Koleksi

Flag Counter

Jumat, 13 Desember 2013

Tentang *Kerajaan Arab* (saat ini)

Berawal dari perdebata singgkat di sebuah forum:

HASIL NGGOSEK ARTIKEL DI GOOGLE

bagi yg NIAT baca, n PINGIN TAU, sekalian tes KESABARAN ya. ^_^




th
Para pengunjung & pembaca blog SalafyIndonesia yg budiman. Pemilik Blog tidak akan memberikan banyak komentar di sini. Kita hanya akan menayangkan beberapa foto nyata dari fenomena yang kite temui di Saudi, terkait dengan hubungan erat antara Saudi-Yahudi Zionis-Wahabisme.
Silahkan para pembaca yang budiman mengamati, merenungkan, berpikir sejenak lantas menilainya sendiri.
Anda kenal istilah dan logo ini bukan?
Illuminati SymbolsYa, itu masih ada kaitannya dengan pembahasan yang di $ 1  US itu.
dollar_bill_showing_new_world_orderSekarang kita perhatikan, ternyata simbol atau logo itu banyak kita temukan di lembaga yang berafiliasi/condong ke sekte Wahaby dan atas dukungan Saudi. Kita perhatikan;
Monumen apa ini, Jeddah Eye (1 mata)Monumen 1 mata ini berada di Jeddah dengan sebutan ‘Jeddah Eye’. Ada apa ini?
RS Jeddah dg Logo ZionLogo itupun dijadikan simbol salah satu Rumah Sakit di Jeddah. Apa ini kebetulan? Tunggu dulu…
Di tingkat nasionalpun logo mata 1 dipakai untuk lembaga pemerintah untuk urusan Seni dan Kebudayaan. Apa ini kebetulan? Kita lihat lagi…
Pusat-Kebudayaan-Zionis-Saudi
LogoSecurity-Saudi-ZionisDi atas ini sebagai bukti, masalah security/keamanan juga bersimbol 1 mata. Ada apa?

saudi-arabia-police-badgeDinas kepolisian pun menggunakan logo mata 1. Kenapa? Lihat foto-foto di bawah ini dengan teliti:
Zionis Penjaga Haramain (Makkah-Madinah)
Polisi-ZionisSaudiWahhaby
police which patrol outside the Masjid with dajjali eyeSekali lagi perhatikan, apa itu semua kebetulan?
Lihat dg teliti
Jika pihak kepolisian saja sudah mereka kuasai maka jangan heran jika banyak sombol LSM-LSM di Saudi yang menggunakan logo yang mirip. Ini contohnya:
LSM sosial di Saudi
Kenapa semua itu bisa terjadi? Jawabnya, karena penguasanya pun Zionis Dajalis. Lihat simbol kerajaannya:
Oleh karenanya, jangan heran jika kaum muslimin yang melaksanakan Haji atau Umrah, yang menangani juga agen Zionis Wahaby Dajalis. Lihatlah simbol mereka (urusan Haji/Umrah):
Haji pun ditangani Zionis Dajalis Saudi Wahaby
Sehingga pengawasan gerak-gerik jemaah haji & umrah pun selalu dipantau oleh Zionis Wahaby Dajalis:
Zionis Pengawas Masjidin Nabi & Masjidil HaramHubungan apa yang di kantor tadi dengan analisa ini:
Logo Saudi Zionis
Makanya tidak mengherankan jika di banyak tempat di Saudi -termasuk Makkah dan Madinah- terdapat gambar 1 mata, seakan mereka bangga telah menguasai Tanah Suci kaum muslimin. Ini contohnya:
Ini kebanggaan mereka
kesatuan khusus dengan logo Jangka terbalik - al Masuniyyah

Logo Freemason di kesatuan khusus Al Masuniyyah
Logo Kesatuan Polisi Militer Arab Saudi

Logo kesatatuan Polisi Militer kerajaan Arab Saudi memiliki unsur illuminati yang cukup kental, walaupaun tanpa ada simbol mata horus, segitiga ataupun jangka & penggaris namun adanya Anjing sebagai logo utama mencerminkan bahwa Polisi Militer kerajaan Arab Saudi mengambil ideologi Mesir kuno. Ideologi Mesir kuno merupakan ideologi yang di anut oleh illuminati dan freemason

Bangunan mereka(pun) entah sengaja atau tidak:

Tugu Geometri di Engineering Square di Jeddah
Letaknya di Lapangan Al Handasa  salah satu landmark ternama di Kota Jeddah dan merupakan salah satu persimpangan jalan terbesar. Di tengah-tengah alun-alun ini ada alat geometris raksasa seperti kompas, busur derajat, segitiga dan penggaris. Ini adalah salah satu alat geometris terbesar di dunia.
Bandingkan dengan yang ini

Menara Pusat Kerajaan dibangun disekitar Riyadh, ibukota Arab Saudi. Bangunan ini berisi kantor, apartemen, toko, dan hotel. Di bagian atas adalah sebuah dek observasi.
Kingdom City Jeddah bangunan tertinggi dunia yang akan mengalahkan Burj Khalifa setidaknya 568 kaki (173m) diatasnya
Al – Faisaliah Tower
Bandingkan dengan yang ini
Tugu Bola Jeddah
Tugu Bola Jeddah
Tugu Atom yang lebih terlihat seperti mata
Tugu Atom di Jeddah yang lebih terlihat seperti mata
Pelabuhan Jizan Arab Saudi – Selatan
Bandingkan dengan yang ini
Jeddah Eye
Monumen di Jeddah-Arab Saudi dikenal dengan nama “JEDDAH EYE”.
Tugu Pedang lebih mirip Menara Obelisk
Tugu Pedang di Jeddah lebih mirip Menara Obelisk
Musium Nasional King Abdul Aziz
Musium Nasional King Abdul Aziz
Dan dibawah ini adalah Master Plan kota suci Mekah, dapat terlihat dari atas seperti bentuk apa
Bandingkan dengan yang ini
Upacara penutupan Olympiade London 2012
Atau yang ini
Lapangan Santo Petrus (Saint Peter Square) di depan Basilika Santo Petrus, Vatikan
Lapangan Santo Petrus (Saint Peter Square) di depan Basilika Santo Petrus, Vatikan
Master Plan Makkah
Master Plan Makkah 2
Bandingkan dengan yang ini
All Seeing Eye, in Madonna Concert
Eigthpointstar
Dalam okultisme motif jalan 8 arah ini sering dikaitkan dengan chaos, atau kalau pakai istilah agama: jalan selain jalan yang lurus (jalan selain sirotol mustaqim = jalan sesat). Motif yang dibentuk dari pathways ini sering disebut sebagai chaos star, lebih lanjut baca disini
Menara Jam Mekkah (kiri), Menara mata satu dalam film Lord Of The Ring (baca lebih lanjut)
Jam Big Ben di Inggris (Kiri), Kanan Royal Clock Makkah

Sampai-sampai tokoh ulama mereka pun seakan disetting harus matanya bermasalah, minimal satu mata. Ini contohnya:
Ulama Sekte Dajalis WahabySheikh-Abdulaziz-bin-Abdullah
Makanya, dari awal mereka ingin, jangan sampai kaum muslimin benar-benar datang ke Makkah untuk berhaji. Untuk itu, dibangunlah Mal-Mal yang banyak menjual Produk Zionis, agar kaum muslimin terlena untuk belanja dan dapat diperas uangnya. Ini rencana mereka ke depan, dengan pengepungan Masjidil Haram dengan Mall dan Hotel Mewah:
Makkah 1
new_mecca_2
Apa ini semua kebetulan? T.I.D.A.K…mereka telah menguasai Jantung Umat Islam yaitu Haramain. Mereka bekerja siang-malam untuk itu, secara terprogram dengan baik.
Yang menjadi pertanyaan sekarang:
MASIHKAH KAUM MUSLIMIN AKAN TETAP DIAM DAN MEMBIARKAN HARAMAIN MEREKA KUASAI?
MASIHKAH KITA KAUM MUSLIMIN INDONESIA MEMBIARKAN SEKTE WAHABY DAJALIS ITU MERAMBAH KE SEGENAP PENJURU TANAH AIR? INGAT KASUS RADIO-TV RODJA!
KAUM WAHABY DAJALIS DUKUNGAN ZIONIS SAUDI HARUSNYA BERPEGANGAN DENGAN KITAB ASLI MEREKAHarusnya ini kitab suci merekaINI JAWABAN KITA KEPADA PENGIKUT SEKTE WAHABY DAJJALY… T.I.D.A.K..titik !!!
Anti Wahabi
SADARLAH KAUM MUSLIMIN INDONESIA TENTANG BAHAYA ZIONIS WAHABI SAUDI SEKTE DAJAL YANG KIAN MEREBAK, BAHKAN MELAKUKAN AKSI-AKSI TEROR UNTUK MENGGANGGU STABILITAS BANGSA DAN NEGARA KITA TERCINTA!!!(http://salafyindonesia.wordpress.com/2013/07/12/logo-3-in-1-saudi-yahudi-zionis-wahaby-dajalis/)
Zion-Wahaby
SIKAP WAHHABI yang keras permusuhannya kepada kaum muslimin yang berbeda paham. Itulah sebabnya kenapa ajaran Wahhabi penuh kontradiksi di berbagai lini keilmuan, dan kontradiksi itu akan semakin jelas manakala dihadapkan dengan paham Ahlussunnah Waljama’ah. Walaupun begitu, ironisnya mereka tanpa risih mengaku-ngaku sebagai kaum ASWAJA. Atas klaim sebagai ASWAJA itu, lalu ada pertanyaan yang muncul, sejak kapan WAHHABI berubah jadi Ahlussunnah Waljama’ah?
Tokoh para pengikut Zionis Wahabis yg berkedok Muslim
Tokoh para pengikut Zionis Wahabis yg berkedok Muslim

