"Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses,
maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi
kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah
terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian
dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini,
yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh
karena itu, sampaikanlah pada para pasukan
satu persatu, bahwa kemenangan besar yang
akan kita capai ini, akan menambah ketinggian
dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap
pasukan, menjadikan syariat selalu didepan
matanya dan jangan sampai ada diantara
mereka yang melanggar syariat yang mulia ini.
Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-
tempat peribadatan dan gereja-gereja.
Hendaknya mereka jangan mengganggu para
pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya
yang tidak ikut terjun dalam pertempuran."
Minggu, 23 Februari 2014
Khutbah Khalifah Muhammad Al- Fatih jelang pembebasan Konstantinopel
Sabtu, 18 Januari 2014
Logika dan Iman
dakwatuna.com – Logika merupakan senjata akal manusia yang paling dibanggakannya. Dengan logika, manusia bisa menjadi menghasilkan banyak hikmah, ilmu yang bermanfaat bagi manusia maupun menjadi sebuah kelemahan. Kelemahan? Ya, kelemahan. Kelemahan kaitannya dengan lemahnya iman. Bisa menjadikan iman hilang dari dadanya jika logika di atas iman mereka. Jika ada hal yang salah menurut logika dan akhirnya menyalahkan iman yang belum bisa dibuktikan. Na’udzubillah.
Logika itu terbatas. Tidak percaya? Aku buktikan. Dahulu sebelum pesawat terbang diciptakan, tidak ada yang percaya bahwa manusia bisa terbang. Bahkan Wreight Brothers dikatakan sebagai orang gila karena mereka bilang manusia bisa terbang. Dan pada saat itu tidak logis manusia bisa terbang. Namun, setelah mereka menciptakan pesawat terbang pertama, maka hal itu menjadi logis. Bagaimana? Logika terbatas kan? Dahulu Galileo Galilei menemukan bahwa Bumi itu bentuknya bulat. Namun, hal itu bertentangan logika orang-orang pada zaman itu yang berpendapat bumi itu bentuknya datar. Dan hal-hal yang demikian berlaku juga bahwa pada orang yang bisa ke bulan, serta penemuan-penemuan yang lain.
Lalu apa kesimpulanmu?
Logika itu terbatas, sebatas bisa dibuktikan terlebih dahulu, sebatas bisa digapai oleh panca indera. Ya kan?
Bisa berbahaya jika berkaitan dengan Iman. Karena Iman itu keyakinan tanpa perlu dibuktikan terlebih dahulu, walaupun jika bisa dibuktikan kebenarannya, itu lebih baik. Yang dimaksud penulis, Iman di sini adalah lebih ditekankan pada keimanan kebenaran Al Qur’an sebagai firman Allah SWT. Serta meyakini kebenaran segala isi yang tertulis di dalam Al Qur’an tanpa harus dibuktikan terlebih dahulu, atau dipikirkan untung ruginya jika dilakukan. Walaupun sudah beberapa ayat dalam Al Qur’an dibuktikan secara ilmiah dan masuk nalar logika manusia.
Logika bisa berbahaya jika Iman lemah. Contohnya, jika ada pertanyaan-pertanyaan pemutar logika dan penggoyah iman, seperti; seperti apa wujud Allah? Bisakah Allah menciptakan batu yang sangat besar hingga Dia sendiri tidak dapat mengangkatnya? Jika setan itu diciptakan dari api, kenapa nanti disiksa di neraka yang terbuat dari api juga? Dan lain-lain. Bagaimana jika pembaca dilontarkan pertanyaan seperti itu? Hati-hati jika iman tak kuat, bisa hilang karena logika mengalahkan iman.
Iblis dan Logikanya
Hati-hati dengan logika. Karena logika pula yang membuat Iblis diusir dari surga.
Ingat kisahnya Iblis yang diusir dari surga kan?
Dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 11-18 yang artinya:
“Sesungguhnya kami telah menciptakan kamu (Adam) lalu kami bentuk tubuhmu, kemudian kami katakan kepada para malaikat; bersujudlah kamu kepada Adam; maka mereka pun bersujud kecuali iblis, dia tidak termasuk mereka yang sujud.”
Dalam ayat ini diceritakan Allah SWT menciptakan manusia (Adam) dan menyuruh malaikat serta iblis untuk bersujud kepada Adam. Semua malaikat langsung mematuhi-Nya tanpa banyak tanya, apa untung ruginya, apa manfaatnya. Karena mereka taat kepada Allah penciptanya, tentu saja mereka langsung melaksanakan tanpa tawar. Kecuali Iblis.
