Koleksi

Flag Counter

Jumat, 29 November 2013

“Masalah, Buat Loe?”

I-Dont-CareJujur saja, kadang saya merasa sedih dan prihatin dengan kondisi sebagian teman-teman remaja. Khususnya tentang sikap peduli. Jangankan untuk urusan yang nun jauh di sana. Kadang masalah yang ada di sebelah mata aja nggak dipikirin dan nggak jadi masalah berat buat mereka. Misalnya aja, tetangganya mau kelaparan apa kekenyangan dia nggak mau mikirin. Temannya nggak datang ke sekolah pun bukan persoalannya. Apakah sang teman yang nggak dateng ke sekolah itu karena sakit atau memang malas bukan urusannya. Cuek aja. Pikirnya, pihak sekolah ama ortunya aja yang kudu mikirin tuh anak yang bermasalah. Kayaknya buat apa harus capek-capek mikirin. Nggak ada untungnya. Kalo diingatkan, dia ngomong sinis, “Emangnya gue pikirin?” atau “Masalah, buat Loe?”
Sikap cuek dalam kehidupan sebagian teman-teman juga berlanjut. Kalo setiap masalah yang ampir nyolok matanya aja (karena saking dekatnya) dia cuek, kemungkinan besar masalah yang jauh darinya bakalan nggak dianggap tuh. Mungkin pikirnya, “Bodo amat, orang di luar negeri sono mo kelaparan, mo perang, mo ribut atau damai, gue nggak peduli. Yang penting gue di sini seneng. Nggak susah. Nggak bikin masalah ama orang lain. Nafsi-nafsi aja. Kalo gue suka, gue mau, gue berhak lakuin apa yang bikin ati gue hepi. Orang lain nggak boleh cerewet berkhotbah di depan gue. Emangnya gue pikirin?! Emang itu masalah buat loe?”
Sobat, mo seneng-seneng, mo ngelakuin apa yang bikin kita hepi, boleh-boleh aja, kok. Nggak ada yang ngelarang. Tentunya asalkan itu halal dan nggak bikin kita lupa diri. Tapi, pasti ada saatnya dong kita mikirin yang lain. Bukan hanya mikirin kita sendiri. Ada waktu yang bisa kita luangkan untuk bantu mikirin orang lain. Menengok bagaimana masalah mereka. Berhenti sejenak dari kesibukan kita untuk berbagi dengan teman yang lain. Nggak cuek abis gitu, lho. Nggak baik dan tentu nggak benar sikap kayak gitu. Apalagi kalo kemudian menjadikan kamu sombong. Hmm… ada baiknya, kita memperhatikan dan menyimak firman Allah Ta’ala, ““Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”(QS Luqman [31]: 18)
Sikap cuek alias nggak peduli kini seperti menjadi tren di kalangan kita. Mungkin di sekolahmu pernah menjumpai teman yang nggak peduli dengan nasib teman lainnya. Misalnya aja kamu nggak ngerti pelajaran matematika, sementara teman kamu ada yang ngerti, tapi dia nggak mau ngasih ilmunya ke kamu. Dia malah bilang, “Bodo amat! Emangnya gue pikirin! Lo usaha sendiri dong!” Duh, nyebelin nggak sih orang kayak gitu? Pasti bikin gondok kita, kan?
Itu mungkin boleh dibilang rada-rada biasa, kadang kita nemuin juga tuh teman kita yang sewot abis gara-gara kita ingetin. Padahal nih, tujuan kita ngingetin dia tuh baik. Misalnya aja kita negur teman yang pacarannya hot banget (kalo pun pacarannya nggak hot, tetap aja yang namanya pacaran tuh dilarang dalam Islam), supaya menghentikan kebiasaan jeleknya itu. Eh, dia malah bilang, “Masalah buat loe? Apa pedulimu? Urus aja diri sendiri. Jangan cerewet berdalil segala di depan gue. Terserah lo. Mo bilang apa pun, gue nggak peduli. Emangnya gue pikirin?”
Coba, dinasihatin malah sewot. Ditegur malah ngebul ubun-ubunnya saking marahnya dia. Padahal, kita nasihatin, ngingetin, atau negur itu adalah tanda sayang. Tanda cinta dan peduli kita kepadanya. Tapi, teryata air susu dibalas air tuba. Mungkin bagi mereka yang udah ngerasa benar sendiri (atau hawa nafsunya jadi panglima?), sikap cuek alias nggak peduli ini dianggap jadi pilihannya dan senjata untuk menangkis orang lain yang rewel ikut campur urusan dalam negerinya. Ah, kayaknya doi belum bisa bedain mana sikap teman yang sok ikut campur dengan sikap teman yang emang mau nolongin dia. Kayaknya perlu belajar lagi deh tuh orang. Bukan sombong or congkak nih, tapi kenyataan bahwa kalo orang nggak mau belajar ya kayak gitu. Wawasannya sempit dan nggak mau dengerin pendapat orang lain. Tul nggak seh?
Kayaknya udah saatnya deh kita berpikir lebih dewasa. Berpikir lebih tenang dan bijak. Nggak keburu nafsu menghukumi ini dan itu jika itu nggak sesuai dengan pendapat kita. Jangan keburu memvonis orang yang nasihatin or ngingetin kita tuh sebagai perongrong, tukang cerewet dan kita anggap sebagai duri sehingga kudu disingkirkan dari jalan kita. Apalagi karena kita merasa paling benar, paling senior, paling pinter, paling luas wawasannya, paling banyak jenggotnya (yee apa hubungannya?), lalu kita merasa yang ngasih teguran ke kita tuh orangnya pasti salah. Padahal, siapa tahu kan namanya nasihat tuh bisa datang dari siapa aja? Nasihat itu kadang bisa datang dari anak kecil atau orang yang kita anggap status sosialnya rendah ketimbang kita. Nggak usah malu kalo ditegur, jangan pernah sewot kalo ada yang ngingetin kita. Karena yakinlah, insya Allah apa yang dilakukannya adalah demi kebaikan kita bersama. Kalo emang kita nggak suka dengan caranya menegur atau mengingatkan kita, lebih baik diam sejenak. Jangan langsung reaktif dengan cara menyerangnya. Resapi dulu omongannya, baru kita berpikir dan menyiapkan kata-kata argumentasi. Kalo memang perkataannya benar, ya kita terima aja. Nggak usah malu. Terus nih, yang terpenting kita nggak usah reaktif dan langsung bilang, “Emangnya gue pikirin!”, “Masalah, buat loe?” Hadeeeuhh.. nggak jamannya deh nyolot kayak gitu kalo dinasihatin.