M16 & Wahabisme
FAKTA KELAHIRAN DAN SEJARAH PAHAM WAHHABI
Pencetus pertamakali sebutan nama WAHHABI adalah seorang bernama MR. Hempher, dialah mata-mata kolonial Inggris yang ikut secara aktif menyemai dan membidani kelahiran sekte WAHHABI.Tujuannya adalah untuk menghancurkan kekuatan ajaran Islam dari dalam, dengan cara menyebarkan isu-isu kafir-musyrik dan bid’ah.
Dengan fakta ini maka terbongkarlah misteri SIKAP WAHHABI yang keras permusuhannya kepada kaum muslimin yang berbeda paham. Itulah sebabnya kenapa ajaran Wahhabi penuh kontradiksi di berbagai lini keilmuan, dan kontradiksi itu akan semakin jelas manakala dihadapkan dengan paham Ahlussunnah Waljama’ah. Walaupun begitu, ironisnya mereka tanpa risih mengaku-ngaku sebagai kaum ASWAJA. Atas klaim sebagai ASWAJA itu, lalu ada pertanyaan yang muncul, sejak kapan WAHHABI berubah jadi Ahlussunnah Waljama’ah? Wajar jika pertanyaan itu muncul, sebab bagaimanapun mereka memakai baju Ahlussunnah Waljama’ah, ciri khas ke-wahabiannya tidak menjadi samar. Untuk lebih jelas dalam mengenali apa, siapa, kenapa, darimana WAHABISME, sebaiknya kita terlebih dulu mengetahui latar belakang sejarahnya:
LATAR BELAKANG BERDIRINYA KERAJAAN SAUDI ARABIA DAN PAHAM WAHABI
Dr. Abdullah Mohammad Sindi *], di dalam sebuah artikelnya yang berjudul : Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud menyajikan tinjauan ulang tentang sejarahWahabisme, peran Pemerintah Inggeris di dalam perkembangannya, dan hubungannya dengan peran keluarga kerajaan Saudi. “Salah satu sekte Islam yang paling kaku dan paling reaksioner saat ini adalah Wahabi,” demikian tulis Dr. Abdullah Mohammad Sindi dalam pembukaan artikelnya tersebut. Dan kita tahu bahwa Wahabi adalah ajaran resmi Kerajaaan Saudi Arabia, tambahnya.
Wahabisme dan keluarga Kerajaan Saudi telah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sejak kelahiran keduanya. Wahabisme-lah yang telah menciptakan kerajaan Saudi, dan sebaliknya keluarga Saud membalas jasa itu dengan menyebarkan paham Wahabi ke seluruh penjuru dunia. One could not have existed without the other – Sesuatu tidak dapat terwujud tanpa bantuan sesuatu yang lainnya.
Wahhabisme memberi legitimasi bagi Istana Saud, dan Istana Saud memberi perlindungan dan mempromosikan Wahabisme ke seluruh penjuru dunia. Keduanya tak terpisahkan, karena keduanya saling mendukung satu dengan yang lain dan kelangsungan hidup keduanya bergantung padanya.
Tidak seperti negeri-negeri Muslim lainnya, Wahabisme memperlakukan perempuan sebagai warga kelas tiga, membatasi hak-hak mereka seperti : menyetir mobil, bahkan pada dekade lalu membatasi pendidikan mereka.
Juga tidak seperti di negeri-negeri Muslim lainnya, Wahabisme :
- melarang perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw
- melarang kebebasan berpolitik dan secara konstan mewajibkan rakyat untuk patuh secara mutlak kepada pemimpin-pemimpin mereka.
- melarang mendirikan bioskop sama sekali.
- menerapkan hukum Islam hanya atas rakyat jelata, dan membebaskan hukum atas kaum bangsawan, kecuali karena alasan politis.
- mengizinkan perbudakan sampai tahun ’60-an.
Mereka juga menyebarkan mata-mata atau agen rahasia yang selama 24 jammemonitor demi mencegah munculnya gerakan anti-kerajaan.
Wahabisme juga sangat tidak toleran terhadap paham Islam lainnya, seperti terhadap Syi’ah dan Sufisme (Tasawuf). Wahabisme juga menumbuhkan rasialisme Arab pada pengikut mereka. 1] Tentu saja rasialisme bertentangan dengan konsep Ummah Wahidah di dalam Islam.
Wahhabisme juga memproklamirkan bahwa hanya dia saja-lah ajaran yang paling benar dari semua ajaran-ajaran Islam yang ada, dan siapapun yang menentang Wahabisme dianggap telah melakukan BID’AH dan KAFIR!
LAHIRNYA AJARAN WAHABI:
Wahhabisme atau ajaran Wahabi muncul pada pertengahan abad 18 di Dir’iyyah sebuah dusun terpencil di Jazirah Arab, di daerah Najd.
Kata Wahabi sendiri diambil dari nama pendirinya, Muhammad Ibn Abdul-Wahhab(1703-92). Laki-laki ini lahir di Najd, di sebuah dusun kecil Uyayna. Ibn Abdul-Wahhab adalah seorang mubaligh yang fanatik, dan telah menikahi lebih dari 20 wanita (tidak lebih dari 4 pada waktu bersamaan) dan mempunyai 18 orang anak. 2]
Sebelum menjadi seorang mubaligh, Ibn Abdul-Wahhab secara ekstensif mengadakan perjalanan untuk keperluan bisnis, pelesiran, dan memperdalam agama ke Hijaz, Mesir, Siria, Irak, Iran, dan India.
Hempher mata-mata Inggris
Walaupun Ibn Abdul-Wahhab dianggap sebagai Bapak Wahabisme, namun aktualnya Kerajaan Inggris-lah yang membidani kelahirannya dengan gagasan-gagasan Wahabisme dan merekayasa Ibn Abdul-Wahhab sebagai Imam dan Pendiri Wahabisme, untuk tujuan menghancurkan Islam dari dalam dan meruntuhkan Daulah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki. Seluk-beluk dan rincian tentang konspirasi Inggeris dengan Ibn Abdul-Wahhab ini dapat Anda temukan di dalam memoar Mr. Hempher : “Confessions of a British Spy” 3]
Selagi di Basra, Iraq, Ibn Abdul-Wahhab muda jatuh dalam pengaruh dan kendali seorang mata-mata Inggris yang dipanggil dengan nama Hempher yang sedang menyamar (undercover), salah seorang mata-mata yang dikirim London untuk negeri-negeri Muslim (di Timur Tengah) dengan tujuan menggoyang Kekhalifahan Utsmaniyyah dan menciptakan konflik di antara sesama kaum Muslim. Hempher pura-pura menjadi seorang Muslim, dan memakai nama Muhammad, dan dengan cara yang licik, ia melakukan pendekatan dan persahabatan dengan Ibn Abdul-Wahhab dalam waktu yang relatif lama.
Hempher, yang memberikan Ibn Abdul-Wahhab uang dan hadiah-hadiah lainnya, mencuci-otak Ibn Abdul-Wahhab dengan meyakinkannya bahwa : Orang-orang Islam mesti dibunuh, karena mereka telah melakukan penyimpangan yang berbahaya, mereka – kaum Muslim – telah keluar dari prinsip-prinsip Islam yang mendasar, mereka semua telah melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah dan syirik.
Hempher juga membuat-buat sebuah mimpi liar (wild dream) dan mengatakan bahwa dia bermimpi Nabi Muhammad Saw mencium kening (di antara kedua mata) Ibn Abdul-Wahhab, dan mengatakan kepada Ibn Abdul-Wahhab, bahwa dia akan jadi orang besar, dan meminta kepadanya untuk menjadi orang yang dapat menyelamatkan Islam dari berbagai bid’ah dan takhayul.
Setelah mendengar mimpi liar Hempher, Ibn Abdul-Wahhab jadi ge-er (wild with joy) dan menjadi terobsesi, merasa bertanggung jawab untuk melahirkan suatu aliran baru di dalam Islam yang bertujuan memurnikan dan mereformasi Islam.
Di dalam memoarnya, Hempher menggambarkan Ibn Abdul-Wahhab sebagai orang yang berjiwa “sangat tidak stabil” (extremely unstable), “sangat kasar” (extremely rude), berakhlak bejat (morally depraved), selalu gelisah (nervous), congkak (arrogant), dan dungu (ignorant).
Mata-mata Inggeris ini, yang memandang Ibn Abdul-Wahhab sebagai seorang yang bertipikal bebal/dungu (typical fool), juga mengatur pernikahan mut’ah bagi Ibn Abdul Wahhab dengan 2 wanita Inggeris yang juga mata-mata yang sedang menyamar.
Wanita pertama adalah seorang wanita beragama Kristen dengan panggilan Safiyya. Wanita ini tinggal bersama Ibn Abdul Wahhab di Basra. Wanita satunya lagi adalah seorang wanita Yahudi yang punya nama panggilan Asiya. Mereka menikah di Shiraz, Iran. 4]
KERAJAAN SAUDI-WAHHABI PERTAMA : 1744-1818
Setelah kembali ke Najd dari perjalanannya, Ibn Abdul-Wahhab mulai “berdakwah” dengan gagasan-gagasan liarnya di Uyayna. Bagaimana pun, karena “dakwah”-nya yang keras dan kaku, dia diusir dari tempat kelahirannya.