“Allah berfirman apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu? Iblis menjawab, saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”
Iblis tidak mau sujud kepada Adam karena dia beralasan dia yang diciptakan dari api seharusnya lebih mulia daripada Adam yang diciptakan dari tanah liat yang kotor. Memang logis bukan? Tapi Iblis lupa yang menyuruhnya adalah Allah, dia sombong dan tidak taat. Seharusnya jika dia beriman, dia lakukan saja tanpa banyak alasan.
“Allah berfirman, turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatuhnya menyombongkan diri di dalamnya maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.”
“Iblis menjawab, beri tangguhkan saya, sampai waktu mereka dibangkitkan,”
Di ayat ini, Iblis saja minta waktu sampai hari kiamat. Maksudku, Iblis saja percaya akan hari Kiamat, bagaimana manusia yang tidak percaya?
“Allah berfirman sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu”.
“(Iblis) menjawab, “karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,”
“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”
Iblis yang sombong, merasa lebih baik daripada manusia (Adam) dan tidak patuh atas perintah Allah SWT, Iblis yang merasa iri terhadap manusia karena Allah SWT memuliakannya dengan memerintahkan malaikat termasuk iblis untuk sujud terhadapnya, menjadikan Iblis dengki terhadap manusia, tidak terima jika dia di neraka sendirian. Pastinya dia ingin rival yang didengkinya (manusia/anak cucu Adam, pen) ikut merasakan juga siksa api neraka bersamanya. Dan Iblis melakukannya hingga kiamat nanti, sekuat tenaganya, sebanyak-banyaknya manusia. Apakah kita termasuk manusia itu? Coba renungkan.
“(Allah) berfirman, “Keluarlah kamu dari (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka ada yang mengikutimu, pasti akan Aku isi neraka Jahanam dengan kamu semua.”
Saya tak habis pikir, Iblis saja yang beriman kepada Allah, maksud saya mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya, serta pernah merasakan dan melihat surga bisa terusir dan dihukum di neraka jahanam nantinya, apalagi manusia yang tidak beriman? Logikanya, bagaimana kedudukannya di mata Allah nanti?
Mungkin itulah hikmahnya, manusia yang beriman, mempercayai bahwa Allah SWT sebagai Illahnya, sangat dimuliakan kedudukannya karena melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tanpa sebelumnya pernah bertemu dengan Allah SWT, tanpa pernah sebelumnya melihat dan merasakan adanya surga di depan mata mereka. Apalagi sekarang ini, manusia yang beriman yang berusaha melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW sangat sukar dilakukan karena dianggap atau dituduh sebagai teroris (?)
Mungkin itulah hikmahnya, orang-orang kafir sangat hina kedudukannya padahal Iblis saja beriman (?) Apalagi orang kafir yang berusaha mengkafirkan mukmin? Apalagi orang munafik?
Padahal, pada saat Allah akan menciptakan Manusia untuk khalifah di bumi, para malaikat sempat khawatir akan hal itu.
Dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 30, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi.”…
Semua malaikat hampir serentak menjawab mendengar kehendak Allah.
…”Ya Allah, mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi, yang hanya akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau.”
Malaikat pun tahu manusia hanya bisa merusak bumi dan buktinya sudah kita ketahui, seperti perang, menguras sumber daya alam dan lain-lain. Dan malaikat pun membandingkan dengan diri mereka yang senantiasa taat pada Allah. Kenapa bukan malaikat saja yang menjadi khalifah di bumi? Toh, memang mereka makhluk yang sangat taat kepada Allah SWT? Dan Allah pun menjawab kekhawatiran para malaikat dan meyakinkan bahwa,
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Cukup beriman saja apa yang Allah perintahkan. Dan malaikat mematuhinya tanpa banyak tawar seperti Iblis. Untung saja.