Salam,
O. Solihin

Kamis, 28 November 2013

Nikmati Dunia, Tetapi Akhirat Tujuan Utama

cinta-dunia-takut-matiKalo diresapi dalam-dalam memang faktanya saat ini sudah hadir di tengah-tengah kita. Nggak bisa dipungkiri bahwa banyak di antara manusia, termasuk kaum muslimin yang cinta dunia, lupa akhirat. Kalo orang kafir sih rasa-rasanya wajar karena mereka tidak beriman kepada Allah Swt., tetapi bagaimana dengan kaum muslimin yang beriman kepada Allah? Ini yang justru aneh kalo hadir juga dalam perilaku kaum muslimin. Nggak banget deh! Allah Swt. berfirman (yang artinya):“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS asy-Syura [42]: 20)
Berkaitan dengan kecintaan kepada dunia ini, memang banyak banget faktanya. Perhiasan dunia itu sering menipu, gemerlapnya bisa bikin kita terlena. Itu sebabnya, banyak manusia menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Boleh sih, memiliki perhiasan dunia, tetapi seperlunya saja dan jangan melupakan akhirat.
Sobat  muda, sebagai muslim bukan berarti kita membenci dunia sepenuhnya, Nggak juga kok. Akhirat memang yang utama, tetapi dunia juga boleh kita nikmati. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS al-Qashash [28]: 77)
Ayat ini jelas memberikan kebolehan bagi kita untuk menikmati dunia, tetapi tentunya tidak dijadikan sebagai yang utama dan tujuan akhir. Sebab, akhirat tetap tujuan akhir kita, Bro. Maka, nggak usahlah kita merasa terhina kalo gagal dapetin juara kelas. Nggak usah merasa langit runtuh kalo kita nggak bisa kuliah di perguruan tinggi incaran. Tak perlu merasa sedih kalo kita gagal lulus ujian. Biasa aja lagi. Sebaliknya, jangan pula iri dengan prestasi dan kebanggaan semu yang diraih orang-orang yang lalai atau malah orang kafir. Bila perlu malah harusnya kita nasihati mereka agar sadar. Kita memang senang dan boleh memburu perhiasan duniawi, tetapi itu sekadarnya saja.
Kita nggak bisa menjadikan perhiasan dunia sebagai ukuran keberhasilan abadi. Sebab, percuma aja banyaknya hasil ‘buruan’ perhiasan dunia yang kita miliki, jika pada akhirnya hal itu melalaikan kita dari beriman dan beribadah kepada Allah Swt. Rasulullah saw. saja, amat sederhana dan tidak bermegah-megahan dengan harta. Dari Anas bin Malik berkata, “Saya masuk kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang berada di tempat tidur yang dipintal dan ditenun, dan di bawah kepalanya ada bantal yang isinya serabut pohon kurma. Antara kulitnya (Nabi) dan ranjang terdapat kain, lalu Umar masuk dan menangis, Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, ‘Apa yang membuat engkau menangis wahai Umar?’ la menjawab, ‘Demi Allah wahai Rasulullah!, tidaklah Saya menangis melainkan karena Saya tahu bahwa engkau adalah hamba yang paling mulia di sisi Allah dibandingkan Kisra dan Kaisar. Mereka berdua hidup bergelimang dengan gemerlapnya dunia, sedangkan engkau wahai Rasulullah di tempat seperti yang Saya lihat.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apakah engkau tidak rela wahai Umar!, bagi mereka kehidupan dunia sedangkan bagi kita adalah di akhirat?’ Saya menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah’ Nabi berkata, ‘Memang seharusnya demikian.’”(derajat hadist Hasan shahih, di dalam kitab Takhrijut-Targhiib (4/114). Muttafaqun ‘alaihi- Umar, tercantum dalam Shahih al-Adab al-Mufrad)
Oke deh sobat, kita fokus pada tujuan kita untuk akhirat. Nggak usah pusing atau merasa iri jika prestasi duniawi tak kita dapatkan. Nikmati dunia seperlunya, tetap tambatkan hati kita untuk akhirat. Maka, dalam hal apapun (pendidikan, jabatan, harta, prestasi dan sejenisnya), orientasi kita tetap akhirat. Itu artinya, semuanya harus disesuaikan dengan syariat Islam. Kalo nggak sesuai, ya ngapain diburu dan diperjuangkan perhiasan dunia tersebut. Iya nggak sih? So, banggalah jadi muslim, nikmati dunia sesuai kebutuhan saja, jadikan akhirat tujuan akhir. Beriman, berilmu, beramal shalih. Kita wujudkan itu yuk!
Salam,
O. Solihin