Dia kemudian pergi berdakwah di dekat Dir’iyyah, di mana sahabat karibnya, Hempher dan beberapa mata-mata Inggeris lainnya yang berada dalam penyamaran ikut bergabung dengannya. 5]
Dia juga tanpa ampun membunuh seorang pezina penduduk setempat di hadapan orang banyak dengan cara yang sangat brutal, menghajar kepala pezina dengan batu besar 6]
Padahal, hukum Islam tidak mengajarkan hal seperti itu, beberapa hadis menunjukkan cukup dengan batu-batu kecil. Para ulama Islam (Ahlus Sunnah) tidak membenarkan tindakan Ibn Abdul-Wahhab yang sangat berlebihan seperti itu.
Walaupun banyak orang yang menentang ajaran Ibn Abdul-Wahhab yang keras dan kaku serta tindakan-tindakannya, termasuk ayah kandungnya sendiri dan saudaranya Sulaiman Ibn Abdul-Wahhab, – keduanya adalah orang-orang yang benar-benar memahami ajaran Islam -, dengan uang,mata-mata Inggeris telah berhasil membujuk Syeikh Dir’iyyah, Muhammad Saud untuk mendukung Ibn Abdul-Wahhab. 7]
Pada 1744, al-Saud menggabungkan kekuatan dengan Ibn Abdul-Wahhab dengan membangun sebuah aliansi politik, agama dan perkawinan. Dengan aliansi ini, antara keluarga Saud dan Ibn Abdul-Wahhab, yang hingga saat ini masih eksis, Wahhabisme sebagai sebuah “agama” dan gerakan politik telah lahir!
Dengan penggabungan ini setiap kepala keluarga al-Saud beranggapan bahwa mereka menduduki posisi Imam Wahhabi (pemimpin agama), sementara itu setiap kepala keluarga Wahhabi memperoleh wewenang untuk mengontrol ketat setiap penafsiran agama (religious interpretation).
Mereka adalah orang-orang bodoh, yang melakukan kekerasan, menumpahkan darah, dan teror untuk menyebarkan paham Wahabi (Wahhabism) di Jazirah Arab. Sebagai hasil aliansi Saudi-Wahhabi pada 1774, sebuah kekuatan angkatan perang kecil yang terdiri dari orang-orang Arab Badui terbentuk melalui bantuan para mata-mata Inggeris yang melengkapi mereka dengan uang dan persenjataan. 8]
Sampai pada waktunya, angkatan perang ini pun berkembang menjadi sebuah ancaman besar yang pada akhirnya melakukan teror di seluruh Jazirah Arab sampai ke Damaskus (Suriah), dan menjadi penyebab munculnya Fitnah Terburuk di dalam Sejarah Islam (Pembantaian atas Orang-orang Sipil dalam jumlah yang besar).
Dengan cara ini, angkatan perang ini dengan kejam telah mampu menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab untuk menciptakan Negara Saudi-Wahhabi yang pertama.
Sebagai contoh, untuk memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai syirik dan bid’ah yang dilakukan oleh kaum Muslim, Saudi-Wahhabi telah mengejutkan seluruh dunia Islam pada 1801, dengan tindakan brutal menghancurkan dan menodai kesucian makam Imam Husein bin Ali (cucu Nabi Muhammad Saw) di Karbala, Irak. Mereka juga tanpa ampun membantai lebih dari 4.000 orang di Karbala dan merampok lebih dari 4.000 unta yang mereka bawa sebagai harta rampasan. 9]
Sekali lagi, pada 1810, mereka, kaum Wahabi dengan kejam membunuh penduduk tak berdosa di sepanjang Jazirah Arab. Mereka menggasak dan menjarah banyak kafilah peziarah dan sebagian besar di kota-kota Hijaz, termasuk 2 kota suci Makkah dan Madinah.
Di Makkah, mereka membubarkan para peziarah, dan di Madinah, mereka menyerang dan menodai Masjid Nabawi, membongkar makam Nabi, dan menjual serta membagi-bagikan peninggalan bersejarah dan permata-permata yang mahal.
Para teroris Saudi-Wahhabi ini telah melakukan tindak kejahatan yang menimbulkan kemarahan kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk Kekhalifahan Utsmaniyyah di Istanbul.
Sebagai penguasa yang bertanggung jawab atas keamanan Jazirah Arab dan penjaga masjid-masjid suci Islam, Khalifah Mahmud II memerintahkan sebuah angkatan perang Mesir dikirim ke Jazirah Arab untuk menghukum klan Saudi-Wahhabi.
Pada 1818, angkatan perang Mesir yang dipimpin Ibrahim Pasha (putra penguasa Mesir) menghancurkan Saudi-Wahhabi dan meratakan dengan tanah ibu kota Dir’iyyah .
Imam kaum Wahhabi saat itu, Abdullah al-Saud dan dua pengikutnya dikirim ke Istanbul dengan dirantai dan di hadapan orang banyak, mereka dihukum pancung. Sisa klan Saudi-Wahhabi ditangkap di Mesir.
KERAJAAN SAUDI-WAHHABI KE-II : 1843-1891
“Walaupun kebengisan fanatis Wahabisme berhasil dihancurkan pada 1818, namun dengan bantuan Kolonial Inggeris, mereka dapat bangkit kembali. Setelah pelaksanaan hukuman mati atas Imam Abdullah al-Saud di Turki, sisa-sisa klan Saudi-Wahhabi memandang saudara-saudara Arab dan Muslim mereka sebagai musuh yang sesungguhnya (their real enemies) dan sebaliknya mereka menjadikan Inggris dan Barat sebagai sahabat sejati mereka.” Demikian tulis Dr. Abdullah Mohammad Sindi *]
Maka ketika Inggris menjajah Bahrain pada 1820 dan mulai mencari jalan untuk memperluas area jajahannya, Dinasti Saudi-Wahhabi menjadikan kesempatan ini untuk memperoleh perlindungan dan bantuan Inggeris.
Pada 1843, Imam Wahhabi, Faisal Ibn Turki al-Saud berhasil melarikan diri dari penjara di Cairo dan kembali ke Najd. Imam Faisal kemudian mulai melakukan kontak dengan Pemerintah Inggeris. Pada 1848, dia memohon kepada Residen Politik Inggeris (British Political Resident) di Bushire agar mendukung perwakilannya di Trucial Oman. Pada 1851, Faisal kembali memohon bantuan dan dukungan Pemerintah Inggeris. 10]
Dan hasilnya, Pada 1865, Pemerintah Inggeris mengirim Kolonel Lewis Pelly ke Riyadh untuk mendirikan sebuah kantor perwakilan Pemerintahan Kolonial Inggeris dengan perjanjian (pakta) bersama Dinasti Saudi-Wahhabi.
Untuk mengesankan Kolonel Lewis Pelly bagaimana bentuk fanatisme dan kekerasan Wahhabi, Imam Faisal mengatakan bahwa perbedaan besar dalam strategi Wahhabi : antara perang politik dengan perang agama adalah bahwa nantinya tidak akan ada kompromi, kami membunuh semua orang . 11]
Pada 1866, Dinasti Saudi-Wahhabi menandatangani sebuah perjanjian “persahabatan” dengan Pemerintah Kolonial Inggeris, sebuah kekuatan yang dibenci oleh semua kaum Muslim, karena kekejaman kolonialnya di dunia Muslim.
Perjanjian ini serupa dengan banyak perjanjian tidak adil yang selalu dikenakan kolonial Inggeris atas boneka-boneka Arab mereka lainnya di Teluk Arab (sekarang dikenal dengan : Teluk Persia).
Sebagai pertukaran atas bantuan pemerintah kolonial Inggeris yang berupa uang dan senjata, pihak Dinasti Saudi-Wahhabi menyetujui untuk bekerja-sama/berkhianatdengan pemerintah kolonial Inggeris yaitu : pemberian otoritas atau wewenang kepada pemerintah kolonial Inggris atas area yang dimilikinya.
Perjanjian yang dilakukan Dinasti Saudi-Wahhabi dengan musuh paling getir bangsa Arab dan Islam (yaitu : Inggris), pihak Dinasti Saudi-Wahhabi telah membangkitkan kemarahan yang hebat dari bangsa Arab dan Muslim lainnya, baik negara-negara yang berada di dalam maupun yang diluar wilayah Jazirah Arab.
Dari semua penguasa Muslim, yang paling merasa disakiti atas pengkhianatan Dinasti Saudi-Wahhabi ini adalah seorang patriotik bernama al-Rasyid dari klan al-Hail di Arabia tengah dan pada 1891, dan dengan dukungan orang-orang Turki, al-Rasyid menyerang Riyadh lalu menghancurkan klan Saudi-Wahhabi.
Bagaimanapun, beberapa anggota Dinasti Saudi-Wahhabi sudah mengatur untuk melarikan diri; di antara mereka adalah Imam Abdul-Rahman al-Saud dan putranya yang masih remaja, Abdul-Aziz. Dengan cepat keduanya melarikan diri ke Kuwait yang dikontrol Kolonial Inggeris, untuk mencari perlindungan dan bantuan Inggeris.