Al Qur’an dan Bukti Logisnya
Penulis akhir-akhir ini, sering berdebat dengan orang-orang yang menggunakan logika dengan dikaitkan dengan Islam. Walaupun, orang-orang itu adalah muslim dan dalam hati penulis, terkesan orang-orang tersebut seperti meragukan Islam, mengacuhkan dan tidak melaksanakan segera segala syariat yang ada. Tapi wallahu’alam, penulis berusaha berprasangka baik. Mungkin itu cara mereka memperoleh ilmu (syariat). Iman hilang lantaran jalan logika, mungkin karena kurangnya ‘ilmu (syariat) yang mereka dapatkan. Dan ‘ilmu itu ada di mana? Tentu saja ada di firman yang kita imani, yaitu Al Qur’an. Serta hadits-hadits yang shahih tentunya. Al Qur’an dari 1000 tahun yang lalu hingga sekarang, sama isinya, tak ada perubahan, tak ada titik secuilpun dalam satu huruf berkurang atau bertambah. Tak ada revisi, tak ada versi baru atau versi lama. Jelas, logis sekali jika ini firman Allah, bukan karangan manusia. Terlebih manusia yang menyampaikan yaitu Rasulullah SAW itu adalah seorang buta huruf. Logikanya seorang yang buta huruf juga tidak bisa menulis. Logis, jika Al Qur’an bukan karangan Nabi Muhammad SAW dan merupakan firman dari Allah SWT.
Jika Al Qur’an itu memang Kitabullah, pastinya berlaku kebenarannya hingga kiamat nanti kan? Bukti-bukti zaman sekarang dan akan datang pasti ada di Al Qur’an yang sudah diturunkan sejak 1000 tahun yang lalu, seharusnya begitu. Bukan sebaliknya, kitab bisa di amandemen, karena kitab yang menyesuaikan zaman. Logis kan?
Baik, berikut penulis sebutkan beberapa bukti logis (ilmiah) yang bisa dinalar manusia tentang kebenaran Al Qur’an oleh orang-orang yang menemukannya. Orang-orang tersebut justru kebanyakan bukan dari muslim, dan mereka masuk Islam karenanya.
-
Prof Dr Maurice Bucaille adalah adalah ahli bedah kenamaan Perancis. Dia menemukan sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi Fir’aun dan merupakan bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS.Yunus:92)
- Mr Jacques Yves Costeau adalah seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur atau tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya.
Sehingga seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Qur’an surat Ar-Rahman ayat 19-20 yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing”. Qur’an surat Al-Furqan ayat 5 “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”
-
Dr Fidelma, ahli neurologi asal Amerika Serikat mendapat hidayah saat melakukan kajian terhadap saraf otak manusia. Ketika melakukan penelitian, ia menemukan beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah yang cukup agar dapat berfungsi secara normal. Penasaran dengan penemuannya, ia mencoba mengkaji lebih serius. Setelah memakan waktu lama, penelitiannya pun tidak sia-sia. Akhirnya dia menemukan bahwa ternyata darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak manusia secara sempurna kecuali ketika seseorang tersebut melakukan sujud dalam shalat. Artinya, kalau manusia tidak menunaikan ibadah shalat, otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Rupanya memang urat saraf dalam otak tersebut hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat otak dengan mengikuti waktu shalat.
- Sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukan sebuah tim ilmuwan Amerika Serikat tentang suara halus yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa (ulstrasonik), yang keluar dari tumbuhan. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam menggunakan alat perekam canggih. Dari alat perekam itu, getaran ultrasonik kemudian diubah menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditampilkan ke layar monitor. Dengan teknologi ini, getaran ultrasonik tersebut dapat dibaca dan dipahami, karena suara yang terekam menjadi terlihat pada layar monitor dalam bentuk rangkaian garis. Para ilmuwan ini lalu membawa hasil penemuan mereka ke hadapan tim peneliti Inggris di mana salah seorangnya adalah peneliti muslim.
Yang mengejutkan, getaran halus ultrasonik yang tertransfer dari alat perekam menggambarkan garis-garis yang membentuk lafazh Allah dalam layar. Para ilmuwan Inggris ini lantas terkagum-kagum dengan apa yang mereka saksikan. Peneliti muslim ini lalu mengatakan jika temuan tersebut sesuai dengan keyakinan kaum muslimin sejak 1400 tahun yang lalu. Para ilmuwan AS dan tim peneliti Inggris yang mendengar ucapan itu lalu memintanya untuk menjelaskan lebih dalam maksud yang dikatakannya. Setelah menjelaskan tentang Islam dan ayat tersebut, sang peneliti muslim itu memberikan hadiah berupa mushaf Al-Quran dan terjemahannya kepada Profesor William, salah satu anggota tim peneliti Inggris. Selang beberapa hari setelah peristiwa itu, Profesor William berceramah di Universitas Carnegie Mellon. Ia mengatakan: “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi, satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam Al-Quran. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan Syahadatain,” demikian ungkapan William.
