Koleksi

Flag Counter

Kamis, 16 April 2015

Sejarah Rahasia Freemasory dan Iluminati (31)

templar-france-lot1Eramuslim.com – Skotlandia, Inggris, Portugal, dan Spanyol, juga Malta, memang menjadi lokasi pelarian Templar. Di kerajaan-kerajaan tersebut para Templar berbaur dengan penduduk setempat yang mayoritas memeluk agama Katolik Roma. Mereka juga banyak yang mengganti nama. Beberapa dari mereka juga meminta suaka kepada para bangsawan dan tuan tanah (Landlord) yang memiliki wilayah kekuasaannya sendiri, otonom. Banyak permintaan suaka ini diterima dengan tidak gratis, dengan artian para bangsawan yang sangat memahami bahwa para Templar itu kaya raya, meminta sejumlah uang sebagai jaminan keamanan atas dirinya. Bahkan ada pula yang kemudian bermitra dan meneruskan bisnis usaha ‘perbankan’ yang dulu telah dirintis para Templar.

Pada awal abad ke 16, Gereja Katolik tengah didera gerakan reformasi, yang dipelopori oleh Martin Luther (1483-1546), pemimpin Gerakan “Protest” (sebab itu gerejanya kemudian disebut sebagai Gereja Protestan), dan John Calvin (1509-1564) yang kemudian melahirkan Gereja Calvinis. Banyak kalangan memandang gerakan reformasi gereja sebenarnya juga didorong oleh mereka yang tidak puas atau menyimpan dendam terhadap hegemoni Gereja Katolik, seperti halnya kaum Templar. Dan hal ini ternyata mendapat pembenaran dengan bergabungnya sejumlah fraksi dari penerus Templar ke dalam gerakan reformasi gereja tersebut antara tahun 1517-1521.
Satu-satunya motivasi para mantan anggota Templar ini bergabung dalam gerakan tersebut adalah untuk membalaskan dendam atas kejadian dua abad lalu terhadap Gereja Katolik dengan menunggangi gerakan pembaharuan gereja ini. Upaya penyusupan oleh penerus Templar ini semula tidak diketahui Martin Luther, namun beberapa tahun kemudian barulah ia menyadari akan hal tersebut dan dengan tegas Martin Luther menghujat dan mengecam kaum Yahudi ini dan menyerukan agar semua pengikutnya tidak terpengaruh oleh kaum ini.
Setelah penumpasan para Templar memang bagaikan hilang di telan bumi. Mereka membenamkan diri dalam-dalam ke perut bumi sembari terus memelihara harapan, cita-cita, dan tujuan mereka yang masih teramat panjang. Pengejaran dan penumpasan terhadap Templar ternyata tidak bisa tuntas. Rahasia harta karun Templar yang menjadi pusat misteri tentang keberadaan ordo ini tetap menjadi misteri.
Banyak catatan yang menyatakan, sebelum pasukan Phillipe le Bel dan Clement V bergerak di pagi hari itu, beberapa hari sebelumnya Grand Master Templar Jacques de Molay telah memerintahkan kepada beberapa bawahannya untuk memindahkan berkas-berkas dan dokumen rahasia yang sangat penting di suatu tempat yang dinilai aman, membakar banyak buku dan catatan ordo, termasuk membawa berpeti-peti harta karun keluar dari Perancis melewati jalan laut.
Upaya yang dilakukan De Molay ini mengindikasikan satu hal yang pasti: Tempar telah mengetahui, setidaknya mencium rencana Phillipe le Bel dan Paus Clement V, atau kalau pun Templar tidak tahu siapa yang akan menghabisinya secara pasti, yang jelas Templar telah yakin akan ada sesuatu yang besar yang akan menimpa ordo persaudaraan ini sehingga seluruh dokumen rahasia, segala catatan dan buku, serta harta karun dan properti yang dimilikinya harus diamankan.
Dan ini terbukti. Pasukan Phillipe le Bel dan Clement V sama sekali tidak memperoleh sepotong koin emas pun dari harta karun Templar yang sangat banyak itu. Lalu dari mana De Molay mengetahui rencana rahasia terhadap Templar itu? Guillaume de Gisors, Grand Master Biara Sion, disebut-sebut sebagai pihak yang memberi tahu De Molay.
Walau antara Biara Sion dengan Ksatria Templar telah tidak ada lagi hubungan sejak peristiwa Penebangan Pohon Elm, walau amat mungkin hal ini hanyalah formalitas belaka, namun dalam kenyataanya kedua ordo itu, mungkin secara pribadi-pribadi, tetap berhubungan dengan erat. Bukankah Grand Master Biara Sion, Guillaume de Gisors, telah dihadiahi sebuah kepala emas Caput LVIIIm atau Caput 58M, oleh Templar di tahun 1307?
Sebab itu, antara Sion dengan Templar terbukti tetap memelihara jaringan mereka. Dan yang juga menarik, Guillaume de Gisors ternyata juga berkawan akrab dengan Guillaume Pidoye, salah satu kaki tangan Phillipe de Bel yang berpengaruh. Bisa jadi, Pidoye yang menganggap Sion tidak memiliki hubungan lagi dengan Templar, bahkan menduga Sion masih menyimpan dendam terhadap Templar akibat lepasnya Yerusalem, membocorkan rencana Phillipe untuk menumpas Templar dengan harapan mendapatkan dukungannya atau setidaknya berupa persetujuan moril. Kabar ini kemudian oleh de Gisors diteruskan kepada De Molay yang mengambil beberapa langkah preventif untuk menjaga ‘harta terbesar’ para Templar.