KERAJAAN SAUDI-WAHHABI KE III (SAUDI ARABIA) : Sejak 1902
Ketika di Kuwait, Sang Wahhabi, Imam Abdul-Rahman dan putranya, Abdul-Aziz menghabiskan waktu mereka “menyembah-nyembah” tuan Inggris mereka dan memohon-mohon akan uang, persenjataan serta bantuan untuk keperluan merebut kembali Riyadh. Namun pada akhir penghujung 1800-an, usia dan penyakit nya telah memaksa Abdul-Rahman untuk mendelegasikan Dinasti Saudi Wahhabi kepada putranya, Abdul-Aziz, yang kemudian menjadi Imam Wahhabi yang baru.
Melalui strategi licin kolonial Inggeris di Jazirah Arab pada awal abad 20, yang dengan cepat menghancurkan Kekhalifahan Islam Utsmaniyyah dan sekutunya klan al-Rasyid secara menyeluruh, kolonial Inggeris langsung memberi sokongan kepada Imam baru Wahhabi Abdul-Aziz.
Dibentengi dengan dukungan kolonial Inggeris, uang dan senjata, Imam Wahhabi yang baru, pada 1902 akhirnya dapat merebut Riyadh. Salah satu tindakan biadab pertama Imam baru Wahhabi ini setelah berhasil menduduki Riyadh adalah menteror penduduknya dengan memaku kepala al-Rasyid pada pintu gerbang kota. Abdul-Aziz dan para pengikut fanatik Wahhabinya juga membakar hidup-hidup 1.200 orang sampai mati. 12]
Imam Wahhabi Abdul-Aziz yang dikenal di Barat sebagai Ibn Saud, sangat dicintai oleh majikan Inggrisnya. Banyak pejabat dan utusan Pemerintah Kolonial Inggeris di wilayah Teluk Arab sering menemui atau menghubunginya, dan dengan murah-hati mereka mendukungnya dengan uang, senjata dan para penasihat. Sir Percy Cox, Captain Prideaux, Captain Shakespeare, Gertrude Bell, dan Harry Saint John Philby (yang dipanggil “Abdullah”) adalah di antara banyak pejabat dan penasihat kolonial Inggris yang secara rutin mengelilingi Abdul-Aziz demi membantunya memberikan apa pun yang dibutuhkannya.
Dengan senjata, uang dan para penasihat dari Inggris, berangsur-angsur Imam Abdul-Aziz dengan bengis dapat menaklukkan hampir seluruh Jazirah Arab di bawah panji-panji Wahhabisme untuk mendirikan Kerajaan Saudi-Wahhabi ke-3, yang saat ini disebut Kerajaan Saudi Arabia.
Ketika mendirikan Kerajaan Saudi, Imam Wahhabi, Abdul-Aziz beserta para pengikut fanatiknya, dan para “tentara Tuhan”, melakukan pembantaian yang mengerikan, khususnya di daratan suci Hijaz. Mereka mengusir penguasa Hijaz, Syarif, yang merupakan keturunan Nabi Muhammad Saw.
Pada May 1919, di Turbah, pada tengah malam dengan cara pengecut dan buas mereka menyerang angkatan perang Hijaz, membantai lebih 6.000 orang.
Dan sekali lagi, pada bulan Agustus 1924, sama seperti yang dilakukan orang barbar, tentara Saudi-Wahabi mendobrak memasuki rumah-rumah di Hijaz, kota Taif, mengancam mereka, mencuri uang dan persenjataan mereka, lalu memenggal kepala anak-anak kecil dan orang-orang yang sudah tua, dan mereka pun merasa terhibur dengan raung tangis dan takut kaum wanita. Banyak wanita Taif yang segara meloncat ke dasar sumur air demi menghindari pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan tentara-tentara Saudi-Wahhabi yang bengis.
Tentara primitif Saudi-Wahhabi ini juga membunuhi para ulama dan orang-orang yang sedang melakukan shalat di masjid; hampir seluruh rumah-rumah di Taif diratakan dengan tanah; tanpa pandang bulu mereka membantai hampir semua laki-laki yang mereka temui di jalan-jalan; dan merampok apa pun yang dapat mereka bawa. Lebih dari 400 orang tak berdosa ikut dibantai dengan cara mengerikan di Taif. 11]
________________________________________
* Dr. Abdullah Mohammad Sindi adalah seorang profesor Hubungan Internasional (professor of International Relations) berkebangsaan campuran Saudi-Amerika. Dia memperoleh titel BA dan MA nya di California State University, Sacramento, dan titel Ph.D. nya di the University of Southern California. Dia juga seorang profesor di King Abdulaziz University di Jeddah, Saudi Arabia. Dia juga mengajar di beberapa universitas dan college Amerika termasuk di : the University of California di Irvine, Cal Poly Pomona, Cerritos College, and Fullerton College. Dia penulis banyak artikel dalam bahasa Arab maupun bahasa Inggeris. Bukunya antara lain : The Arabs and the West: The Contributions and the Inflictions.
Catatan Kaki:
[1] Banyak orang-orang yang belajar Wahabisme (seperti di Jakarta di LIPIA) yang menjadi para pemuja syekh-syekh Arab, menganggap bangsa Arab lebih unggul dari bangsa lain. Mereka (walaupun bukan Arab) mengikuti tradisi ke-Araban atau lebih tepatnya Kebaduian (bukan ajaran Islam), seperti memakai jubah panjang, menggunakan kafyeh, bertindak dan berbicara dengan gaya orang-orang Saudi.
[2] Alexei Vassiliev, Ta’reekh Al-Arabiya Al-Saudiya [History of Saudi Arabia], yang diterjemahkan dari bahasa Russia ke bahasa Arab oleh Khairi al-Dhamin dan Jalal al-Maashta (Moscow: Dar Attagaddom, 1986), hlm. 108.
[3] Untuk lebih detailnya Anda bisa mendownload “Confessions of a British Spy” :http://www.ummah.net/Al_adaab/spy1-7.html
Cara ini juga dilakukan Imperialis Belanda ketika mereka menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia lewat Snouck Hurgronje yang telah belajar lama di Saudi Arabia dan mengirimnya ke Indonesia. Usaha Snouck berhasil gemilang, seluruh kerajaan Islam jatuh di tangan Kolonial Belanda, kecuali Kerajaan Islam Aceh. Salah satu provokasi Snouck yang menyamar sebagai seorang ulama Saudi adalah menyebarkan keyakinan bahwa hadis Cinta pada Tanah Air adalah lemah!(Hubbul Wathan minal Iman). Dengan penanaman keyakinan ini diharapkan Nasionalisme bangsa Indonesia hancur, dan memang akhirnya banyak pengkhianat bangsa bermunculan.
[4] Memoirs Of Hempher, The British Spy To The Middle East, page 13.
[5] Lihat “The Beginning and Spreading of Wahhabism”,http://www.ummah.net/Al_adaab/wah-36.html
[6] William Powell, Saudi Arabia and Its Royal Family (Secaucus, N.J.: Lyle Stuart Inc., 1982), p. 205.
[7] Confessions of a British Spy.
[8] Ibid.
[9] Vassiliev, Ta’reekh, p. 117.
[10] Gary Troeller, The Birth of Saudi Arabia: Britain and the Rise of the House of Sa’ud(London: Frank Cass, 1976), pp. 15-16.
[11] Quoted in Robert Lacey, The Kingdom: Arabia and the House of Saud (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1981), p. 145.
Rojda-Dajjalis-Zionis-Wahhaby
Dalam situs mereka mengatakan radio Rodja sebagai akronim : Radio Dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Salah satu misi Rodja adalah pemurnian syariat Islam dari segala bentuk syirik, bid’ah dan pemikiran menyimpang. Dengan semboyan menebar cahaya sunnah, seolah memberikan pencerahan kepada kaum muslim untuk kembali kepada Quran dan Hadits. Namun dalam materi yang disampaikan justru dipelintirkan dari ajaran Islam sesungguhnya. Radio Rodja merupakan corong informasi untuk menyebarluaskan paham Wahabi di Indonesia. Ajaran ini selalu berslogan pemurnian syariat Islam.
Tidak ada sesuatu tercipta dengan sendirinya, melainkan ada yang menciptakan. Tidak juga sebuah simbol mata satu diciptakan sekedar coretan belaka, melainkan bermakna dan bertujuan. Lalu mengapa tujuan mereka disembunyikan terselubung simbol. Karena api laksana air dan air laksana api.
Jika manusia mau berpikir, merenung, dan merasa dengan segenap hati, tentu dapat memahami pesan tersembunyi yang mereka sampaikan. Jika rodja membantah simbol2 terselubung diatas, lalu bisakah mereka menerangkan simbol2 dajjal wahabi “mata satu” “piramida” “jangka busur” yg ada di pemerintahan saudi arabia sebagai basis wahabi yg menjadi pengikut dajjal?
3 in 1  -> Saudi-Wahhaby-Yahudi Zionis