Rabu, 27 November 2013

Ketika Ukhuwah Tak Lagi Indah

tali-putus1Memulai memang berat, tapi lebih berat lagi merawatnya. Sebab, orang yang selalu ber­sama itu bukan tak mungkin muncul gesekan di antara keduanya. Kamu yang sama-sama aktif di Rohis sekolah, bisa juga muncul benih-benih yang bisa merapuhkan ikatan ukhuwah.
Perbedaan pendapat dalam hal-hal yang umum dan mubah bisa saja terjadi. Misalnya, ketua Rohis ingin bikin acara sanlat, sementara anggota Rohis ada yang nggak setuju karena misalnya ngerasa acara seminar remaja justru lebih pas ketimbang sanlat. Nah, kalo hal itu nggak dikomunikasikan dengan baik, bisa muncul konflik yang bisa mengancam keutuhan ukhuwah kita.
Jadi gimana dong? Begini, intinya me­mang kudu bisa saling menjaga perasaan. Boleh berbeda pendapat, tapi jangan sampe beran­tem. Kalem aja. Toh juga untuk kebaikan bersa­ma. Lagipula adanya konflik itu kan untuk men­dewasakan kita. Bukan malah menjadikan kita berpikir seperti anak kecil, yang menganggap bahwa setiap konflik selalu berarti ancaman. Itu salah. Sebab, adakalnya konflik itu justru per­tanda ada kepe­dulian, bukan sebaliknya. Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengelola konflik itu dengan baik.
Inget lho, itu baru sesama aktivis Rohis. Skalanya masih kecil. Gimana kalo itu harus berhadapan dengan yang lebih luas lagi, misal­nya di sekolah dan di lingkungan masyarakat. Wah, di situ menuntut kita untuk ekstra hati-hati dalam bersikap dan mengambil keputusan. Sebab, masalahnya bisa amat njlimet.
Oke deh, saya sih insya Allah yakin bahwa kamu masih bisa sepaham dan sejalan dengan temen-temen satu kelompok pengajian. Tapi adakalanya ketika kita berhadapan dengan teman dari ke­lompok pengajian lain malah saling sikut, karena, maaf saja, ‘rebutan’ lahan dakwah mi­salnya. Sayangnya, itu banyak terjadi, lho. Lebih tragis lagi berlangsung turun temurun dengan dibumbui dendam segala. Wah, wah, wah.
Anehnya lagi, seringkali generasi di bawahnya juga ikut-ikutan tanpa tahu kenapa mereka harus seperti itu. Duh, di sini kita sudah kalah. Dan yang tertawa, selain setan, tentunya adalah musuh kita, orang-orang kafir itu. Itu artinya, tugas mereka jadi mudah, karena tinggal ngomporin aja salah satu kelom­pok dan kemudian menerapkan strategi ‘belah bambu’. Sebagaimana yang pernah sukses dijalankan oleh Belanda saat menjajah negeri ini, yakni antar para pejuang kemerdekaan saling bertarung mati-matian. Sementara yang menjadi peme­nang adalah penjajah. Mengenaskan!
Padahal sobat muda muslim, selama masih sesama kaum muslimin, dan jika kemu­dian dalam perjalanannya muncul konflik karena perbedaan pendapat, jangan langsung musuhan. Nggak baik. Kalo kita musuhan, baik itu diwu­judkan dengan adu fisik ataupun perang dingin, padahal itu sesama aktivis Islam, aduh, itu artinya ukhuwah yang selama ini digembar-gem­borkan cuma sekadar teori. Praktiknya nol!
Dalam kitab Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah diterangkan bahwa Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita untuk tidak menyakiti sesama mus­lim, baik dengan perkataan atau perbuatan, bertawadhu kepada sesama muslim, tidak me­nyombongkan diri di hadapannya, tidak meng­gunjing orang lain di hadapannya dan tidak men­dengarkan gunjingannya. Juga tidak boleh menghindari (baca: marahan or musuhan) sesa­ma muslim selama lebih dari tiga hari.
Nabi saw. bersabda: ”Tidak diperbolehkan seorang mukmin untuk menghindari mukmin lainnya lebih dari tiga hari. Jika sudah lebih dari tiga hari lalu dia bertemu dengannya, maka hendaklah dia mengucapkan salam kepadanya. Jika dia menjawab salamnya, maka keduanya bersekutu dalam pahala. Jika dia tidak men­jawab salamnya, maka yang mengucapkan salam sudah terbebas dari dosa menghin­darinya.” (HR Bukhari dan Abu Daud)
Maka, jika ada di antara kita, hanya karena berbeda kelompok pengajian, hanya karena berbeda guru pengajian, atau hanya karena perbedaan kitab yang dikaji, lalu kita memasang kuda-kuda dan siap perang–bahkan banyak kejadian saling mengumbar fitnah–aduh, mengerikan sekali. Jadi, di mana praktik ukhuwah islamiyah yang selama ini dikaji? Apakah nggak ada kesempatan untuk bicara menyamakan persepsi?
Sabda Rasulullah saw.: “Jangan kamu sa­ling dengki dan iri, dan jangan pula meng­ungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan, serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, dengan tidak mendzaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya. Letak takwa ada di sini (Nabi saw menunjuk ke dada beliau, sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan sudaranya yang muslim. Seorang muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan muslim lainnya” (HR Muslim)
Oke deh sobat, semoga kita bisa merawat ukhuwah islamiyah kita. Jangan saling membenci dan melukai dengan sesama saudara seakidah ye. Nggak baik. Soalnya, kalo tetep saling membenci dan bahkan melukai—baik secara fisik maupun perasaan—dengan sesama kaum muslimin, itu artinya nggak ada saling cinta. Betul ndak?
Itu sebabnya, jangan berani bilang cinta kepada kaum muslimin, kalo pada kenyataannya kita nggak bisa menjalin ukhuwah islamiyah, apalagi merawatnya. Bagaimana?
Salam,
O. Solihin