10031111_2



DIVISI PEREMPUAN KSATRIA TEMPLAR

Yang sangat jarang diamati peneliti lainnya adalah sebuah pertanyaan mendasar bahwa jika Templar memang ‘menuhankan’ perempuan seperti halnya terhadap Maria Magdalena dan juga Dewi-Dewi Masir kuno lainnya, begitu ‘terpesona’ oleh konsep femininitas, maka adakah dalam ordo ini kesempatan bagi perempuan untuk bergabung? Adakah Divisi Perempuan dalam Ordo Militer Khusus Knights of Templar?
Pertanyaan ini mendapat jawaban yang memuaskan ketika dua orang peneliti, Charles dan Nicole, menyatakan bahwa Ordo Ksatria Templar memang memiliki anggota perempuan.[1]  Di tahun-tahun awal pendirian ordo ini, ada banyak perempuan yang ikut mengucapkan ikrar Templar walau kemudian mereka hanya menjadi anggota biasa. Mereka, Nicole dan Charles, menyatakan,
“Jika mengamati kembali berbagai dokumen dari abad ke-12, Anda akan mendapatkan banyak perempuan yang bergabung dengan Ordo Templar, terutama pada abad pertama keberadaannya. Setiap orang yang bergabung harus mengucap ikrar untuk menyerahkan ‘rumahku, tanahku, tubuhku, dan jiwaku kepada Ordo Templar’. Anda akan mendapati nama-nama perempuan di akhir berbagai dokumen ini selain nama-nama lelaki. Anda pun akan menemukan banyak pasangan (laki-laki dan perempuan) yang sama-sama bergabung. Jadi, kaum perempuan pun harus mengucapkan ikrar. Dokumen-dokumen itu terutama membahas wilayah ini (Languedoc), dan ada cukup banyak petunjuk mengenai banyaknya kaum perempuan yang pada suatu kali terlibat dalam Ordo Templar. Dan beberapa wkatu kemudian, ordo ini memang mengubah peraturannya dan melarang keanggotaan perempuan”. 
Peneliti lainnya seperti Michael Baigent dan Richard menyatakan dalam buku “The Temple and the Lodge” (1989): …sebuah dokumen dari akhir abad ke-12 di Inggris melaporkan tentang seorang perempuan yang diterima Ordo Templar sebagai Suster. Fenomena ini tampaknya menyiratkan keberadaan sayap atau kelompok feminin dalam Ordo. Tetapi, (sejauh ini) belum ditemukan penjelasan mengenai masalah ini. Bahkan, informasi tentangnya yang mungkin terdapat dalam dokumen-dokumen resmi Inkuisisi telah lama hilang atau disembunyikan.
Catatan-catatan tentang keberadaan Divisi Feminin dalam Ordo Templar ini memang sangat terbatas. Yang mencuat dalam sejarah memang sisi maskulinitasnya. Walau demikian, hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa ordo ini memang terlihat lebih maju dari zamannya.
Akhir keberadaan ordo ini memang mengenaskan. Grand Master terakhirnya, Jacques de Molay, memang telah mati. Demikian pula Phillipe le Bel dan Paus Clement V. Namun Templar kini malah menemukan pusat operasi mereka yang baru, di suatu wilayah yang merdeka dari Gereja Katolik Roma, lepas dari pengaruh Paus, dan mendapat dukungan penuh dari penguasa wilayah tersebut, King Robert The Bruce, yang kebetulan tengah berperang melawan Inggris dan memerlukan tenaga kombatan yang handal. Agar tidak menyulitkan The Bruce, Templar akhirnya menanggalkan jubah putih dan panji-panji perangnya, dan kemudian mengganti pakaian dengan pakaian yang biasa dikenakan para pekerja, para tukang batu, bergabung dengan para Mason dan menguasai gilda-gilda mereka, lodge-lodge mereka. Tidak ada lagi Knights of Templar. Yang ada sekarang adalah Mason. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