“Bertasbih kepada-Nya langit yang tujuh, dan bumi (juga), dan segala yang ada di dalamnya. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun, lagi Maha Pengampun,” (QS Isra: 44).
Bagaimana menurut pembaca? Logis tidak? Tentu saja masih banyak penemuan-penemuan lainnya yang membuktikan kebenaran Al Qur’an yang sudah terpublish ataupun belum. Mungkin belum semua ayat yang ada di Al Qur’an sudah dibuktikan secara ilmiah. Namun ingat, Al Qur’an itu semenjak diturunkan hingga sekarang isinya tak berubah, dan tentu saja bukan karangan manusia. Sehingga jika ada satu ayat bisa dibuktikan kebenarannya tentu saja semua isinya tidak menutup kemungkinan bisa. Ya kan? Tentu kita tak perlu menjadi secerdas mereka atau mempunyai gelar professor dulu untuk meyakini bahwa Al Qur’an adalah firman Allah kan?
Pertanyaannya adalah…Jika kita sudah meyakini Al Qur’an itu benar firman Allah, maka sudah sejauh mana kita membacanya, mentadabburinya, dan mengamalkannya?
Wallahu’alam bisshawab.
Rabu, 15 Januari 2014
Senin, 12 Rabi’ul Awwal (Bagian Terakhir)
Oleh Umar Abdullah
Pengiriman Pasukan Usamah
Sekembalinya dari ibadah haji Wada’ (haji perpisahan), perhatian Rasulullah saw tertuju ke bagian utara Jazirah Arab. Nabi pun memerintahkan supaya menyiapkan sebuah pasukan besar ke daerah Syam. Pasukan ini dipimpin oleh Usamah b. Zaid b. Haritsah. Usia Usamah waktu itu masih muda, belum melampaui dua puluh tahun.
Saat Usamah dan pasukannya berangkat ke Jurf (sebuah tempat yang tidak jauh dari Medinah) dan mengadakan persiapan hendak berangkat ke Palestina, tiba-tiba Rasulullah jatuh sakit, dan sakitnya makin keras juga, Akhirnya pasukan Usamah tidak jadi berangkat.
Sakitnya Rasulullah saw ini mengkhawatirkan sahabat-sahabat beliau, karena cara hidup beliau dan ajaran-ajarannya jauh dari gejala-gejala penyakit dan akibat-akibat yang akan timbul karenanya.
Nabi mulai sakit
Rasulullah mulai merasa sakit saat berada di tempat Aisyah. Rasulullah mengeluhkan kepalanya sakit. Setelah rasa sakitnya terasa agak berkurang, ia mengunjungi isteri-isterinya seperti biasa. Tetapi kemudian sakitnya terasa kambuh lagi, dan terasa lebih keras lagi. Ketika ia sedang berada di rumah Maimunah, istrinya, Rasulullah merasa perlu mendapat perawatan. Dipanggilnya isteri-isterinya ke rumah Maimunah. Dimintanya ijin kepada mereka, bahwa ia akan dirawat di rumah Aisyah. Isteri-isterinya pun mengijinkan
Dengan berikat kepala, Rasulullah keluar sambil bertopang dalam jalannya itu kepada Ali b. Abi Talib dan kepada ‘Abbas pamannya. Rasulullah sampai di rumah Aisyah dengan kaki yang sudah terasa lemah.
Demam
Hari-hari pertama Rasulullah jatuh sakit, demamnya sudah terasa makin keras. Sungguh pun begitu, saat demamnya menurun Rasulullah pergi berjalan ke mesjid untuk memimpin shalat. Hal ini dilakukannya selama berhari-hari. Tapi tidak lebih dari shalat saja. Rasulullah sudah tidak kuat duduk bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya.
Pidato Rasulullah
Mendengar gunjingan tentang diangkatnya Usamah bin Zaid sebagai panglima perang, dengan berikat kepala Rasulullah pergi ke mesjid. Setelah duduk di atas mimbar, beliau mengucapkan puji dan syukur kepada Allah, kemudian mendoakan dan memintakan ampunan buat sahabat-sahabatnya yang telah gugur di Uhud. Kemudian Rasulullah bersabda: “Saudara-saudara. Laksanakanlah keberangkatan Usama itu. Demi hidupku. Kalau kamu telah banyak bicara tentang kepemirnpinnya, tentang kepemimpinan ayahnya dulu pun juga kamu banyak bicara. Dia sudah pantas memegang pimpinan, seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan.”
