim
A lam taro kaifa fa’ala rabbuka bi ashhaabil fiil
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah.
A lam yaj ‘al kaida hum fii tadhliil
Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan (Ka’bah) itu sia-sia?
Wa arsala ‘alaihim thairan abaabil
dan Dia mengirimkan kepada mereka burung-burung yang berbondong-bondong
Tarmiihim bi hijaaratin min sijjil
Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar
Fa ja ‘alahum ka ashfin ma’kul
lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)
Setelah melahirkan Muhammad, Aminah sang ibu menemui Abdul Muthalib, kakek Muhammad saw dan berkata, ”Telah lahir anak lelaki untukmu, untuk itu datang dan lihatlah ia.”
Ketika Abdul Muthalib datang dan melihat, Aminah bercerita kepada Abdul Muthalib tentang apa yang dialaminya di saat mengandung Muhammad saw serta apa yang dikatakan dan diperintahkan kepada dirinya, agar ia memberi nama bayinya dengan nama Muhammad.
Allah menjaga nama Muhammad dari kepopuleran. Sehingga tidak satu pun orang yang bernama Muhammad, kecuali beberapa orang di saat menjelang lahirnya Nabi saw. Pada saat itu ada enam orang anak yang bernama Muhammad, yaitu: Muhammad bin Ashbahah, Muhmmad bin Maslamah, Muhammad bin Barra’, Muhammad bin Sufyan, Muhammad bin Hamran, dan Muhammad bin Khuza’ah. Sebab di dalam kitab-kitab samawi dikabarkan bahwa nabi yang ditunggu-tunggu itu bernama Muhammad. Sehingga mereka oleh orang tuanya dinamai Muhammad agar anaknya kelak menjadi nabi yang selama ini mereka tunggu. Allah menjaga keenam anak yang bernama Muhammad tersebut untuk tidak mengaku sebagai nabi.
Abdul Muthalib kemudian mengambil bayi yang baru lahir itu. Lalu dia masuk ke dalam Ka’bah. Di dalam Ka’bah ia berdiri sambil berdoa dan bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan kepadanya. Tidak lama kemudian, dia keluar dan menyerahkan kembali bayi itu kepada ibunya.

Minggu, 12 Januari 2014

MEWASPADAI ALIRAN AKI (AMANAT KEAGUNGAN ILAHI)

Tiba2 ada inbox dari temen, kalau di lingkungan.a terjangkit aliran sesat "AKI". Karena baru tau, cari2 deh di GOOGLE.COM. dan ada 1 artikel ini. 

selamat membaca.




MEWASPADAI ALIRAN AKI (AMANAT KEAGUNGAN ILAHI)
Sekarang muncul dipermukaan aliran Amanah Keagungan Ilahi [AKI] aliran ini mencoba menggabungkan semua agama sehingga anggotanya berasal dari berbagai agama. Sebenarnya aliran ini sudah dibekukan oleh Kepala Kejaksaan Tinggi jawa Barat nomor : R.538/P2.3/Dsb.1/11/1993 bahkan KAJATI Jabar pada poin no 9 dalam surat tersebut menyatakan “ Dengan munculnya kembali ajaran Aliran “ Amanah Keagungan Ilahi [AKI] yang disebarkan oleh Moch. Syamsu beserta para pengikutnya, dengan ini diminta kepada Kajari yang belum melarang aliran tersebut agar mengambil langkah-langkah yang mengarah kepada pelarangan/pembekuan”


Amanah Keagungan Ilahi [AKI] adalah suatu ajaran yang dikembangkan oleh Moch. Syamsu atau dikenal dengan panggilan Aki Syamsu, pada tahun 1979 Moch. Syamsu mengembangkan Aliran Kepribadian di Jawa barat yang pada saat itu Moch. Syamsu berdomisili di Bandung, Aliran Kepribadian yang dikembangkan oleh Moch. Syamsu ternyata mencampur adukan antara beberapa agama/kepercayaan bahkan melakukan  praktek ajaran Aliran Kepribadian secara bersama-sama antara pemeluk Agama Islam dengan agama/kepercayaan lainnya, Kajati Jabar telah melarang Aliran Kepribadian diseluruh jawa barat berdasar SK nomor : Kep-45/K2.3/12/1979 tanggal 4 Desember 1979.