—————————————————


[1] Lynn Picknett dan Olivia prince; The Templar Revelation; hal. 181.



EraMuslim

Rabu, 15 April 2015

Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (30)

ExecutionofJaquesDemolayPrint1Eramuslim.com – Paus berikutnya, Benedictus XI juga menolak dan tidak lama kemudian juga meninggal tiba-tiba. Menurut kabar yang santer terdengar, Paus Benedictus XI itu meninggal karena diracun oleh orang suruhan Le Bel. Kemudian pada pencalonan Paus berikutnya, Phillipe le Bel bersikap pro-aktif dan mencalonkan seorang Uskup dari Bordeaux. Dengan segenap upayanya, Uskup dari Bordeaux itu akhirnya terpilih menjabat Paus yang baru dengan nama Paus Clement V. Karena merasa berutang budi inilah, akhirnya Clemens V memenuhi tuntutan Phillipe untuk menumpas kaum Templar.
Paus yang baru ini juga memindahkan takhta kepausan ke Avignon. Mereka berdua dengan seluruh pasukannya kemudian menumpas habis Templar. Bahkan Paus Clement V mengeluarkan keputusan kepausan dengan nama Vox in Excelso (suara dari langit) yang melarang keberadaan Templar dengan tuduhan telah menyebarkan paham sesat dan menyimpang dari Gereja. Saat itu, hal ini merupakan sebuah tuduhan sangat serius yang berimplikasi satu: kematian, lewat siksaan yang teramat pedih.
Dalam interogasi, para Templar sembari disiksa dipaksa mengakui bahwa ordonya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Gereja dan mengajarkan bid’ah. Namun kabarnya Gereja tidak mendapatkan bukti yang kuat sehingga pada akhirnya hanya tiga tokoh Templar yang dituduh sesat langsung oleh Komisi Kepausan yaitu Jacques de Molay dan dua bawahan langsungnya. Mereka diharuskan menolak ajaran sesat mereka secara terbuka di muka umum.
De Molay menyatakan bahwa Ordo dan dirinya bersama kedua rekannya sama sekali tidak bersalah. Walau demikian mereka dibakar pada kayu salib di tahun 1314. Komisi Kepausan dikabarkan juga menemukan bahwa Ordo itu secara keseluruhan tidak sesat, meski ada bukti-bukti terisolasi tentang penyebaran ajaran sesat. Malah Komisi ini mendukung dipertahankannya ordo tersebut. Namun Paus Clement V, karena menghadapi opini umum yang kian menentang Ordo itu, akhirnya mengalah dan menekan Ordo tersebut.
Operasi penumpasan terhadap para Templar dilakukan dengan sangat cepat. Sehari sebelum Jum’at, 13 Oktober 1307, seluruh ksatria Phillipe yang mendapat bantuan dari Paus telah menyebar di lokasi-lokasi tempat Templar berkumpul. Seluruh persenjataan telah disiapkan. Masing-masing regu telah mengantongi sepucuk surat rahasia, bersegel, yang hanya boleh dibuka pada hari Jum’at dini hari, 13 Oktober 1307.  Saat fajar menyingsing, selutruh pasukan raja dan Paus bergerak cepat. Ini mirip dengan operasi Blitzkrieg ala Gestapo Hitler. Seluruh Templar diserang dan ditangkap. Kuil dan barang-barang mereka disita. Penangkapan terhadap Templar ini diikuti dengan penyiksaan brutal yang berakhir pada kematian.