Selasa, 26 November 2013

Untung-rugi Hidup Menjomblo

panti-jombloPernah dengar lagu Bang Rhoma Irama yang judulnya “Bujangan”? Kalo pengen tahu, begini nih sebagian lirik asiknya: “Katanya enak menjadi bujangan. Ke mana-mana tak ada yang larang. Hidup terasa ringan tanpa beban. Uang belanja tak jadi pikiran…”
Bang Rhoma benar. Hidup membujang memang terasa bebas. Nggak perlu mikirin ada yang bakal ngelarang kalo kita pergi tanpa pesan sekali pun (iya lah, mo bilang sama siapa, wong nggak ada yang ngiket). Jadi bujangan itu tanpa beban. Karena nggak ada tanggung jawab yang besar secara khusus dan rutin. Asli cuma fokus ngurus en nyenangin diri sendiri. Nggak bakalan ada yang cerewet kalo kita pulang malam (terutama yang ngekos sendiri). Pulang kuliah or pulang kerja bisa bebas jam berapa aja. Nggak perlu takut dapat pertanyaan ini dan itu dari orang rumah.
Waktu saya remaja dulu (ciee…, lagi KLBK–kenangan lama bangkit kembali–neh!). Rasanya memang enak hidup menyendiri itu. Apalagi di masa puber di mana pertumbuhan fisik dan kepribadian itu saya dibesarkan oleh lingkungan yang ada. Jauh dari orangtua, jauh dari kerabat. Tentu itu membuat saya harus belajar mandiri. Ada enaknya juga sih. Saya jadi belajar untuk mengurus segala keperluan sendiri. Bebas mengatur jadwal kegiatan. Sesuka saya. Tak perlu memikirkan omelan ortu kalo pulang malam. Nggak perlu was-was ditegur orang rumah kalo kebetulan lagi malas-malasan dan kegiatan utamanya cuma tiduran seharian. Bahkan saya nyaris tak pernah merasakan beban yang besar dan berat selama hidup sendiri itu.
Kalo kebetulan di sekolah ada kegiatan ekstrakuler saya bisa ikutan tanpa harus ijin dulu ke orang rumah. Bayangkan jika saya hidup serumah dengan orang lain yang terjalin ikatan batin atau kekerabatan, pasti saya setidak-tidaknya harus ijin kepada mereka. Mungkin jika ijin terlalu sulit, maka laporan pasti harus disampaikan. Jadi nggak pergi begitu aja tanpa pesan.
Jika masa-masa sekolah dan kuliah beban kehidupan kita tak terlalu banyak, maka setelah bekerja pasti kian bertambah. Maklum saja, waktu sekolah atau kuliah beban kita cuma sebatas belajar dan bagaimana mengelola keuangan hasil kiriman dari ortu. Ya, praktis beban hanya itu. Sisanya adalah berbagai hal yang membuat kita bisa bebas melakukan kegiatan apa pun.
Hidup menyendiri bisa jadi sepi dari gosip lho. Bayangkan dengan teman yang udah punya gebetan. Nggak hadir sekali saja dalam janji yang disepakati bisa muncul kecemburuan dan rasa curiga. Jangan-jangan dia kepincut yang lain. Belum lagi kalo gosip dari kanan-kiri yang terus bikin merah kuping. Hmm.. mendingan sendiri kan, terasa nikmatnya tanpa beban berat. Enjoy aja lagi.
Benar. Coba deh perhatiin temen yang udah punya pacar waktu sekolah, pasti ia harus ngatur jadwal lebih ketat. Ia nggak bisa nyantai kayak kita yang masih ngejomblo alias hidup menyendiri. Kita nggak punya beban, tapi teman yang udah punya gandengan pasti punya beban tambahan. Merasa terikat dengan status sebagai pacar. Itu sebabnya, biasanya mereka harus tampil menyenangkan di hadapan sang pacar. Tak boleh ada cacat cela karena pacaran itu konon kabarnya sebagai bentuk “jual-beli”. Jika cocok akan dibeli dan jika tidak sreg bisa ditinggalin. Maka, dalam rangka menjaring dan menebar perangkap, satu sama lain harus menampilkan kualitas diri yang sebaik mungkin.
Oya, teman-teman saya dulu ketika sama-sama bujangan biasa pulang sampai larut malam. Bebas. Meski jam kerja udah habis, tapi masih betah nongkrong di kantor. Sekadar untuk main gim, atau berselancar di dunia maya: mulai dari nyari data sampe chatting. Nggak mikirin belanja dapur, karena jangankan dapurnya, orang yang akan ngurus dapurnya aja nggak ada.