Rasulullah diam sebentar. Sementara itu orang-orang juga diam, tiada yang bicara. Kemudian Rasulullah meneruskan berkata lagi: “Seorang hamba Allah oleh Tuhan telah disuruh memilih antara dunia dan akhirat dengan apa yang ada padaNya, maka ia memilih yang ada pada Tuhan.”
Rasulullah diam lagi, dan orang-orang juga diam tidak bergerak. Tetapi Abu Bakr segera mengerti, bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan kata-kata terakhir itu adalah dirinya. Dengan perasaannya yang sangat lembut dan besarnya persahabatannya dengan Nabi, ia tak dapat menahan air mata dan menangis sambil berkata: “Tidak. Bahkan tuan akan kami tebus dengan jiwa kami dan anak-anak kami.”
Kuatir rasa terharu Abu Bakr ini akan menular kepada yang lain, Rasulullah memberi isyarat kepadanya: “Sabarlah, Abu Bakr.”
Kemudian dimintanya supaya semua pintu yang menuju ke mesjid ditutup, kecuali pintu yang ke tempat Abu Bakr. Setelah semua pintu ditutup, katanya lagi: “Aku belum tahu ada orang yang lebih bermurah hati dalam bersahabat dengan aku seperti dia. Kalau ada dari hamba Allah yang akan kuambil sebagai khalil (teman kesayangan) maka Abu Bakrlah khalilku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ialah dalam iman, sampai tiba saatnya Tuhan mempertemukan kita.”
Ketika Rasulullah turun dari mimbar, sedianya akan kembali pulang ke rumah Aisyah, tapi ia lalu menoleh kepada orang banyak itu dan kemudian Rasulullah bersabda: “Saudara-saudara Muhajirin, jagalah kaum Anshar itu baik-baik; sebab selama orang bertambah banyak, orang-orang Anshar akan seperti itu juga keadaannya, tidak bertambah. Mereka itu orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberi perlindungan kepadaku. Hendaklah kamu berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan maafkanlah kesalahan mereka.”
Menyuruh Abu Bakr memimpin Shalat
Keesokan harinya Rasulullah berusaha hendak bangun memimpin shalat, ternyata beliau sudah tidak kuat lagi. Ketika itulah Rasulullah bersabda: “Suruh Abu Bakr memimpin orang-orang shalat.”
“Tapi Abu Bakr orang yang lembut hati, suaranya lemah dan suka menangis kalau sedang membaca Qur’an,” kata Aisyah.
Aisyah pun mengulangi kata-katanya itu. Tetapi dengan suara lebih keras Rasulullah berkata lagi, dengan sakit yang masih dirasakannya: “Sebenarnya kamu ini seperti perempuan-perempuan Yusuf. Suruhlah dia memimpin orang-orang shalat!”
Kemudian Abu Bakr datang memimpin shalat seperti diperintahkan oleh Nabi.
Rahasia Fathimah
Fatimah puteri Rasulullah setiap hari datang menengok ayahnya. Rasulullah sangat mencintai puterinya itu, cinta seorang ayah kepada anak yang hanya tinggal satu-satunya. Jika Fathimah datang menemui Nabi, beliau menyambutnya dan menciumnya, lalu didudukkannya di tempat beliau duduk. Tetapi setelah sakitnya demikian payah, puterinya itu datang menemuinya dan mencium ayahnya.
“Selamat datang, puteriku,” kata Rasulullah. Lalu didudukkannya ia disampingnya. Ada kata-kata yang dibisikkannya ketika itu, Fatimah lalu menangis. Kemudian dibisikkannya kata-kata lain Fatimah pun jadi tertawa.
Bila hal itu oleh Aisyah ditanyakan, ia menjawab: “Sebenarnya saya tidak akan membuka rahasia Rasulullah s.a.w.”
Tetapi setelah Rasul wafat, ia mengatakan, bahwa ayahnya membisikkan kepadanya, bahwa ia akan meninggal oleh sakitnya sekali ini. Itu sebabnya Fatimah menangis. Kemudian dibisikkannya lagi, bahwa puterinya itulah dari keluarganya yang pertama kali akan menyusul. Itu sebabnya ia tertawa. (Subhanallah)
Begitu tingginya suhu demamnya, kadang beliau sampai tak sadarkan diri.