Pada tahun 1312, secara resmi Paus Clement V mengeluarkan maklumat gereja yang memutuskan pembubaran Ordo Ksatria Templar. Pengejaran dan penangkapan terus dilakukan. Pada tahun 1314, Grand Master Ksatria Templar, Jacques de Molay berhasil ditangkap bersama Geoffroy de Charney yang menjadi pembimbingnya. Keduanya di tahan bersama anggota Templar lainnya di penjara bawah tanah di benteng Chinon.
Tidak lama kemudian, pada Maret 1314, Jacques de Molay segera dibakar hidup-hidup di tiang salib di depan umum hingga mati. Eksekusi ini dilakukan di Ille de la Cité, yang terketak di belakang Gereja Notre Dame, Paris. Saat api berkobar membakar tiang salib dan menyentuh kulit De Molay, dengan suara keras De Molay meneriakkan kutukannya kepada Phillipe le Bel dan Paus Clement V:
“Setahun setelah kematianku, kalian berdua, Phillipe le Bel dan Paus Clement, akan segera menyusulku menghadap Tuhan!.”
Entah karena sihir atau kebetulan belaka, sebulan setelah kematian De Molay, Paus Clement V menemui ajal akibat disentri yang parah. Sedang Phillipe le Bel mati tujuh bulan setelah De Molay tanpa pernah diketahui apa penyebabnya. Yang patut diingat, para Templar merupakan orang-orang yang sangat piawai dalam meracik racun.
Kesimpangsiuran opini para peneliti Barat tentang motivasi Phillipe le Bel dan Clement V menghabisi para Templar, juga proses hukuman terhadap ordo ini, menarik minat Harun Yahya yang meneliti informasi-informasi yang ada. Dalam karyanya yang berjudul “Ancaman Global Freemasonry”, Harun Yahya menulis, “Segolongan ahli sejarah cenderung melukiskan sidang pengadilan para Templar sebagai hasil konspirasi dari Raja Prancis, dan menggambarkan para ksatria itu tak bersalah atas segala dakwaan. Tetapi, cara interpretasi ini keliru dalam beberapa segi. Nesta H. Webster, ahli sejarah Inggris terkenal dengan begitu banyak mengetahui sejarah okultisme, menganalisis berbagai aspek ini dalam bukunya, ‘Secret Societies And Subversive Movements’. Menurut Webster, kecenderungan untuk melepaskan para Templar dari bid’ah yang mereka akui dalam masa pengadilan tidak tepat. Pertama, selama interogasi, walau secara umum terjadi, tidak semua Templar disiksa.”
Lagipula, tanya Harun Yahya, apakah pengakuan mereka tampak seperti hasil imajinasi murni orang-orang yang disiksa? Tentunya sukar dipercaya bahwa cerita tentang upacara pembaiatan — yang disampaikan dengan rinci oleh orang-orang di berbagai negara, dituturkan dalam kalimat yang berbeda, namun semuanya saling menyerupai — merupakan karangan semata-mata. Jika para korban dipaksa untuk mengarang-ngarang, cerita mereka tentu akan saling bertentangan; segala macam ritus liar dan fantastis diteriakkan dengan penuh kesakitan untuk memenuhi tuntutan interogator mereka. Tetapi sebaliknya, masing-masing tampak seperti mendeskripsikan upacara yang sama, baik lengkap maupun tidak, dengan sentuhan personal si pembicara, dan pada dasarnya semua cerita tersebut cocok.