Buat yang putri juga sama kok. Istilah kata di tempat kos berantakan sekali pun nggak bakalan ada yang nyindir or ngomelin. Nggak dipusingkan juga dengan rengekan anak kecil dan keluhan suami. Mengenakan dandanan di dalam rumah yang biasa aja nggak bakal ada yang merhatiin atau semburan protes dari suami. Bebas sesukanya. Betul ndak?
Ya bisa jadi begitu. Tapi… jangan salah lho, ibarat dua sisi mata uang, selain asyik melajang alias menjadi bujangan ternyata ada puyengnya juga hidup ngejomblo itu. Segalanya dilakukan sendiri. Nggak ada pendamping hidup yang setia menemani kita berbagi suka dan duka. Ah, ngejomblo itu ternyata nggak selalu menyenangkan ya?
Betul. Arman Maulana aja pernah bersenandung getir bersama GIGI: Semua itu mimpi. Ooo..oououoo. Semua itu bohong. Ooo..oououoo. Aku tetap saja. O .. tetap sendiri” begitu ungkapan hatinya dalam lagu Jomblo. Lebih murka lagi kayak kucing diinjek buntutnya kalo sampe digosipin “hidup menjomblo tanda tak laku!” Waduh!
Di lagu Bujangan hasil karya cipta Bang Rhoma lebih detil lagi menggambarkan ruginya hidup menjomblo, “Tapi susahnya menjadi bujangan. Kalau malam tidurnya sendirian. Hanya bantal guling sebagai teman. Mata melotot pikiran melayang. O, bujangan … bujangan. Bujangan … bujangan. Susahnya kalau jadi bujangan. Hidup tidak akan bisa tenang. Urusi segala macam sendirian.”
Kawan, boleh dibilang inilah untung-ruginya hidup membujang. Kamu bisa ukur sendiri seberapa besar untungnya, atau seberapa tekor ruginya. Tiap-tiap orang tentunya punya standar yang beda-beda. Maklum kok, wong merasakannya juga bisa beda-beda. Ada yang merasa jauh lebih untung dengan menyendiri, malah ada juga yang merasa punya beban saat hidup menyendiri. Itu semua bergantung pengalaman hidup dan juga cara mereka mengelola tantangan hidup. Ada yang menikmati, tapi nggak sedikit yang menderita. Itu bisa ditanyakan kepada masing-masing.
Namun, seperti pesan Bang Napi, “Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah.. waspadalah!” Kita sendiri nggak punya niat berbuat jahat. Tapi kondisi lingkungan dan kesempatan nyaris selalu ngomporin untuk berbuat nekat. Maklumlah hidup ngejomblo banyak sekali godaannya. Khususnya godaan yang berurusan dengan birahi.
Benar juga pesan Bang Rhoma yang cukup bagus di lagu Bujangan“Hoooo.., boleh saja hidup membujang ‘Pabila hidup belum mapan. Asalkan jangan suka jajan. Hoooo.. tidak boleh hidup membujang kalau untuk bebas berkencan dengan gonta-ganti pasangan. Kalau semuanya sudah mungkin tentu lebih baik kawin. Karena bahayanya hidup sendirian, berat menahan godaan”
Sebenarnya jauh sebelum Bang Rhoma bikin lirik, Rasulullah saw. udah mewanti-wanti para pemuda untuk menikah melalui sabdanya, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah, maka segeralah menikah, karena nikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (Muttafaqun alaihi)
Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan pencerahan dan tentunya bisa menggerakkan niat temen-teman yang sudah mapan dalam segala hal untuk berpikir lebih serius dalam masalah ini. Lebih semangat dan tentunya bergairah dengan anugerah kehidupan lengkap dengan segala keindahan yang diberikan Allah Swt. Nggak salah kok kalo kita meraih segala kesenangan duniawi, asalkan itu didapat  dengan jalan yang benar dan baik sesuai panduan syariat Islam. Hmm… bagaimana, apakah masih tetap ingin menjomblo?
Salam,
O. Solihin