Tujuh dinar
Rasulullah memiliki harta tujuh dinar. Khawatir bila beliau meninggal harta masih di tangan, maka dimintanya supaya uangnya itu disedekahkan.
Demam Rasulullah saw Turun
Malam Senin 12 Rabiul Awwal 11 H panas demam Rasulullah mulai turun. Sampai-sampai Rasulullah di waktu subuh keluar rumah pergi ke mesjid dengan berikat kepala dan bertopang kepada Ali b. Abi Talib dan Fadzl bin’l-’Abbas.
Abu Bakr waktu itu sedang mengimami orang-orang shalat. Melihat Nabi datang, karena rasa gembira yang luar biasa, kaum Muslimin yang sedang salat itu, hampir-hampir terpengaruh dalam shalat mereka. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan salatnya.
Abu Bakr surut dari tempat shalatnya untuk memberikan tempat kepada Rasulullah. Tetapi Rasulullah mendorongnya dari belakang seraya katanya Pimpin terus orang shalat. Rasulullah sendiri kemudian duduk di samping Abu Bakr dan shalat sambil duduk di sebelah kanannya
Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi yang bertambah maju, bukan main gembiranya kaum Muslimin, sampai-sampai Usama b. Zaid datang menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa pasukan ke Syam. Abu Bakrpun datang pula menghadap dengan mengatakan: “Rasulullah! Saya lihat tuan sekarang dengan karunia dan nikmat Tuhan sudah sehat kembali. Hari ini adalah bagian Bintu Kharija. Bolehkah saya mengunjunginya?”
Nabi pun mengijinkan. Abu Bakr segera berangkat pergi ke Sunh di luar kota Medinah – tempat tinggal isteri mudanya. Umar dan Ali juga lalu pergi dengan urusannya masing-masing. Kaum Muslimin sudah mulai terpencar-pencar lagi. Mereka semua dalam suasana suka-cita dan gembira sekali.
Rasulullah pun kembali pulang ke rumah Aisyah.
Berpulang ke rahmatullah.
Sepulang dari masjid, hari Senin 12 Rabiul Awwal tahun 11 H di waktu Dhuha bertepatan dengan musim panas 8 Juni 632 M Rasulullah menghadapi sakaratul maut. Rasulullah pun menghadapkan diri kepada Allah sambil berdoa, “Allahumma ya Allah! Tolonglah aku dalam sakratulmaut ini.”
Saat itu kepala Nabi berada di pangkuan Aisyah. Aisyah merasakan Rasulullah s.a.w. sudah memberat di pangkuannya. Diperhatikan air muka beliau. Ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, “Ya Kawan Tertinggi dari surga.”
Rasulullah saw wafat pada usia 63 tahun lebih empat hari.
Kekalutan Terjadi
Berita kematian Rasulullah menggemparkan. Kaum Muslimin yang sedang berada dalam mesjid sangat terkejut, sebab ketika paginya mereka melihat Nabi sudah sembuh. Umar tidak percaya Rasul wafat. Abu Bakr tiba-tiba datang. Ia terus ke rumah Aisyah tanpa menoleh lagi ke kanan-kiri. Ketika ia masuk, dilihatnya Nabi di salah satu bagian dalam rumah itu sudah diselubungi dengan burd hibara. Ia menyingkapkan selubung itu dari wajah Nabi dan setelah menciumnya ia berkata: “Alangkah sedapnya di waktu engkau hidup, alangkah sedapnya pula di waktu engkau mati.”
Sesudah itu Abu Bakar keluar. Ternyata Umar masih bicara dan mau meyakinkan orang bahwa Rasulullah tidak meninggal. Orang banyak memberikan jalan kepada Abu Bakr.
“Sabar, sabarlah Umar!” katanya setelah ia berada di dekat Umar. “Dengarkan!”
Tetapi Umar tidak mau diam dan juga tidak mau mendengarkan. Ia terus bicara. Sekarang Abu Bakr menghampiri orang-orang itu seraya memberi isyarat, bahwa dia akan bicara dengan mereka. Cepat-cepat orang memenuhi seruannya itu dan Umar ditinggalkan.
Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah Abu Bakr berkata: “Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Tuhan, Tuhan hidup selalu tak pernah mati.”