godseden_10Bagaimanapun juga, sidang pengadilan para Templar berakhir dengan tumpasnya ordo tersebut. Tetapi, walaupun sudah dibubarkan “secara resmi”, ia tidak benar-benar musnah. Selama penangkapan tiba-tiba pada tahun 1307, beberapa Templar lolos, dan berhasil menutupi jejak mereka. Mereka melarikan diri keluar dari Perancis atau bersembunyi di wilayah yang dianggap aman.
Para Templar yang melarikan diri keluar dari Perancis memilih bersembunyi di Skotlandia. Skotlandia pada saat itu merupakan satu-satunya kerajaan di Eropa yang tidak mengakui kekuasaan Gereja Katolik. Raja Skotlandia, King Robert The Bruce, dengan tangan terbuka menyambut mereka dan menyembunyikannya ke dalam organisasi-organisasi buruh atau serikat pekerja terpenting di Kepulauan Inggris abad pertengahan ini dan menyusupkan mereka ke dalam pemondokan-pemondokan para tukang batu yang disebut Mason. Inilah cikal bakal berubahnya nama Ksatria Templar menjadi Mason, yang lebih popular disebut Freemasonry.
Selain Skotlandia, beberapa negara Eropa lainnya juga menjadi tujuan pelarian para Templar itu. Para Templar yang melarikan diri ke Portugal bersembunyi di wilayah itu dan mengubah nama ordo mereka menjadi Knights of Christ Order (Ordo Ksatria Kristus). Di kemudian hari, pelarian Templar yang berada di Portugal ini, dan juga Spanyol, mengganti kuda-kuda mereka dengan kapal-kapal layar besar yang dilengkapi dengan meriam. Penjelajah Portugis, Vasco da Gama, merupakan anggota dari Ordo Ksatria Kristus ini.
Mereka yang lari ke Malta, sebuah pulau kecil di ujung selatan Italia, sempat menutup diri dan mengubah semua bentuk keksatriaan mereka. Beberapa tahun kemudian, pelarian Templar ini dikenal sebagai Knights of Rhodes atau yang lebih dikenal dengan sebutan Knights of Malta. Ksatria Malta ini sekarang dikenal sebagai ordo dalam kekristenan yang banyak mendirikan rumah-rumah sakit di berbagai negara dan wilayah di seluruh dunia. Mereka memiliki Grand Masternya sendiri yang masih ada hingga sekarang.
Di Inggris, King Edward II tidak begitu percaya bahwa Ordo Templar bersalah seperti yang telah dituduhkan Gereja. Bahkan King Edward II sampai berdebat sengit dengan Paus mengenai hal itu. Ia kemudian menolak mentah-mentah ketika Paus memerintahkan dirinya untuk melakukan pengejaran dan pembasmian para Templar.
Di Jerman, sebuah peristiwa dramatis terjadi. Grand Master Ordo Templar Jerman, Hudo von Gumbach, tiba-tiba masuk ke ruang sidang konsili yang diselenggarakan oleh Uskup Agung Metz. Hugo von Gumbach mengenakan pakaian tempur dan bersenjata lengkap. Ia dikawan 20 Ksatria Tempar terpilih yang juga mengenakan baju perang dan bersenjata lengkap.
Di depan peserta konsili, Hugo dengan lantang berteriak bahwa Paus adalah setan yang harus ditumbangkan dan Ordo Templar sama sekali tidak mempunyai salah atau pun dosa. Kepada semua peserta konsili, Hugo bahkan menantang bahwa mereka siap berkelahi sampai titik darah penghabisan untuk membela keyakinannya. Kesunyian begitu mencekam. Dalam kesunyian itu, Uskup agung Metz kemudian berjanji akan mengeluarkan keputusan yang baik bagi Templar keesokan harinya. Hugo dan pasukannya pun keluar ruangan. Keesokan harinya, para ksatria Templar Jerman dinyatakan tidak bersalah.
Di Aragon dan Castile, para Uskup menggelar sidang bohong-bohongan yang kemudian juga mengeluarkan pernyataan bahwa para Templar tidak bersalah. Walau demikian, untuk juga menghargai para Uskup local, maka para Templar pun bertindak kooperatif dengan berpura-pura menanggalkan keyakinan mereka, masuk Kristen, atau pun melakukan perjalanan untuk hidup di tempat yang baru.  (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