Pada tahun 1982 Moch. Syamsu pindah ke kab. Serang dan disana mengembangkan ajaran Taqwa yang ajarannya sama dengan ajaran Aliran Kepribadian, dan Kajari Serang  melarang aliran Taqwa tersebut dengan  SK nomor : Kep-002/K.2/22-2/82 tanggal 24 Pebruari 1982

Pada tahun 1991 Moch. Syamsu kembali menyebarkan ajarannya di kab. Subang dan Purwakarta dengan menggunakan nama Amanah Keagungan Ilahi [AKI] dibantu murid-muridnya yang ternyata ajarannya tidak berbeda dengan ajaran/aliran yang dikembangkan oleh Moch. Syamsu sebelumnya, Kajari Subang dan Kajari Purwakarta telah melarang ajaran Amanah Keagungan Ilahi [AKI] masih-masing dengan SK Kajari Subang nomor : Kep-01/K2.24/Dsk.3/5/91 tanggal 1 Mei 1991, dan SK Kajari Purwakarta nomor : Kep-525/K2.20.2/Dsk.3/5/1991 tanggal 30 Mei 1991.Dan ahirnya Kajati Jabar mengeluarkan Surat nomor : R.538/P2.3/Dsb.1/11/1993.

Menghadapi Aliran AKI harus hati-hati karena mereka licin dalam berstrategi, mereka selalu memperlihatkan sebuah wirid yang bertuliskan arab dan 12 tata tertib padahal didalamnya adalah benar-benar ajarannya menyimpang dari syari’at Islam. Mereka punya PROTAP yang dijadikan seolah-olah kitab suci, PROTAP ini disusun oleh Andreas salah seorang murid Moch. Syamsu ang sekarang menggantikan posisi Moch. Syamsu karena Moch. Syamsu sudah meninggal.

Ada juga murid Moch. Syamsu yang memisahkan diri dari kepemimpinan Andreas dan tidak menggunakan PROTAP seperti AKI yang dikembangkan oleh Kurnia Wahyu di Perumahan Parahyangan Kencana kab.Bandung dia tidak menggunakan bahkan menolak PROTAP dan lebih tandas lagi dia benci pada Andreas, tetapi semua ajaran yang dikembangkannya sama dengan isi PROTAP yang disusun Andreas karena Andreas menyusun PROTAP dari semua ajaran Moch. Syamsu  yang otomatis karena satu guru ajarannya ya sama, meskipun nama berbeda seperti yang dikembanmgkan oleh Syarif di Cisaranten kota Bandung dia mengembangkan KUMNAS [Kesejahteraan Ummat Madani Nasional] karena Syarif adalah murid Moch. Syamsu maka yang dikembangkannya juga itu-itu juga, sama-sama sesatnya.

Meski sudah di larang  ternyata sampai sekarang  ajaran AKI baik namanya AKI atau nama lain masih tetap ada bahkan berkembang tidak hanya di Jawa barat tetapi sudah menembus pulau Sumatra, AKI kubu Andreas untuk pulau jawa berpusat di Bandung dengan dipimpin oleh Fargana yang oleh masyarakat sekitarnya disebut Ust. Fargana karena dia pandai menyembunyikan diri dengan aktif di masjid dan melakukan aktivitas dakwah dibalik ajaran sesatnya, untuk Sumatra berpusat di Palembang dan untuk keseluruhan berpusat di Jakarta, untuk kubu Kurnia Wahyu dan Syarif berpusat di Bandung.

Ketua Komisi Fatwa MUI Sumsel, Drs KHM Lutfi Izzuddin yang didampingi sekretaris HM Abu Dzar dalam keterangan persnya kepada wartawan di Palembang, Rabu (2/12), mengatakan, hal ini berdasarkan data dan fakta yang ditemukan karena ajaran AKI meniadakan kewajiban shalat dan puasa bagi pengikutnya. Selain itu AKI tidak menjadikan Al Quran dan Sunnah sebagai sumber ajaran, melainkan hanya sebagai ajaran iman dari sumber ajaran, katanya.

Sehubungan itu MUI menetapkan ajaran AKI sesat dan menyesatkan dengan membuat surat keputusan fatwa nomor A-003/SKF/MUI-SS/XII/2009 tentang ajaran AKI. "Dengan adanya surat keputusan fatwa itu bila masyarakat mengikuti ajaran tesebut maka hukumnya haram," ujar dia.

Lebih lanjut dalam keterangan pers itu dikatakan, kepada mereka yang secara sadar atau tidak telah masuk dan mengikuti ajaran tersebut wajib segera bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar. Fatwa MUI juga merekomendasikan untuk menghentikan segala bentuk aktivitas ajaran sesat itu. "Kemudian mendesak seluruh lapisan masyarakat terutama tokoh agama agar turut secara aktif menghentikan perkembangan AKI yang telah beredar di daerah ini," katanya menambahkan.

Menurut dia, hal ini berdasarkan pertimbangan bila membiarkan ajaran tersebut berkembang, maka akan berakibat pada keresahan bangsa sehingga dapat mengganggu kestabilan negara. "Fatwa ajaran AKI sesat itu ditetapkan hari ini, 2 Desember 2009," kata dia.

Pendiri Amanat Keagungan Ilahi adalah R. USMAN BIN H. HARUN (R. Usman) yang kemudian dikenal dengan nama AKI Muhammad Syamsoe, lahir di Bandung 14 September 1932 dan wafat di Jakarta pada tanggal 7 Juni 1995.

AKI Muhammad Syamsoe mulai menyebarkan ajaran sesat Amanat Keagungan Ilahi pada tahun 1973. Aliran sesat ini berkembang khususnya di Pulau Jawa, Sumatera.
Aliran Amanat Keagungan Ilahi Kemungkinan Besar Sesat Palembang, NU Online
Aliran Amanat Keagungan Illahi (AKI) yang tumbuh di Sumatra Selatan (Sumsel), kemungkinan besar sesat karena penyimpang dari agama Islam. Berdasarkan penelitian tim Majelis Ulama Indonesia (MUI) di lapangan AKI tersebut tidak mewajibkan pengikutnya shalat dan puasa sehingga ajaran itu menyimpang dari agama Islam, kata Ketua MUI Sumsel, Drs KHM Sodikun di Palembang, Selasa.

Bahkan, lanjut Ketua MUI Sumsel itu, masyarakat masuk AKI tersebut yang selama ini menunaikan shalat dan puasa ternyata setelah bergabung tidak lagi. Jadi aliran AKI tersebut diduga besar sesat karena tidak sesuai dengan kaedah agama Islam, ujar dia lagi.

Sehubungan itu pihaknya akan melaksanakan rapat koordinasi untuk membahas permasalahan AKI tersebut, dan bila rapat memutuskan aliran tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama Islam maka akan dikeluarkan fatwanya, kata dia. Namun, lanjut dia, pihaknya tetap memberikan kesempatan kepada pengikut AKI tersebut supaya mereka kembali untuk menjalankan ibadah sesuai yang ditetapkan agama.

Bahkan, pengikut ajaran AKI itu akan diundang dan mereka nantinya diberikan penyadaran bahwa aliran tersebut tidak sesuai dengan kaedah agama Islam, ujar dia. Dikatakannya, bila pengikut AKI tersebut masih terus melaksanakan aktivitasnya maka permasalahan itu akan diserahkan kepada aparat penegak hukum.

Bedasarkan informasi, pengikut AKI tersebut saat ini sudah sekitar 200 orang yang telah menyebar di kabupaten seperti Lahat, Muara Enim dan Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), tambah dia.

Pengikut Aliran "Amanat Keagungan Ilahi" Diminta Bertaubat

Palembang (voa-islam.com) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Selatan (Sumsel) meminta para pengikut aliran Amanat Keagungan Illahi (AKI) segera bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar. Hal ini disampaikan setelah dikeluarkan fatwa sesat untuk aliran ini.

MUI setempat menyatakan, berdasarkan data dan fakta yang ditemukan aliran AKI meniadakan kewajiban shalat dan puasa bagi pengikutnya. Selain itu AKI tidak menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber ajaran.

”Kepada mereka yang secara sadar atau tidak telah masuk dan mengikuti ajaran tersebut wajib segera bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Sumsel Drs KH M. Lutfi Izzuddin, dalam keterangan pers, Rabu (2/12).

Kepada mereka yang secara sadar atau tidak telah masuk dan mengikuti ajaran tersebut wajib segera bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar...
MUI Sumsel menyatakan aliran AKI sesat dan dilarang berkembang di daerah ini dengan membuat surat keputusan fatwa nomor A-003/SKF/MUI-SS/XII/2009 tentang ajaran AKI.

Fatwa MUI juga merekomendasikan untuk menghentikan segala bentuk aktivitas ajaran sesat itu dan mendesak seluruh lapisan masyarakat terutama tokoh agama agar turut secara aktif menghentikan perkembangan AKI yang telah beredar di daerah itu.