Senin, 25 November 2013

Jangan Cuma Bisa Bilang: “Cinta”

601868_623801724314701_1234632902_nJangan pernah ucapkan kata cinta jika kita masih tak bisa memberikan pengorbanan terbesar dalam hidup kita demi yang kita cintai. Jangan sampe keluar kata cinta jika kita tak berani membela yang kita cintai. Sebab, cinta bukan hanya ucapan yang manis di bibir, bukan kata yang kedengarannya indah di telinga, dan bukan pula tulisan yang membuat kita merasa bahagia. Bukan hanya itu. Karena cinta harus diwujudkan dalam perilaku. ‘Kalimah sakti’ itu harus tercermin dalam perbuatan dan pikiran. Sekali berani bilang cinta, maka seharusnya kita akan berani berkomitmen untuk berkorban, berani membela, dan berani bertanggung jawab terhadap apa yang kita cintai.
Tolong jangan menggombal atas nama cinta. Jangan pula pura-pura jadi orang yang penuh cinta dengan menipu diri karena sejatinya kita belum sepenuhnya mencintai apa yang kita cintai. Cinta itu bukan main-main, cinta adalah wujud dari keseriusan kita bahwa kita akan berusaha melakukan apa saja demi yang kita cintai. Kalo kita mengecewakan yang kita cintai, tentunya cinta kita palsu. Kalo kita mengkhianati apa yang kita cintai, tentunya bukan cinta sejati. Sebab, jika benar-benar cinta kepada apa yang kita cintai, kita nggak bakalan mengecewakan apalagi mengkhianatinya. Tul nggak sih?
Maka, jangan berani bilang cinta kepada Allah Swt., jika kita ternyata masih melanggar aturanNya. Sungguh sangat aneh jika kita berani mengatakan cinta kepada Allah, sementara kita doyan alias hobi banget menolak perintahNya, sementara laranganNya malah kita lakukan. Pastinya ada yang error alias tulalit kalo kita bilang: “Aku cinta kepada Allah Swt.”, tapi dalam kelakuan kita nggak mencerminkan kecintaan kita kepadaNya.
Misalnya nih, meski sholat rajin dan puasa rajin, tapi perintah Allah Swt. yang lainnya seperti menutup aurat kalo keluar rumah nggak kita lakukan. Anak cewek yang tertutup rapat dengan kain mukena ketika sholat, seharusnya menutup rapat auratnya pula ketika keluar rumah. Seringnya kan nggak ya. Rapi pada saat sholat, begitu keluar rumah malah tampil mengumbar aurat.
Bro, jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw., jika ternyata kita masih melanggar aturan yang ditetapkan Rasulullah saw. Sebab, apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sejatinya adalah wahyu dari Allah Swt. Ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firmanNya: “…kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS an-Najm [53]: 2-4)
Kalo kita masih mengumbar hawa nafsu dengan melakukan aktivitas pacaran, berarti selain melanggar aturan Allah Swt., juga melanggar aturan Rasulullah saw. Dan, tentu aja itu artinya nggak mencintai Allah Swt. dan RasulNya. Allah menjelaskan larangan mendekati zina (lihat QS al-Isra ayat 32). Nah, hadis Nabi juga ada. Beliau saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan.” (HR Ahmad)
Terus, jangan pula ngobral bilang cinta kepada ortu kita, jika kita masih suka melawannya, mencelanya, merendahkannya, dan bahkan menghinanya. Bohong banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama ortu kita, tapi setiap ortu minta tolong untuk kebaikan kita malah menolaknya. Percuma bilang cinta sama ortu, tapi kalo diingetin untuk kebaikan dan kebenaran kita malah menghardiknya. Anak macam apa itu? (muhasabah diri yuk!)
Bro en Sis, jangan pula kita dengan mudah bilang cinta kepada sesama muslim, kalo prakteknya dalam kehidupan ternyata kita nggak mau bekerjasama saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling membantu jika di antara kita mengalami kesusahan. Bohong banget ngaku-ngaku cinta kepada sesama kaum muslimin, tapi ketika ada saudara seakidah kita minta tolong malah dicuekkin. Apalagi sesama aktivis dakwah, mentang-mentang beda kelompok dakwah, lalu nggak mau menolong jika beda kelompok dakwah. Lebih parah lagi jika para aktivis dakwah itu masih sodara kandung. Karena kakaknya beda kelompok dakwah dengan adiknya, lalu ketika mereka membutuhkan pertolongan malah disuruh minta ke temen-temen dari kelompok dakwah masing-masing. Yee.. mana ukhuwahmu? So, bohong banget ngaku-ngaku cinta sesama muslim tapi dengan sesama kaum muslimin sendiri nggak mau menolong hanya karena yang akan ditolong beda kelompok dakwah.
Oya, rasa-rasanya kita perlu bertanya kepada diri sendiri, benar nggak sih kita cinta sama diri kita sendiri? Jangan ngaku-ngaku cinta sama diri sendiri, jika kenyataannya kita senang menjerumuskan diri dalam bahaya dan kerusakan. Bohong banget bilang cinta ama diri sendiri, tapi setiap hari kita nenggak minuman keras, sering juga mengkonsumsi narkoba, tubuh kita dipenuhi tattoo. Bahkan banyak di antara kita yang mengumbar auratnya dan dipajang di sampul majalah porno atau joget-joget kayak cacing kepanasan mempertontonkan keindahan tubuhnya di layar televisi (termasuk mereka yang menjerumuskan tubuh-tubuh mereka dalam perzinahan).
Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang nggak cinta pada dirinya sendiri. Kalo dipikir-pikir, memang sih tubuh kita ya tanggung jawab kita sepenuhnya. Mau diapakan saja terserah kita. Wong, itu tubuh kita. But, kita kudu ingat sobat. Bahwa tubuh kita bukan milik kita. Tubuh kita sejatinya milik Allah Swt. Jadi, tuh tubuh kudu kita pelihara dan dijaga sesuai aturan dari yang menciptakan kita, yakni Allah Swt.
Hmm… coba kita merenung sejenak en pikir-pikir tentang keberadaan kita saat ini. Malu nggak sih kalo kita dapetin predikat muslim, sementara kita nggak mau diatur sama aturan Islam? Padahal, dengan predikat muslim itu kita jadi punya komunitas dan memiliki ciri khas. So, kalo menjauh dari Islam dan aturannya, bukan tak mungkin kita bakalan sesat. Termasuk nih, kalo kita menyimpang dari ajaran Islam karena nggak mau diatur sama Islam, ada kemungkinan juga akhirnya celaka karena akan dapetin azab Allah di akhirat nanti. Sumpah!
Firman Allah Swt.: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzab [33]: 36)
Yuk mari, kita tunjukkan komitmen dalam mencintai berbagai hal, khususnya mencintai Islam. Malu (dan yang jelas berdosa) banget sebagai muslim, bila yang kita cintai adalah segala hal yang menjauhkan diri kita dari hidayahNya. Itu sih namanya cinta tanpa komitmen. Mencintai Islam jadinya sekadar pemanis bibir saat diucapkan, tapi miskin dalam gerak dan komitmen. Sayang sekali bukan? Semoga kita bisa tetap mencintai Islam dan syariatnya dengan menunjukkan komitmen yang serius dalam upaya mewujudkan cinta kita tersebut.
Salam,
O. Solihin

Minggu, 24 November 2013

Ruginya Pacaran

bahaya-pacaranHmm… ini kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya (silakan cek: Kenapa sih pada pengen pacaran?). Nah, kamu kudu ngeh juga soal yang satu ini. Rugi di akhirat udah jelas. Rugi di dunia juga sebetulnya sejelas siang hari. Cuma, bisa dinetralisir dengan ‘kenikmatan’ yang langsung didapat. Dasar! Pengen tahu lebih detil? Mari kita tunjukkan (tulisan ini saya adaptasi dari tulisan saya di buletin remaja Studia yang pernah saya kelola di tahun 2003 silam):
Pertama, pacaran diduga kuat bikin kantong bolong (biasanya untuk anak cowok). Gimana nggak, kamu jadi kudu nyiapin anggaran lebih; selain buat diri kamu, tentunya biar disebut care ama yayang-nya, kalo jalan kudu punya pegangan. Malu dong kalo jalan nggak punya duit. Entar diledekin pake plesetan dari lagunya Bang Iwan Fals, “Jalan bergandengan tak pernah jajan-jajan…” (hehehe..). Itu sebabnya, anak cowok kudu nyiapin segalanya buat nyenengin sang pacar. Iya dong, masak makan sendirian kalo lagi jalan bareng? Emangnya pacar kamu obat nyamuk dianggurin aja? So, pastinya kamu bakalan kena ‘roaming’ terus (backsound: rugi dah gua..).
Tapi jangan salah lho, bisa jadi anak cewek juga kudu nyiapin dana (kalo nggak minta ke ortu nodong sama pacarnya—hehehe… teman cowoknya kena juga deh). Buat apa? Huh, tanpa komunikasi, rasanya dunia ini sepi, bro! buat beli pulsa HP, terus sekarang kan jamannya inter­net, ya untuk chatting atau kirim-kirim e-mail cinta. Huh! Pacaran berat diongkos namanya. Bener-benar terpadu, alias terpaksa pake duit!
Kedua, bisa kehilangan privasi lho. Iya lah, kamu baru bisa nyadar kalo kamu udah putus sama yayang kamu. Betapa kamu waktu itu udah memberikan informasi apapun sama kekasihmu. Rahasia luar-dalam dirimu bisa kebongkar tanpa sadar. Celakanya, banyak pasangan yang akhirnya putus. Nggak ada jaminan kan kalo akhirnya pacarmu cerita sama yang lain setelah putus sama kamu? Atau… bisa juga putus sama kamu karena udah tahu kebiasaan jelek kamu (koor: kasihan deh lo!)
Ketiga, mengganggu aktivitas produktif. Tentu saja. Sebab, pikiran kamu manteng terus ke si dia. Inget terus sama doi. Maklumlah, bagi kamu yang kena ‘sihir’ kasmaran, pastinya inget terus sama doi. Kayaknya nggak rela kalo sehari aja nggak ketemu or denger suaranya. Nggak afdol kalo tiap jam nggak dapetin update info soal doi (emangnya situs berita? Hehehe… *tapi adanya situs jejaring sosial sebenarnya udah jadi alasan untuk bisa update info pacar kamu kok). Persis kayak pelajar yang saban harinya makan sambel melulu, katanya sih bisa bodoh. Lho? Iya, kalo ‘kerjaan’ makan sambel itu membuat doi lupa belajar (hahaha…). Nah, pacaran disinyalir bisa membunuh produktivitas kamu. Hari libur joss terus sama pacar kamu; ke tempat rekreasi, ke mall, dan sekadar jalan-jalan nggak jelas juntrungannya. Padahal, bisa dipake untuk istirahat or kegiatan bermanfaat seperti olahraga, ngelancarin belajar ngaji, menghadiri kajian keislaman, dsb. Tul nggak?
Padahal hari biasa juga dipake ngedate terus sama gebetan kamu. Kagak ada matinya. Jadi produktivitasnya berubah. Tadinya mantengin pelajaran dan kegiatan bermanfaat lain, pas pacaran jadi mantengin yayang-nya. Apa itu nggak bikin kamu jadi kismin, eh, miskin produktivitas? Aduh, celaka banget deh!
Keempat, rentan untuk sakit hati. Bener. Kegembiraan bisa berubah jadi kesedihan. Maklum, namanya juga baru pacar, belum ada ikatan kuat yang bisa melindungi kamu berdua. Jadinya, gampang banget untuk putus. Cuma soal perbedaan kecil bisa jadi api yang membara. Ujungnya, putus deh. Kalo udah putus cinta, aduh, sakit rasanya. Bener. Perlu kamu pahami, kebanyakan orang berpacaran adalah petualangan. Jadi, bukan untuk melanggengkan ikatan itu, tapi justru masih cari-cari kecocokan. Bahaya!
Kelima, jangan bangga dulu punya pacar yang tampilannya oke punya. Senyuman mautnya bisa menenangkan kamu, sekaligus bikin gelisah. Siapa sudi kalo punya cowok mata keranjang? Nggak bisa teteg di satu hati. Masih nyari penyegaran dengan akhwat, eh, cewek lain. Siapa tahu malah kamu yang jadi ‘sephia’-nya (kekasih gelap seperti di lagu lawas Sheila on 7). Cewek lain justru kekasih sejatinya. Gubrag! (suara satu-suara dua: kasihaaan deh kamu…)
Keenambeware alias waspadalah! Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya saja, tapi juga karena ada kesempatan. Gaul bebas bisa bablas euy! Kalo kamu udah saling lengket, jangan harap akal sehat kamu dipake untuk mikir bener. Justru kamu malah bimbang dengan ‘suara-suara’ yang ngomporin supaya melakukan “begituan”. Pastinya kamu nggak mau dong terjerat seperti kasus banyak remaja yang menikah karena udah hamil duluan; Married by Accident! Naudzubillahi min dzalik!
Salam,
O. Solihin

Sabtu, 23 November 2013

Kenapa sih pada pengen pacaran?