Apa ini yg disebut Radio Islami?
Islamic Motivation
SKANDAL ILLUMINATI YAHUDI RADIO RODJA WAHABI DAJJALDalam situs mereka mengatakan radio Rodja sebagai akronim : Radio Dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Salah satu misi Rodja adalah pemurnian syariat Islam dari segala bentuk syirik, bid’ah dan pemikiran menyimpang.Dengan semboyan menebar cahaya sunnah, seolah memberikan pencerahan kepada kaum muslim untuk kembali kepada Quran dan Hadits. Namun dalam materi yang disampaikan justru dipelintirkan dari ajaran Islam sesungguhnya. Radio Rodja merupakan corong informasi untuk menyebarluaskan paham Wahabi di Indonesia. Ajaran ini selalu berslogan pemurnian syariat Islam. Namun apa yang terjadi, justru banyak fitnah terhadap ajaran Islam yang sebenarnya, yang terpelihara sejak zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, melalui “ulama” pewaris Nabi. Berikut adalah beberapa fakta penyamaran Radio Rodja yang belum pernah terungkap :
1. Kata RODJA : berasal dari suku gothic [Bavaria], yang memiliki arti “SEE” atau MELIHAT.
2. Logo radio RODJA : setelah diputar 115° derajat ke kiri, lalu menutup huruf “ r “ warna putih dengan warna merah dan memutihkan warna merah dibagian tengah, maka mucul gambar kelopak mata. Simbol mata dihilangkan, tapi tersisa tetes air mata [air mata Horus] di ujung kelopak mata. Kesimpulannya logo Rodja berbentuk mata satu disamarkan, dengan tetes air mata Horus.
3. Tag-line radio RODJA : ‘menebar cahaya sunnah’. Mengapa memilih kata “cahaya”, karena ini bagian dari ILLUMINATI, yaitu kelompok cahaya. ILLUMINATI berasal dari bahasa latin illuminatus yang berarti tercerahkan.
4. Frekuensi radio RODJA 756 am: memiliki makna yang mengejutkan antara lain: “ IDEOLOGI RASA BENCI “ [an ideology of hate] “ KHOTBAH KEBENCIAN MURNI ” [preaching pure hatred] Bagaimana mungkin suatu angka dapat memiliki arti. Hal ini bisa terjadi, karena sebenarnya dalam setiap huruf terdapat persamaan angkanya, dalam hal ini yang dipakai persamaan huruf-huruf Jewish [Yahudi]. Ilmu tentang masalah ini adalah teknik kalkulasi persamaan angka-huruf yang diterjemahkan ke angka, ataupun huruf. Sehingga susunan angka tersebut memiliki makna dalam bentuk kata atau kalimat. Berdasarkan fakta yang terungkap, radio RODJA [Rodja network] yang menyebarluaskan paham Wahabi adalah bagian dari ILLUMINATI [kelompok cahaya] dengan kedok agama Islam.
Radio RODJA memakai kata cahaya, di tag-line nya namun sesungguhnya sumber cahaya tersebut berasal dari bara api menyala-nyala yang sangat panas. Melalui fakta ini, segala hal terkait paham Wahabi berupa para ustadz, link website, pelatihan Wahabi, kelompok paham turunan Wahabi dan seluruh aparatnya adalah alat, tunggangan atau disokong oleh Yahudi, yang digunakan untuk memecah belah umat manusia di muka bumi melalui trinitas tauhid dan masalah “bid’ah” versi Wahabi. Sehingga “umat Islam digiring bersikap anti” terhadap dzikir, tahlil, maulid, ziarah kubur, tawassul, tasawuf, ber-mahzab dan banyak hal yang Wahabi lakukan untuk menjauhkan umat Islam beribadah kepada ALLAH.
Sejarah kelahiran perkumpulan rahasia [secret societies] yang melambangkan dirinya dengan “Mata satu” bermula sejak awal zaman pemerintahan raja-raja Mesir purba [Firaun] yang berkuasa sejak ribuan tahun lalu. Ini bermula dengan sejarah pemerintahan Firaun Horus atau yang lebih dikenal dalam catatan hieroglif Mesir purba sebagai Tuhan Matahari atau Sun God. Adam Weishaupt membentuk sebuah ”Secret Society” yang disebut Ordo Illuminati pada tanggal 1 Mei 1776. Seorang keturunan Yahudi dan berlatar belakang pendidikan sebagai Jesuit. Weishaupt adalah Guru Besar Hukum Canon di Universitas Ingolstadt di Bavaria, bagian dari Jerman. Illuminati berusaha untuk membentuk New World Order [Tatanan Dunia Baru].
Adam Weishaupt hanyalah kelanjutan tangan ordo Kabala putih, yaitu salah satu ordo Kabala [ordo rahasia Yahudi tertua yang telah berusia lebih kurang 4.000 tahun] yang lebih menekankan misi politik, di samping mengembangkan ajaran Kabala dalam menyembah Lucifer. Mereka merumuskan, misi Kabala adalah menentukan arah peradaban manusia guna membentuk “Tatanan Dunia Baru” [Novus Ordo Seclorum] dan “Pemerintahan Satu Dunia” [E Pluribus Unum] di bawah kepemimpinan kaum Yahudi. Adam Weishaupt inilah perumus The Protocols of the Elders of Zion [protokol tokoh-tokoh zionisme] yang berisi agenda besar dengan tujuan utama untuk penguasaan dunia oleh kaum Zionis. Mengapa mereka selalu menampakkan simbol mata satu, meskipun disamarkan. Karena simbol ini secara gaib [magis] mereka percayai sebagai suatu “kekuatan supranatural” yang memberikan proteksi [perlindungan]. Melalui simbol ini juga merupakan identitas dan pesan akan cita-cita NEW WORLD ORDER.
Tidak ada sesuatu tercipta dengan sendirinya, melainkan ada yang menciptakan. Tidak juga sebuah simbol mata satu diciptakan sekedar coretan belaka, melainkan bermakna dan bertujuan. Lalu mengapa tujuan mereka disembunyikan terselubung simbol. Karena api laksana air dan air laksana api.
Jika manusia mau berpikir, merenung, dan merasa dengan segenap hati, tentu dapat memahami pesan tersembunyi yang mereka sampaikan
Berikut ini adalah beberapa simbol MATA SATU yang digunakan oleh DAJJAL WAHABI SALAFI sebagai bukti kuat bahwa mereka adalah pengikut DAJJAL
klik: http://ashhabur-royi.blogspot.com/2012/03/sebaiknya-antum-tahu-mata-dewa-horus.html
Jika rodja membantah simbol2 terselubung diatas, lalu bisakah mereka menerangkan simbol2 dajjal wahabi “mata satu” “piramida” “jangka busur” yg ada di pemerintahan saudi arabia sebagai basis wahabi yg menjadi pengikut dajjal????
ALLAH mentakdirkan Islam pecah menjadi 73 golongan, janganlah kamu menjadi golongan yg 72 itu apalagi menjadi pengikut dajjal. WASPADALAH!