EraMuslim

Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminati (29)

King Philip Le Bel, bersama Gereja menumpas Templar.
King Philip Le Bel, bersama Gereja menumpas Templar.

Eramuslim.com – Ada begitu banyak nama-nama yang dikenal dalam sejarah Eropa yang menjabat sebagai petinggi Templar. Di dalam artikel ini sengaja nama-nama tersebut tidak ditampilkan semuanya karena memuat ratusan nama. Kita akan kembali kepada sejarah Tmeplar itu sendiri di Eropa yang tidak disukai oleh Otoritas Gereja dan juga Raja serta para bangsawannya.
“BLITZKRIEG” KING PHILLIPE IV
“Perpisahan” dengan Ordo Sion tidak membuat ordo Templar bangkrut. Harta kekayaan yang telah begitu banyak terkumpul, baik berupa lahan yang luas di berbagai negara di Eropa, sejumlah kastil dan kuil, maupun dalam bentuk logam mulia, perhiasan batu permata, dan uang, yang dihasilkan dari berbagai usaha kaum Templar membuat ordo ini menjadi begitu besar dan disegani di seluruh Eropa. Banyak para bangsawan dan raja-raja Eropa meminjam uang pada unit usaha ordo ini. Mereka juga begitu percaya dengan jasa penyimpanan benda-benda berharga (treasury box) yang dikelola para Templar. Belum lagi jasa pengawalan atau pengamanan saat para bangsawan atau raja melakukan bepergian atau pun di dalam istananya sendiri.
Konflik, intrik, dan peperangan yang terjadi di antara raja-raja maupun tuan tanah di Eropa membuat bisnis jasa pengamanan para Templar menjadi begitu maju dan berkembang. Sebab itu, selain dipercaya sebagai pelopor sistem perbankan modern di dunia, para Templar juga dianggap sebagai pelopor dalam sistem bisnis jasa keamanan dan militer yang kini banyak diadopsi oleh organisasi ketentaraan resmi suatu negara, maupun institusi jasa pengamanan swasta (PMA, Private Military Agency), atau yang lebih tersohor dengan sebutan organisasi tentara bayaran (Mercenaries), seperti DynCorp, Halliburton, Blackwater, Executive Outcome, Aegis Defence Services, MPRI, dan sebagainya.
Dan seperti juga PMA zaman sekarang, para Ksatria Templar juga diyakini berada di belakang setiap konflik, intrik, atau peperangan yang timbul di antara para tuan tanah, bangsawan, dan raja, agar usaha jasa pengamanan dan industri alat-alat peperangan yang dimilikinya bisa terus berputar. Dengan sendirinya uang pun terus mengalir ke dalam kocek para Templar tanpa disadari oleh pihak lain. Ini mirip sekali dengan industri persenjataan yang ada di Amerika dan negara maju lain yang sering berepran ganda dalam menciptakan konflik dan perang. Skandal Iran Contra yang terjadi di abad ke-21 merupakan salah satu contoh yang bagus.
Yang tidak boleh dilupakan, sejarah juga mencatat bahwa antar Knights Templar dengan kaum Hashsashin (Assassin) pimpinan Hasan bin Sabbah, seorang Syiah musuh dari Dinasti Abbasiyyah, yang memiliki benteng kuat di Alamut dekat Laut Kaspia, terjalin suatu hubungan yang baik dan saling menghormati. Kaum Assassin begitu hormat dengan Templar dan sebaliknya, ini disebabkan antara keduanya memiliki banyak persamaan di bidang terror dan kebuasan serta keterampilan dalam berperang.