Abu Bakr membacakan firman Allah:
“Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelum dia pun telah banyak rasul-rasul yang sudah lampau. Apabila dia mati atau terbunuh, apakah kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berbalik ke belakang, ia tidak akan merugikan Tuhan sedikit pun. Dan Tuhan akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (TQS. 3: 144)
Setelah didengarnya Abu Bakr membacakan ayat itu, Umar jatuh tersungkur ke tanah. Kedua kakinya sudah tak dapat menahan lagi, setelah ia yakin bahwa Rasulullah memang sudah wafat.
Pasukan Usama pun kembali ke Medinah
Sementara Abu Bakr dan Umar dalam keadaan demikian, tiba-tiba ada orang datang menyampaikan berita kepada mereka, bahwa Anshar telah menggabungkan diri kepada Sa’d b. ‘Ubada, dengan menambahkan bahwa: Kalau ada masalah yang perlu diselesaikan dengan mereka, segera susullah mereka, sebelum keadaan jadi berbahaya.
Abu Bakar dan Umar pun meneruskan perjalanan sampai di Saqifa (Serambi) Banu Sa’ida.
Setelah melalui perdebatan antara golongan Anshar dan golongan Muhajirin, akhirnya Abu Bakar diangkat sebagai Khalifatur Rasul (pengganti rasul) dalam urusan pemerintahan pada hari Senin itu juga. Satu hari kemudian, yakni hari Selasa 13 Rabiul Awwal 11 H, Abu Bakr dibai’at oleh kaum muslimin sebagai Kepala Negara.
Pengurusan Jenazah Rasulullah
Sementara itu jenazah Nabi masih tetap di tempatnya di atas ranjang kematian dikelilingi oleh kerabat-kerabat dan pihak keluarga.
Selesai memberikan baiat kepada Abu Bakr orang-orang bergegas hendak menyelenggarakan pemakaman Rasulullah. Abu Bakr tampil memberikan keputusan: “Saya dengar Rasulullah s.a.w. berkata Setiap ada nabi meninggal, ia dimakamkan di tempat dia meninggal.”
Selanjutnya yang bertindak memandikan Nabi ialah keluarganya yang dekat. Yang pertama Ali b. Abi Talib, lalu ‘Abbas bin ‘Abd’l-Muttalib serta kedua puteranya, Fadzl dan Qutham serta Usama bin Zaid. Usama bin Zaid dan Syuqran, pembantu Nabi, bertindak menuangkan air sedang Ali yang memandikannya berikut baju yang dipakainya. Mereka tidak mau melepaskan baju itu dari (badan) Nabi. Mereka mendapatkan Nabi begitu harum, sehingga Ali berkata: “Demi ibu bapaku! Alangkah harumnya engkau di waktu hidup dan di waktu mati.”
Selesai dimandikan dengan mengenakan baju yang dipakainya itu, Nabi dikafani dengan tiga lapis pakaian: dua Shuhari dan satu pakaian jenis burd hibara dengan sekali dilipatkan.
Selesai penyelenggaraan dengan cara demikian, jenazah dibiarkan di tempatnya. Pintu-pintu kemudian dibuka untuk memberikan kesempatan kepada kaum Muslimin, yang memasuki tempat itu dari jurusan mesjid, untuk melepaskan pandangan perpisahan dan memberikan doa selawat kepada Nabi.
Ruangan itu telah menjadi penuh kembali tatkala kemudian Abu Bakr dan Umar masuk melakukan shalat bersama-sama Muslimin yang lain. Selesai bagian laki-laki melakukan shalat, setelah mereka keluar, masuk pula kaum wanita, dan setelah mereka, kemudian masuk pula anak-anak.
Makam Rasulullah digali menurut cara Medinah.
Ketika hari sudah senja, keluarga Nabi sudah siap menguburkannya. Mereka menunggu sampai tengah malam. Kemudian sehelai syal berwarna merah yang biasa dipakai Nabi dihamparkannya di dalam kuburan itu. Lalu beliau diturunkan dan dikebumikan ke tempatnya yang terakhir, yakni rumah ummul mu`minin Aisyah ra, oleh mereka yang telah memandikannya. Di atas itu lalu dipasang bata mentah kemudian kuburan itu ditimbun dengan tanah.
Upacara pemakaman itu terjadi pada malam Rabu 14 Rabiul awal, yakni dua hari setelah Rasul berpulang ke rahmatullah pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 11 H.
Langganan:
Postingan (Atom)