Siapa mahasiswa Al-Azhar yang berseberangan dengan Al-Azhar? Posisi Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan? Apa ideologi dan kurikulum yang diusung Al-Azhar? Alumni yang seperti apa yang diharapkan oleh Al-Azhar?
Akan kita tahu, bagaimana alumni yang dikehendaki Al-Azhar – Kairo – Mesir yang sangat berbeda dengan tuntutan Arab Saudi berkaitan dengan alumninya.
alazhar cairo-
Siapa Azhari (pembawa pemikiran Al-Azhar – Kairo), Siapa Salafi-Wahabi?
Oleh: Zulfahani Hasyim*
Tulisan ini tertulis setelah kegelisahan penulis yang berlangsung sejak lama dan membuncah saat penulis menyaksikan wawancara Dr. Ahmad Karimah, salah satu pengajar di Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Kairo di staisun televisi Mesir, Al-Masriyah. Beliau mengungkapkan kegelisahan beliau akan serangan-serangan baik dalam bentuk fisik atau opini publik terhadap Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan di Mesir oleh dua kelompok radikal Islam di Mesir yaitu Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Salafi. Sebelumnya penulis pernah mendapati sendiri di kampus, seorang mahasiswa Mesir yang berkoar-koar tentang “kekeliruan” akidah yang dianut Al-Azhar. Melabeli pengajar-pengajarAl-Azhar dengan label sesat dan bahkan kafir. Saat itu penulis langsung menegur dia dan mengajaknya diskusi. Namun bukan diskusi yang baik yang terjadi tapi justru debat kusir yang tidak ada ujungnya.
Selain itu penulis juga ‘meraba’ lewat jejaring sosial dan aktivitas keseharian mahasiswa Al-Azhar terutama yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Dari sana penulis mendapati beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Al-Azhar justru mempunyai pola pikir yang berseberangan dengan Al-Azhar, baik dalam segi ideologi maupun pandangan politiknya. Ini sangat aneh, karena mereka berjalan di luarmainstream yang ada. Sudah sama-sama kita ketahui bahwa Al-Azhar berdiri sebagai institusi pendidikan dan keagamaan dalam posisi moderat dengan mengusung ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah demi bisa merangkul berbagai golongan dalam tubuh Islam. Memang bukan hal baru jika murid berbeda pandangan dengan gurunya, namun tentu itu sebatas berbeda dalam masalah furu’iyah,bukan ushuliyah. Keanehan ini muncul lantaran mereka menyelisihi Al-Azhar sebagai tempat dia belajar dalam hampir keseluruhan kurikulum Al-Azhar.
Padahal jika kita mau menengok ke dalam alur pendidikan mereka ini, mereka yang menyelisihi Al-Azhar rata-rata mendapat beasiswa dari Al-Azhar, mendapat fasilitas asrama gratis, dan bahkan mendapat lisensi Al-Azhar ketika merekalulus.
Fenomena ini juga tidak hanya berlaku sebatas mereka yang masih berstatus mahasiswa namun juga mereka yang sudah berstatus alumni. Justru yang sudah berstatus alumni ini yang saya golongkan sebagai golongan paling “berbahaya” bagi nama baik Al-Azhar. Kenapa? Karena mereka-mereka inilah yang sudah menyentuh masyarakat lewat berbagai interaksi sosial.
Dari sini akan penulis jelaskan secara singkat tentang beberapa hal. Pertama, siapa mahasiswa Al-Azhar yang berseberangan dengan Al-Azhar, kedua posisi Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan, ketiga ideologi dan kurikulum yang diusung Al-Azhar, keempat alumni yang seperti apa yang diharapkan oleh Al-Azhar.
Pertama, siapa mereka yang berseberangan dengan Al-Azhar? Perlu diketahui Al-Azhar tidak pernah pilah-pilih dalam mengambil murid dan mahasiswa, tidak pernah melihat warna kulit dan negara asal, tidak melihat dari suku apa dia berasal, dan tidak melihat dari golongan apa mereka berangkat ke Al-Azhar. Al-Azhar dengan senang hati membuka diri untuk semua orang yang mengaku tidak ada Tuhan selain Allah dan Baginda Muhammad adalah utusan Allah. Al-Azhar dengan senang hati merangkul mereka semua tanpa membeda-bedakan dari bangsa apa dia, dari organisasi apa dia, dan dari golongan apa dia. Al-Azhar dengan sabar mendidik mereka dengan kurikulum pilihan Al-Azhar yang tentunya sudah melewati proses ijtihad para dosen dan syeikh-syeikh petinggi Al-Azhar.
Meski Al-Azhar memilih jalur moderat dan membuka diri dengan semua golongan dan menghormatinya, namun Al-Azhar tetap punya prinsip terutama dalam hal akidah.Al-Azhar dalam hal ini memilih akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai pedomannya, memilih empat madzhab fikih (Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, dan Hanabilah) sebagai acuan ibadah dan muammalahnya, serta memilih tariqah Sufiyah Islamiyah sebagai pegangan ajaran budipekertinya.
Sampaidi sini ternyata semua pedoman dan acuan Al-Azhar yang seharusnya bisa merangkul semua golongan Islam tersebut justru mendapat tentangan dan perlawanan dari anak didik Al-Azhar sendiri. Mereka ini adalah mahasiswa-mahasiswa atau alumni-alumni yang secara organisasi berasal dari segolongan kader partai yang sejalan dengan Ikhwanul Muslimin (selanjutnya ditulis IM) dan yang berasal dari golongan Salafi-Wahabi. Atau juga mereka yangsebenarnya bukan kader partai yang sejalan dengan IM atau dari golongan Salafi-Wahabi namun terkena “virus” dari dua golongan ini, bisa dikatakan mereka ini “korban”. Atau mereka yang memang sudah punya genetika Salafi-Wahabi sejak dari Indonesia atau Malaysia, atau genetika partai-partai yang sejalan dengan IM.
Mahasiswa dan alumni Al-Azhar yang seperti disebut di atas inilah yang berseberangan dengan Al-Azhar baik secara perilaku maupun ideologi. Penulis tidak tahu menahu tentang mengapa dan bagaimana mereka bisa masuk Al-Azhar, yang penulis tahu mereka ini memakai atribut dan label Al-Azhar atau lulusan Al-Azhar untuk merebut simpati dan perhatian masyarakat awam ketika mereka berdakwah dan terjun ke masyarakat. Namun begitu, apa yang mereka dakwahkan tidaklah sama dengan apa yang Al-Azhar ajarkan. Mereka hanya seperti numpang nama keren Al-Azhar yang sudah mendunia dan diakui keunggulan keilmuannya. Dengan begitu mereka bisa menyisipkan ajaran-ajaran IM dan Salafi Wahabi.
Al-Azhar sendiri meski tidak pernah secara eksplisit menyatakan permusuhan dengan golongan IM dan Salafi-Wahabi, namun Al-Azhar menentang ajaran-ajaran takfir(pengkafiran tanpa peninjauan ulang), ajaran pencampuran kepentingan politik dengan agama, ajaran fanatisme buta terhadap satu madzhab atau personal, dan ajaran-ajaran Islam yang tidak berlandaskan madzhab fikih yang empat (Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, dan Hanabilah). Dan ajaran-ajaran tersebut dihukumi oleh Al-Azhar sbagai ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya yang mengajarkan toleransi dan merupakan rahmat bagi sekalian alam. Dengan begitu Al-Azhar meski secara institusi tidak menyatakan “perang” dengan IM dan Salafi-Wahabi, namun Al-Azhar memegang prinsip untuk menentang ajaran-ajaranyang kebetulan dianut oleh IM dan Salafi-Wahabi. Meskipun bertentangan dan berlawanan Al-Azhar masih menghormati dan respek terhadap penganut-penganut pemikiran-pemikiran tersebut di atas.
Pada babakan selanjutnya ternyata mahasiswa-mahasiswa dan alumni-alumni Al-Azhar“aspal” (asli tapi palsu) semacan ini tidak berhenti hanya dalam memakai danmemanfaatkan nama Al-Azhar untuk mensukseskan kepentingan-kepentingan mereka, namun berlanjut pada menyerang Al-Azhar baik dalam bentuk fisik, politik,maupun opini publik. Mereka seperti penghianat yang menikam gurunya sendiri dari belakang. Mereka tak lagi memikirkan nilai-nilai moral apalagi syariat. Mereka menyerang Al-Azhar dengan segala daya dan upayanya.