Menurutnya, hal ini berdasarkan pertimbangan bila membiarkan ajaran tersebut berkembang, maka akan berakibat pada keresahan masyarakat sehingga dapat mengganggu kestabilan negara. Wallohu A’lam bish-Showab

BERIKUT INI  KUTIPAN SURAT KEPUTUSAN


Kutipan Surat Keputusan :

KEJAKSAAN TINGGI JAWA BARAT
Nomor        : R-538/P2.3/Dsb.1/11/1993                   Bandung, 10 Nopember 1993
Bersifat      : Rahasia
Lampiran   : 1 (satu) berkas
Perihal       : Aliran Amanat Keagungan  Ilahi (AKI)                      
Kepada      : YTH. SDR. KEPALA KEJAKSAAN NEGERI / KEPALA CABANG   KEJAKSAAN NEGRERI SE – JAWA BARAT

Sehubungan akhir-akhir ini Kajati Jabar menerima laporan dari beberapa Kajari tentang kegiatan dari Aliran Kepercayaan Amanat Keagungan Ilahi (AKI), dengan ini kami sampaikan informasi dan petunjuk-petunjuk sebagai berikut :

1.   Amanat Keagungan Ilahi (AKI) adalah suatu ajaran yang dikembangkan oleh Sdr. MOCH. SYAMSU atau biasa dikenal dengan panggilan AKI SYAMSU.

2.   Pada tahun 1979 MOCH. SYAMSU mengembangkan Aliran “Kepribadian” di Jawa Barat yang pada saat itu yang bersangkutan berdomisili di Bandung.

3.   Aliran “Kepribadian” yang berkembang oleh MOCH. SYAMSU ternyata mencapur adukan antara beberapa agama/kepercayaan yaitu antara Islam dengan Hindu dan Kong Fu Tse bahkan melakukan praktek ajaran Aliran “Kepribadian” secara bersama-sama antara pemeluk Agama Islam, agama Hindu, dan Kong Fu Tse.

4.   Kajati Jabar telah melarang Aliran “Kepribadian” di seluruh Jawa Barat berdasarkan SK Nomor : Kep-45/K2.3/12/1979 tanggal 4 Desember 1979.

5.   Pada tahun 1982 MOCH. SYAMSU pindah ke Kabupaten Serang dan disana mengembangkan ajaran “Taqwa/Amanah Keagungan Tuhan”/”Pendekatan diri kepada Allah” yang ajarannya sama dengan ajaran Aliran “Kepribadian”.

6.   Kajari Serang telah melarang aliran “Taqwa”/”Amanah Keagungan Tuhan”/”Pendekatan diri kepada Allah” berdasarkan SK Nomor : KEP-002/K.2/22-2/82 tanggal 24 Pebruari 1982.

7.   Pada tahun 1991 MOCH. SYAMSU kembali menyebarkan ajarannya di Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta dengan menggunakan nama Amanat Keagungan Ilahi (AKI) dibantu oleh murid-muridnya/pengikutnya yang ternyata ajarannya tidak berbeda dengan ajaran/aliran yang dikembangkan oleh MOCH. SYAMSU sebelumnya.

8.   Kajari Subang dan Kajari Purwakarta telah melarang ajaran Amanat Keagungan Ilahi (AKI) masing-masing dengan SK Kajari Subang Nomor : KEP-01/K2.24/Dks.3/5/91 tanggal 1 Mei 1991, dan SK Kajari Purwakarta Nomor : KEP-525/K2.20.2/Dks.3/5/1991 tanggal 30 Mei 1991.

9.   Dengan munculnya kembali ajaran Aliran “Amanat Keagungan Ilahi” (AKI) yang disebarkan oleh MOCH. SYAMSU beserta para pengikutnya, dengan ini diminta kepada Kajari yang belum melarang aliran tersebut agar mengambil langkah-langkah yang mengarah kepada pelarangan/pembekuan dengan tetap berpedoman kepada Distrubusi “W” Kejaksaan diseluruh Indonesia Nomor : B-907/D.1/7/1981 tanggal 30 Juli 1981 perihal pelarangan/pembekuan aliran kepercayaan, dan hasilnya dilaporkan dengan segera kepada Kejaksaan Tinggi Jawa Barat.

 Demikian agar menjadi maklum.

 An. KEPALA KEJAKSAAN TINGGI

JAWA BARAT

ASISTEN INTELIJEN,


ttd