Bahkan tak jarang, kaum Assassin ini disewa Tentara Salib untuk pihak eksekutor dalam kasus-kasus tertentu seperti yang terjadi dalam Perang Salib III di masa King Richard “The Lion Heart” dari Inggris di abad ke-12M. Panglima pasukan Islam sendiri, Shalahuddin al-Ayyubi pernah terkejut tatkala bangun dari pembaringan di dalam tendanya, mendapati sepotong kue yang telah diberi racun dengan selembar surat yang berisi kalimat teror, “Anda berada dalam kekuasaan kami.” Ini salah satu hasil operasi kaum Asassin.
Sebenarnya, para Templar ini setelah kegagalannya mempertahankan Yerusalem dan Palestina dari tangan Saracen, ingin mengadakan serangan balik kembali. Mereka menemui raja-raja Eropa dan kaum bangsawannya dan membujuk mereka agar mendanai serangan balik ini. Namun  para raja dan bangsawan Eropa sudah tidak bergairah lagi untuk mengadakan peperangan. Mereka lelah dan jemu. Dana pun sudah tidak ada lagi. Maka jadilah Ksatria templar menjadi pasukan yang menganggur, tak punya pekerjaan. Kondisi mereka yang kaya raya, namun tidak punya pekerjaan, akhirnya membuat mereka bersikap arogan, senang mabuk-mabukkan, dan menjadi The Trouble Maker di wilayahnya.
Jelas, hal ini tidak disukai siapa pun yang berkuasa. Dengan kekayaan, kebesaran, dan kemampuan lintas negaranya karena memiliki jaringan yang luas, rapi, dan kuat, lama-lama keberadaan kaum Templar menjadi semacam duri yang dirasakan oleh para bangsawan, raja-raja Eropa, dan bahkan oleh Paus sendiri. Apalagi para Templar ini karena kekuatannya menjadi sangat angkuh dan selalu mau menang sendiri. Para raja dan bangsawan sering tidak dianggap atau bahkan diancam jika tidak menuruti permintaan mereka. Pengaruh Templar yang sedemikian dahsyat dianggap mulai menggerogoti kewibawaan dan pengaruh mereka.
Pada tahun 1306, Raja Perancis, Phillipe le Bel atau Phillipe IV, benar-benar sudah merasa muak dengan para Templar. Apalagi Perancis menjadi pusat kegiatan mereka di Eropa dan kesetiaan mereka terhadap Paus juga semata-mata disebabkan oleh uang.
Tidak yang lain. Walau menjadi Raja Perancis, namun Phillipe sama sekali tidak memiliki pengaruh pada para Templar. Phillipe pun terlibat hutang dengan ordo ini akibat pembiayaan Perang Salib yang membengkak. Apalagi saat seorang pemberontak melarikan diri dari penjara istananya, Phillipe yang dikawal para ksatria kerajaannya mengejar hingga ke daerah para Templar di Perancis Selatan. Di sebuah Kuil Templar, Phillipe begitu terkesan dengan kemakmuran dan kekayaan mereka. Sebab itu, dengan mempertaruhkan nama dan seluruh kewibawaannya, Phillipe dengan berterus terang mengutarakan niatnya untuk bisa bergabung dengan menjadi anggota ordo tersebut.