Dari sini, masyarakat Indonesia penulis ajak untuk berhati-hati dengan banyaknya alumni Al-Azhar yang “aspal” semacam ini. Mereka menyodorkan ijazah Al-Azhar kepada anda tapi mereka tidak mengikuti dan mendalami apa yang Al-Azhar ajarkan baik ketika di Mesir maupun ketika sudah berada di kampung halaman masing-masing. Mereka ini bisa dipastikan selama berada di Mesir tidak belajar kepada para dosen Al-Azhar dan para masyayikhnya. Mereka jauh dari aktivitas talaqi di ruwaq-ruwaq masjid Al-azhar. Dan malah sebaliknya, mereka belajar dengan ulama-ulama Mesir yang berseberangan dengan Al-Azhar, baik dari sisi ideologi atau pun pandangan politik. Mereka hanya mempelajari diktat Al-Azhar sekedar agar bisa menjawab soal ujian, tanpa mengamalkan dan membenarkannya. Mereka menipu masyarakat awam bahwa Al-Azhar sudah mengajarkan apa yang mereka dakwahkan padahal selama di Mesir mereka menghujat dan mencaci Al-Azhar.
Lantas bagaimana posisi Al-Azhar di dunia Islam secara global? Sudah sama-sama kita ketahui bahwa Al-Azhar adalah institusi pendidikan Islam yang moderat. Al-Azhar tidak mengajarkan fanatik buta pada anak didiknya. Setiap hal yang Al-Azhar ajarkan maka anak didiknya diperbolehkan menelitinya dan mengkoreksinya jika ada kesalahan tentu dengan argumen-argumen yang kuat dan bisa dipertanggungjawabkan. Al-Azhar berdiri di semua lapisan dan golongan masyarakat Islam. Al-Azhar tidak berpihak pada satu partai atau kepentingan politik manapun. Al-Azhar tulus mendidik putra-putri terbaik Islam untuk dijadikan kader bagi umat Islam yang moderat yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin.
Dari sini sudah jelas bahwa Al-Azhar berada di pihak yang moderat. Namun begitu Al-Azhar tetap memiliki prinsip dan pedoman untuk dijalankan oleh mahasiswa dan alumninya. Al-Azhar pun memilih beberapa ideologi yang sudah penulis sebut diatas.
Ideologi dan kurikulum Al-Azhar berpedoman menurut tiga sisi, dari sisi akidah Al-Azhar berpedoman pada madzhab yang didirikan oleh Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari(selanjutnya disebut Asy’ariyah atau Asya’irah) dan madzhab yang didirikan oleh Abu Mansur Al-Maturidi (selanjutnya disebut Maturidiyah). Dari sisi fikih (ibadah dan muammalah) Al-Azhar memakai empat mazdhab fikih yang ada di dalam Islam yaitu Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, dan Hanabilah. Dan dari sisi akhlak Al-Azhar berpegang pada tariqah Sufiyah Islamiyah, tariqah-tariqah sufi yang masih sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Sekarang muncul pertanyaan jika memang moderat kenapa mengambil madzhab teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah? Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mencoba membawa pembaca menelusuri secara singkat perkembangan ilmu akidah atau bisaa disebut ilmu kalam di dunia Islam. Pada abad pertama Islam perselisihan masalah akidah atau kalam tidaklah kentara, yang ada hanya perselisihan politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib kw., dan Muawwiyah berujung munculnya madzhab Syiah, Khawarij, dan Murji’ah. Namun seiring meluasnya wilayah Islam dan masuknya beberapa penganut agama lain ke dalam Islam yang tentu masih menyisakan dalam pikiran mereka sebagian ajaran-ajaran agama mereka sebelumnya, dan juga gerakan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab sebagai bahasa negara Islam saat itu mulailah muncul beberapa aliran pemikiran dalam Islam. Hinggapada abad kedua Hijriyyah muncul Wasil bin Atha’ dengan pemikiran Muktazilahnya sebagai reaksi atas tiga madzhab besar yang menghegemoni Dinasti Ummayah saat itu yaitu Qadariyah, Jabariyah, dan Murji’ah. Aliran yang didirikan Wasil binAtha’ ini bisa disebut sebagai aliran rasionalis Islam yang mencoba menengahi problem naql (teks) dan ‘aql (akal) saat itu. Karena pada generasi-generasi setelah Wasil bin Atha’ para ulama Muktazilah lebih cenderung mendewakan akal dari pada nas, maka Abu Al-Hasan Al-Asy’ari yang notabene murid dari salah satu tokoh Muktazilah yang bernama Al-Juba’i, menyatakan diri keluar dari Muktazilah setelah beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw. dan dalam mimpi tersebut Rasulullah saw. menasihati Abu Al-Hasan Al-Asy’ari untuk menggunakan nas (Al-Qur’an dan Al-Hadits) dengan tetap menggunakan akal pikiran sebagai penyeimbang akidahnya. Dan barangkali karena Asy’ariyah berada pada titik tengah di mana tetap menggunakan nas Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai acuan akidah serta menyeimbangkannya dengan rasionalitas, maka Al-Azhar memilih memakai madzhab kalam Asy’ariyah dan Maturidiyah yang notabene mempunyai banyak kesamaan dengan Asy’ariyah.
Jika di atas sudah penulis jelaskan bagaimana posisi Al-Azhar dan bagaimana ideologinya, maka pertanyaan terakhir adalah alumni seperti apa yang diharapkanAl-Azhar? Al-Azhar tidak pernah membaiat alumninya untuk menjadi dai, tapi mewajibkan alumninya untuk menyebarkan Islam yang moderat di setiap lini kehidupan. Artinya alumni Al-Azhar tidak harus jadi dai atau pengajar. Mereka boleh saja jadi bisnisman, wirausahawan, pejabat pemerintahan, dan lain sebagainya. Namun yang terpenting adalah mereka bisa membawa dan menunaikan misi Al-Azhar yaitu menyiarkan Islam moderat yang rahmatan lil ‘alamin. Alumni Al-Azhar haruslah berpandangan luas tentang Islam dan peradabannya. Harus dalam menguasai ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan Hadits. Meski harus mengambil salah satu madzhab alumni Al-Azhar harus jauh dari fanatisme mebuta. Alumni Al-Azhar harus tampil moderat di tengah masyarakat Islam dan memberikan banyak solusi kepada mereka. Bukan sebaliknya mengkafir-kafirkan golongan yang tidak sepaham dengannya atau membid’ahkan amalan-amalan suatu kelompok masyarakat yang sebenarnya merupakan bagian dari tradisi Islam lokal.
Maka dari itu jika ada alumni yang tidak sesuai dengan ciri-ciri di atas, bisa dipastikan mereka adalah alumni yang tidak diharapkan oleh Al-Azhar. Namun meski mereka berseberangan dengan Al-Azhar, Al-Azhar masih berbaik hati dengan memberikan berbagai gelar kepada mereka, mulai dari Lc, MA, hingga Dr. Ini adalah bukti kemoderatan dan ajarah kasih-sayang Al-Azhar kepada umat Islam, dimana walau sudah ditikam dari belakang dan bahkan diserang secara terang-terangan Al-Azhar masih tetap memaafkan dan bahkan masih mau memberikan ijazah pada mereka. Semakin mereka menyerang Al-Azhar semakin nampak betapa tolerannya Al-Azhar. Dan akhirnya nampak siapa yang sebenar-benarnya memperjuangkan Islam dan siapa yang memperjuangkan hawa nafsunya sendiri.
Penulis secara pribadi menghimbau kepada seluruh elemen mahasiswa Al-Azhar dan alumni Al-Azhar yang masih berpegang pada ideologi asli Al-Azhar untuk menyampaikan kepada masyarakat tentang hakikat Al-Azhar, membuat opini publik sebanyak-banyaknya melalui media apapun tentang hakikat ideologi Al-Azhar yang orisinal, agar almamater kita tercinta ini terhindar dari fitnah IM dan Salafi-Wahabi.
Dan bagi masyarakat awam yang kebetulan mendapat bimbingan agama dari salah satu alumni Al-Azhar mohon dicek kembali apakah dia masih memegang prinsip-prinsip Al-Azhar yang saya sebutkan di atas atau tidak. Sehingga nantinya masyarakat bisa memilah mana permata mana kerikil, mana Azhari mana Salafi-Wahabi?
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk(munafik) dari yang baik (mukmin).” (QS: Ali ‘Imran: 179)
*Mahasiswa tingkat akhir, fakultas Ushuluddin, Akidah Filsafat. Universitas Al-Azhar
Nasr City, Kairo 28 April 2013