pura24Bener. Kenapa sih kamu-kamu pada pengen ngelakuin pacaran? Apa enaknya paca­ran? Hehehe… jangan bingung dulu Mas, kita coba bantu ngasih bocorannya. Ada beberapa alasan yang bisa kita telusuri di balik maraknya aktivitas ilegal dalam ajaran Islam ini:
Pertama, biar disebut dewasa. Banyak teman remaja yang melakukan pacaran, biar disebut udah dewasa. Maklum aja, aktivitas baku syahwat itu kayaknya ganjil banget kalo dilakukan oleh bocah cilik. Selain ganjil, anak kecil nggak pantes ngelakuin pacaran.
Sobat muda, secara biologis boleh jadi kamu dewasa. Kamu yang cowok udah mimpi basah, tubuhmu udah mulai memproduksi sel sperma, suaramu pun udah berubah jadi berat, udah tumbuh rambut di sana-sini, jakunmu pun mulai kelihatan. Kamu yang puteri, sudah mulai haidh, tubuhmu udah memproduki sel telur, beberapa bagian tubuh mengalami pertumbuhan pesat. Itu secara fisik. Dan itu nggak salah kamu disebut dewasa.
Tapi, ukuran dewasa nggak selalu diten­tukan dengan perubahan fisikmu, namun diten­tukan pula dengan cara kamu berpikir dan cara kamu bersikap. Nah, dewasa dalam berpikir dan bersikap harus kamu miliki juga dong. Sebab, banyak orang mengaku udah dewasa, tapi ternyata nggak bisa atau belum bisa berpikir dewasa. Seperti apa sih berpikir dewasa? Kamu berani bertanggung jawab dan bisa menentukan masa depan kamu sendiri. Dengan cara yang benar tentunya. Itu baru dewasa.
Itu sebabnya, kalo kamu menganggap bahwa untuk bisa dikatakan udah dewasa adalah dengan melakukan pacaran, berarti kamu sebetulnya belum bisa dikatakan dewasa, terutama dalam berpikir dan bersikap. Why?Sebab, aktivitas pacaran jelas mendekati zina. Dan itu dosa. Jika kamu masih tetap melaku­kannya, itu artinya kamu belum tahu arti sebuah kedewasaan. Padahal, orang yang ber­pikir dan bersikap dewasa, akan lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Nggak asal jalan aja. Tapi penuh perhitungan, bila perlu mengkal­kulasi untung-rugi dari sebuah perbuatan yang kamu lakukan. Sebab, itulah yang namanya bertanggungjawab. Lha, yang pacaran? Rata-rata cuma seneng-seneng aja tuh. Berarti nggak punya prinsip dong? Berarti belum dewasa dong? Tepat.
Kedua, having fun. Walah, ini juga asal-asalan. Tapi inilah kenyataan yang kudu kita hadapi. Banyak teman remaja yang mengaku bahwa alasan melakukan pacaran sekadar having fun aja. Sekadar bersenang-senang. Nggak punya alasan lain. Barangkali teman re­maja yang begitu menganggap bahwa pacaran sekadar hiburan di masa sulit dan obat stres saat menghadapi persoalan hidup.
Bisa jadi, teman-teman remaja yang nggak mendapatkan kasih sayang di rumah, karena kebetulan orang tuanya jarang di rumah, ia nyari kesenangan di luar. Bisa dengan kekasihnya (baca: pacaran), bisa juga lari ke minuman keras dan narkoba. Di rumah sumpek, maka pelampiasan untuk mencari kesenangan­nya lewat pacaran. Pacaran sering diyakini sebagai obat mujarab untuk menghilangkan stres. Gimana nggak senang, wong, jalan berdua, mojok berdua, bisa curhat, bisa menikmati hidup ini dengan nyaman dan tenang.
Benarkah pacaran selalu memberikan kesenangan? Ternyata nggak tuh. Banyak pa­sangan yang pacaran justru cek-cok melulu. Belum lagi kalo beda ambisi. Maklum masih pada muda, emosinya masih meletup-letup. Jadi, gi­mana mau senang-senang jika tiap hari ‘panas’ melulu. Nggak banyak sih yang begitu, tapi tetap, bahwa alasan berpacaran semata untuk having fun, juga nggak dibenarkan. Baik secara hitung-hitungan logika, apalagi hukum syara.
Ketiga, pacar sebagai motivator dan katalisator. Duh, emangnya pacaran sejenis suplemen, pake menambah semangat segala? Tapi itulah yang terjadi. Alasan yang asal-asalan memang. Namun inilah yang juga banyak diakui teman remaja. Ada yang ngedadak jadi getol datang ke sekolah en rajin belajar. Rela datang lebih awal ke sekolah. Tujuannya, biar bisa ber­lama-lama dengan sang gacoan. Maklum, kalo di sekolah sang gebetan ada, rasanya muncul semangat untuk belajar. Ah, yang benar nih? Jangan ngigau begitu, ah!
Benarkah pacaran bisa tambah se­mangat belajar? Naga-naganya sih alasan itu cuma direkayasa. Coba aja kamu pikirin, gimana bisa belajar jadi getol kalo di sekolah aja yang diingetin cuma kekasihnya. Boleh jadi pelajaran yang diikuti di kelas memantul sempurna, kare­na otaknya udah full dengan memori tentang sang kekasih hati. Lagi pula, yang berhasil jadi juara kelas or juara umum di sekolah bukan karena mereka pacaran. Kalo memang pacaran nambah semangat untuk belajar, harusnya semua yang pacaran tambah pinter, karena belajar terus. Buktinya? Justru yang pacaran selalu bermasalah dalam belajarnya.
Memang sih ada satu-dua yang pacaran tapi prestasinya tetep bagus. Tapi itu bukan jadi alasan lho untuk kamu teladani. Sebab, puluhan, atau mungkin ratusan remaja yang pacaran, justru prestasi akademiknya jeblok. Yang pinter itu pun, karena emang otaknya tokcer banget. Selain memang mereka nggak nafsu-nafsu amat untuk pacaran. Karena doi biasanya lebih mementingkan belajar. Nah lho?
Jadi, emang nggak ada pengaruh secara signifikan sih antara pacaran dan prestasi bela­jar. Nggak ada. Itu mah, cuma alasan klise alias dibuat-buat aja untuk melegalkan ajang baku syahwat yang dilarang itu. Tapi sejujurnya, pendapat kita neh, yang udah-udah, makin kuat pacarannya, biasanya malah makin malas belajarnya. Ngaku aja deh. (Idih kayak interogasi aja ya? Hehehe..)
Tapi terlepas dari itu semua, entah pacaran itu bisa menumbuhkan semangat belajar atau malah memadamkan semangat belajar, tetep aja perbuatan tersebut haram untuk dilakukan. Karena ukuran manfaat dan mafsadat(keburukan) bukan dinilai oleh kita. Kita, kaum muslim, diajarkan untuk melakukan perbuatan yang ihsan. Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya. Baik niat maupun caranya. Dua-duanya kudu sesuai dengan aturan Allah dan RasulNya. Firman Allah Swt.: “…supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (TQS al-Mulk [67] : 2)
Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perka­taan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi saw.”
Saking pentingnya ihsan dalam beramal ini, Imam Malik mengatakan: “Sunnah Rasulullah saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.”
Nah, meskipun niatnya bagus untuk menambah semangat belajar (mungkin ikhlas karena Allah), tapi pacaran adalah perbuatan maksiat. Jadi nggak klop tuh.
Salam,
O. Solihin