templar1Namun jawaban Templar sungguh di luar dugaan. Dengan tegas dan angkuh, mereka menolak permintaan Phillipe sembari mengusir Raja Perancis tersebut keluar dari kuil. Rasa malu, dendam, dan amarah meluap-luap di dada Phillipe le Bel. Dalam hatinya ia bertekad akan menghabisi para Templar dalam waktu singkat. Tekad Phillipe le Bel sudah bulat.
Phillipe IV segera mendata seluruh kabar miring tentang Templar. Ini akan dijadikan alasan utama untuk menghabisi ordo tersebut dan juga untuk menghimpun sekutu utamanya yaitu Paus Clement V. Phillipe IV sangat yakin Uskup dari Bordeaux yang telah ditolongnya sehingga berhasil terpilih menjadi Paus dengan nama Clement V akan menjadi sekutu yang loyal. Apalagi dengan kabar yang santer terdengar bahwa kaum Templar diam-diam telah jauh menyeleweng dari ajaran Yesus dan berpaling kepada bid’ah, menyelenggarakan upacara-upacara yang memuja Baphomet, iblis berkepala kambing dalam mitologi Yahudi dan menjadi lambang okultisme, sembari meludahi salib.
Bahkan ada pula ritual-ritual tertentu yang diakhiri dengan hubungan seks antara anggota dengan pemimpinnya. Kala itu juga berkembang kabar bahwa para Templar juga mempraktekkan perilaku homoseks atau hubungan sejenis. Ini merupakan tuduhan-tuduhan yang dikemudian hari ada yang diakui oleh mereka, namun ada pula yang tidak mengakui hal ini dan menyatakan bahwa tudingan itu semua adalah fitnah yang sengaja disebar Gereja untuk menjelek-jelekkan Templar.
Yang pasti, di awal masa-masa Perang Salib di tahun 1208, Paus Innocent III pernah menegur Ksatria Templar karena sikap dan perilaku mereka yang dinilai tidak mencerminkan seorang Kristiani dan malah condong kepada praktek Necromancy yang lazim meminta sesuatu dari orang-orang yang sudah mati.
Dengan penuh kerahasiaan, utusan Philipe yang konon seorang Kanselir Perancis bernama Von Nugari, menemui Paus Clement V dan menyampaikan maksud dari tuannya. Merasa berutang budi yang sangat besar membuat Clement V mau tak mau harus membantu Phillipe le Bel, walau secara pribadi ia merasa segan pula kepada Templar. Segannya Paus Clement V kepada Templar bisa karena memang takut, atau juga konon karena menyadari adanya pertalian darah antara ibunya yang bernama Ida de Blanchefort dengan Dinasti Blanchefort yang banyak menjadi anggota Templar.
Walau demikian, sebuah operasi intelijen pun disiapkan guna memberangus dan menghabisi para Templar langsung di jantungnya, Perancis. Daftar tuduhan terhadap ordo Templar telah selesai dibuat. Seluruh mata-mata yang paling handal dari pihak Paus maupun Phillipe telah disebar menyusup ke dalam ordo. Bahkan Phillipe mendapat bantuan dari seorang anggota Templar yang kesetiaannya bisa dibeli dengan uang.
Bagi sebagian peneliti, motivasi Phillipe le Bel untuk menumpas Templar diyakini disebabkan masalah utang piutang yang terjadi sebelum tahun 1305. Mereka menyatakan bahwa saat itu Phillipe IV terdesak dan sangat membutuhkan uang tunai untuk membiayai peperangannya. Phillipe, sebagaimana kelaziman raja-raja dan kaum bangsawan Eropa lainnya pada masa itu, akhirnya  mendatangi Templar dan meminta bantuan uang dari kaum Templar. Tapi dengan angkuh permintaan Phillipe ini ditolak mentah-mentah.
King Phillipe sungguh geram dan sakit hati. Dia lalu mendesak Paus Bonifacius VIII yang berkuasa saat itu untuk mengucilkan kaum Templar. Tapi lagi-lagi Phillipe mendapat penolakan. Paus tidak berani memenuhi permintaannya. Phillipe lalu mengirim penasihatnya, Guillaume de Nogaret, untuk menculik Paus. Bonifasius VIII meninggal hanya sebulan setelah mendengar rencana itu karena keterkejutan dan ketakutannya. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

EraMuslim