Wahaby-Zionis
Dalam buku yang berjudul “Mulia Dengan Manhaj Salaf” yang ditulis oleh Ust. Yazid Ibn Abdil Qodir. Dalam buku tersebut pada bab terakhir dengan gamblang Ust. Yazid Jawas mengelompokkan Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai kelompok sesat dan menyesatkan.
Sebuah buku yang kontradiktif dengan buku yang mereka ciptakan sebelumnya yang merupakan Tahrif (penyimpangan) dari al Ibanah yang berjudul “Buku Putih Imam Al Asy’ari” dengan penerjemah Abu Ihasan Al Atsari, penerbit At Tibyan.

Ketika Fatwa Wahabi/Salafi Bergandeng Mesra dengan Misi Zionis

Beberapa tahun yang lalu ketika usiaku masih belasan tahun dan sedang mengenyam pendidikan di sebuah Pesantren, aku mendapati selebaran yang berisi peringatan terhadap kaum Muslimin untuk mewaspadai misi Zionis, diantara yang aku ingat adalah :
1. Pisahkan umat Islam dari ulamanya
2. Pisahkan umat Islam dari Nabinya
3. Pisahkan umat Islam dari kitab sucinya (Al-Quran )
4. Pecah belah dan hancurkan!
Beberapa tahun setelah aku kembali ke kampung, aku dapati fenomena Salafi Wahabi. Dan ketika aku mencermati dogma (ajaran) serta cara mereka “berdakwah” (menyampaikan ajarannya), timbul kecurigaan kuat mereka adalah kaki tangan Zionis. Kecurigaanku bukan tanpa alasan, berikut mari bersama kita cermati secara kritis dengan fikiran dan hati yang jernih tentang beberapa fatwa Salafi Wahabi sekaligus efek yang terjadi dalam konteks keselarasan fatwa-fatwa tersebut dengan misi Zionis:
Misi 1: Pisahkan umat Islam dari ulamanya
Misi ini bertujuan agar umat Islam kehilangan central command/komando yang terpusat dalam segala hal, baik dalam berpolitik, bersosial, beragama, serta menghilangkan metode yang benar dalam memahami agama. Mereka sadar bahwa kegagalan mereka selama ini diakibatkan oleh kuatnya semangat dan persatuan kaum Muslimin dalam melawan mereka. Dan semangat serta persatuan kaum Muslimin tersebut faktanya berpusat pada para ulama. Fakta terbaru, adalah betapa dahsyat akibat/efek dari “Resolusi Jihad” (22-Okt-1945) yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari (NU) juga betapa dahsyat dampak dari seruan para ulama dalam menumpas PKI.
Fatwa Salafi Wahabi yang disinyalir “mendukung” misi tersebut diantaranya adalah :
1. Sesatnya Mazhab Asya’irah/ Asy’ariah dan Maturidiah
Bukti paling dekat atas fatwa tersebut adalah buku yang berjudul “Mulia Dengan Manhaj Salaf” yang ditulis oleh Ust. Yazid Ibn Abdil Qodir. Dalam buku tersebut pada bab terakhir dengan gamblang Ust. Yazid Jawas mengelompokkan Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai kelompok sesat dan menyesatkan. Sebuah buku yang kontradiktif dengan buku yang mereka ciptakan sebelumnya yang merupakan Tahrif (penyimpangan) dari al Ibanah yang berjudul “Buku Putih Imam Al Asy’ari” dengan penerjemah Abu Ihasan Al Atsari, penerbit At Tibyan.
2. Propaganda : Para Ulama adalah Manusia yang Tidak Ma’shum (Tidak terjaga dari salah)
Propaganda “Para ulama adalah manusia yang tidak ma’shum” adalah “Kalimatu Haqqin Uriida Biha Al Bathil” (pernyataan yang benar yang disertai misi batil). Propaganda ini berperan untuk mendorong umat Islam keluar dari mazhab-mazhab yang mu’tabar (diakui) dan beralih kepada “mazhab” yang mereka bangun (mazhab yang tidak bermetode dalam memahami Al-Quran dan Sunnah). Propaganda ini mengesampingkan pesan Allah: “Maka bertanyalah kalian pada Ahlidz Dzikri jika kalian tidak tahu” (An Nahl : 43 dan Al Anbiya’ : 7)
Efek lain dari propaganda ini dapat Anda buktikan dalam sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof enggan menerima pendapat para ulama dengan alasan mereka tidak ma’shum.
3. Tuduhan “Ta’ashub” (Fanatik) kepada Para Penganut Mazhab
4. Tuduhan “Ghuluw” (Berlebihan) Bahkan Musyrik terhadap Umat Islam yang Menghormati Para Ulama denga Cara Mencium Tangan
5. Haramnya Tawasul dengan Orang-orang Shaleh yang Sudah Meninggal
Efek lain yang ditimbulkan dari fatwa-fatwa dan propaganda tersebut diantaranya adalah:
a. Hilangnya atau setidaknya berkurangnya trust/kepercayaan umat Islam terhadap para ulama khususnya yang bermazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah semacam Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam An-Nawawi, Imam Al-Haitami, Imam Al-Qurthubi, bahkan sebagian besar Pengarang “Al Kutub As Sittah” serta ratusan ulama yang lain.
b. Membuang semua/sebagian pendapat para ulama Asy’ariyah & Maturidiyah yang tidak sesuai misi mereka.
c. Bebas men-tahrif (mengubah) karya-karya mereka yang tidak sesuai keinginan dan bahkan membakarnya, karena dianggap karya orang-orang sesat.
d. Menggantikan peran/pendapat para ulama sejak abad ke-3 hingga abad ke-19 (Munculnya Muhammad Ibnu Abdil Wahab) dengan para “ulama” yang mereka ciptakan diabad 19 dst.
e. Cukup banyak ulama yang pemikirannya dijauhkan dari umatnya.
f. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi rasa hormat umat Islam terhadap para ulamanya.
g. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi kepatuhan umat Islam terhadap para ulamanya.
h. Menghilangkan metode yang benar dalam mamahami Islam. (hal ini penting untuk misi yang lain)
i. Ibarat hutan yang telah ditinggal “Macan”nya, dan yang tersisa hanyalah “Macan” ompong piaraan dengan fatwa-fatwa aneh.
j. dll
Misi 2: Pisahkan Umat Islam dari Nabinya
Misi ini penting, mengingat ikatan emosional umat Islam dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah faktor fital yang mampu membuat  umat Islam rela mengorbankan segalanya.
Adapun fatwa dan tindakan yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut adalah:
1. Haramnya Bepergian Menziarahi (Qubbatul Khadra’) Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Anda yang pernah menziarahi Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti tahu efek emosional bagi penziarah baik ketika berziarah maupun sesudahnya. Betapa hati yang normal takkan mampu membendung air mata ketika berada di pusara mulia beliau. Rasa haru, bahagia, malu, rindu, bangga, terimakasih, bercampur dalam sebuah hidangan istimewa berupa “Mahabbah” (rasa cinta) yang tidak dapat diungkapkan dengan kata.
Anehnya menurut teman-teman yang pernah muqim di Saudi, ada ulama kebanggaan Wahabi (maaf tidak disebut nama karena orangnya sudah meninggal) yang bersyukur karena tidak pernah menziarahi makam Nabi selama 25 tahun tinggal di Madinah,� hingga para santri di sana berkata: “Memang Nabi nggak mau ketemu Anda”.
2. Haramnya Pelaksanaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Mereka sadar betul akan efek tumbuhnya rasa cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui pujian dan pembacaan sirah Nabi yang ada dalam kitab-kitab maulid yang identik lebih mengangkat sisi Irhash dan Mukjizat Nabi. Fakta telah membuktikan efek Maulid yang terjadi pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi, bahkan fakta terbaru adalah betapa dahsyat efek “Shalawat Badar” dalam membakar semangat umat Islam guna menumpas PKI.
3. Haramnya Tawasul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Wafat
Hal ini jika kita cermati argumentasi mereka kita dapati sebuah fakta: Menghilangkan atau setidaknya mengurangi pemahaman umat Islam terhadap Nabinya dalam aspek Nubuwwah dan lebih menonjolkan aspek Basyariyah Nabi (sisi kemanusiaan). Bukti dari efek tersebut adalah pernyataan ulama kebanggaan mereka yang menyatakan bahwa tongkatnya lebih berguna daripada Rasulullah yang sudah wafat.
Dan bukti lain adalah sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof tidak puas ketika diajukan hadits shahih dari Imam Al-Bukhari dengan dalih Nabi Muhammad bisa salah berdasar QS: ‘Abasa.
4.� Menghilangkan Situs-Situs Bersejarah yang Berkaitan Dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Para Sahabat
Efek yang ditimbulkan dari tindakan tersebut adalah: Hilangnya bukti fisik perjuangan Rasulullah dan para sahabat yang dapat membangkitkan semangat dan keimanan umat Islam.
Jika dalam penghancuran situs-situs bersejarah tersebut Salafi/Wahabi beralasan “Syaddudz Dzari’ah” (mencegah kemungkaran yang mungkin ditimbulkan) yakni sikap “Ghuluw” (berlebihan), maka faktanya mereka mengalihkan sikap “Ghuluw” tersebut kepada Syekh Al ‘Utsimin dengan membangun museum Yayasan Al ‘Utsaimin. Dimana dalam museum tersebut tidak hanya karya sang Syekh yang dihormati, bahkan pena terakhir sang Syekh-pun ditempatkan di tempat khusus dalam etalase mahal. aneh.
Misi 3: Pisahkan Umat Islam dari Al-Quran
Kita semua tahu arti dan peran Kitab Suci bagi semua pemeluk agama, maka sangat wajar jika misi ketiga ini menjadi misi penting. Adapun fatwa dan propaganda Salafi/Wahabi yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut diantaranya adalah:
1. Haram Mengikuti Mazhab Tertentu
Silahkan Anda baca Fatwa Syekh Albani tentang masalah tersebut, dan silahkan Anda bayangkan ketika kaum awam melepaskan diri dari tuntunan para ulama dalam memahami Al-Quran.
Bukti akan adanya efek tersebut adalah propaganda yang didengungkan MTA, yakni : “Ngaji ko’ kitab kuning, Ngaji ya Al-Quran sak maknanya”. Dan akibatnya fatwa-fatwa mereka ngawur dan paling ironis dengan enteng mereka mengafirkan sesama saudara Muslim.
2. Jargon Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah
Coba kita cermati akibat yang ditimbulkan dari keberanian orang-orang awam menginterpretasikan Al-Quran tanpa sarana ilmu yang memadahi. Disamping pemahaman yang kontradiktif, mereka telah lepas dari nafas Al-Quran itu sendiri, sehingga begitu mudah mereka mengafirkan sesama umat Islam.
Hal inilah yang diwanti-wanti Rasulullah dalam sabda beliau:
يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ .
“Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ciri khas mereka?” Rasul menjawab “Bercukur gundul”. (Sunan Abu Daud : 4765)
سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sebaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Bukhari Muslim)
Selanjutnya misi Zionis:
4. Pecah Belah Lalu Hancurkan!!!
Inilah tujuan pokok dari misi-misi penghantar yang kami sebutkan di atas. Sebagaimana di wanti-wantikan Allah dalam Al-Quran :
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Dan orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka” (QS : Al Baqarah:120)
Sedang tindakan kongkrit dalam mendukung misi ini adalah menciptakan kelompok yang menyimpang yang mereka lindungi atas nama HAM semisal “AHMADIYAH” di India, dan disaat bersamaan mereka ciptakan “WAHABI” di Timur Tengah, sebuah kelompok yang berhasil membuat umat Islam saling menghujat, saling mengkafirkan, dst.
Lantas adakah korelasinya misi Zionis tersebut dengan fatwa dan atau propaganda diatas? Mari kita cermati bersama:
Apakah jadinya ketika umat Islam sudah tidak lagi menghormati figur-figur yang dapat meredam pertikaian dan mempersatukan umat, yakni para ulama? Dan apa jadinya ketika umat Islam memandang dan memahami Nabinya hanya dari aspek Basyariyah? Dan apa jadinya ketika umat Islam yang tidak memiliki sarana ikut-ikutan berijtihad dan mengesampingkan tuntunan para ulama?
Fakta yang sudah di depan mata adalah� PERPECAHAN UMAT ISLAM !
Wal ‘Iyaadz Billah…(Mundzir Ahmad)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar